Blog

Menurunkan batas privasi

Percayalah, menjual furniture tidak sesimpel permasalahan apakah konsumen anda menyukai produk anda atau tidak. Permasalahan paling simpel adalah mencari tahu karakter dan selera pelanggan agar anda bisa memilihkan furniture yang tepat untuk mereka. Tapi, tidak semua orang tahu karakter dan selera mereka. Jadi kadang-kadang saya merangkap profesi sebagai konselor. Kadang-kadang, saya berasa mesti alih profesi jadi wasit antara sepasang insan yang kekeuh dengan pilihannya masing-masing. Yang paling sering juga, mesti bertebal-tebal muka menghadapi bapak-bapak yang udah bete membayangkan duit yang mesti dikeluarkan sementara si istri masih bersemangat memilih-milih barang. Satu tahun jualan saya bikin satu novel drama.

Tidak terlalu berat sebenarnya, jika mood saya sedang baik. Tapi dalam keadaan mood berantakan, rasanya mau balik lagi saja jadi buruh komputer. “Why don’t guys just solve your problem at home and come back when you already have choice?”.  Sejenis itulah.

Karena pada dasarnya saya mudah sekali terpengaruh oleh perubahan sikap dan mood orang disekeliling saya. Jadi gampang merasa tidak nyaman. Dulu waktu bekerja, saya lebih memilih langsung menjaga jarak ketika berada dalam keadaan tidak menyenangkan yang tidak berkaitan dengan saya.  Hemat energi, udah ga muda lagi. Apalagi kalau saya sudah ada tanda-tanda muncul mood destruktif, langsung masuk benteng.

Setelah alih profesi seperti ini, saya terpaksa mentelaah kembali sikap saya ini. Karena jaga jarak jelas bukan pilihan yang bisa saya ambil. Mesti kejar setoran bok. Memaksakan diri rasanya juga seperti bom waktu.

Saya lupa entah kapan mendapatkan ilham.

Am I being too selfish and self oriented? Why would I make everything about me? Saya pikir, mungkin, saya bersikap terlalu egois belakangan. Terlalu menjaga privasi jadinya malah kebablasan. Agak mepet ke sikap tidak mau tahu. Ujung-ujungnya kurang berempati terhadap keadaan orang lain. Mungkin ini yang membuat saya rada kewalahan ketika harus berinteraksi banyak dengan orang lain seperti sekarang. Because I don’t care much about them. Perhaps I don’t want to know much about them. Dan saya lalu menyadari, pilihan sikap saya ini tidak sehat dan ga bisa diteruskan jika saya mau bertahan dalam pekerjaan yang saya jalani saat ini.

Jadi saya memutuskan untuk sedikit menurunkan batas dan membuka diri. Trying to be more care about people even the one I just met and trying to get to know them. So that I could connect to them and make them know that they can trust me. Tujuan utamanya agar saya bisa lebih enjoy menjalani profesi saya ini, tujuan sampingannya biar transaksinya jadi. haha. (ups).

 

Advertisements

Adaptasi Awal

Menjadi mahasiswa teknik lalu menjalani profesi sebagai orang teknik membuat saya terbiasa menjadikan logika sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Mungkin karena saya selalu berada di dalam lingkungan diciptakan dan dikemas sedemikian rupa dengan mengeliminasi sebanyak mungkin parameter-parameter yang tidak dapat dikontrol. Input terukur dan hasilnya selalu dapat diprediksi.

Kenyataannya diluar sini kebanyakan hal-hal tidak berjalan sesuai logika.Dan ini, membuat saya lumayan kewalahan dimasa-masa transisi saya. Saya sering kali menghadapi situasi yang tidak menyenangkan yang menurut logika saya bisa diselesaikan dengan mudah dalam beberapa keputusan. Tapi kenyataannya, ada banyak hal yang tidak dapat saya kontrol diluar sini. Tidak semua orang menerima logika yang saya miliki dan tidak mau menjalankan solusinya. Akhirnya, saya mesti sedikit memutar jalur dengan melakukan beberapa penyesuaian disana dan disini agar permasalahan selesai. Permasalahannya pada akhirnya selesai juga sih, tapi dengan beberapa tindakan yang (menurut logika saya) tidak perlu dilakukan, menghabiskan energi, waktu, dan yang paling utama, biaya.

Jika diawal-awal hal seperti ini selalu bikin saya misuh-misuh, kesini-kesininya saya belajar buat legowo. Bukan menjadi mudah menyerah, tapi lebih cepat move on ketika keadaan tidak sesuai dengan yang saya usahakan, lalu secepat mungkin mencari lain.
Atau kalau memang tidak punya solusi, let things go.

 

 

 

Menjadi Tua

Ada salah satu petikan dalam doa yang disunahkan dibaca dalam dzikir pagi yang belakangan selalu membuat saya bergidik setiap membacanya :

  رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ

( Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua)

 

Mungkin karena ini menjadi salah satu ketakutan besar dalam hidup saya belakangan, menjadi tua. Hahaha. Lebay, tapi beneran. Mungkin karena dari semenjak kuliah, rasanya waktu mendadak berjalan cepat sekali. Seminggu, sebulan, setahun, berlalu begitu saja. Keponakan yang baru kemarin digendong-gendong tau-tau udah masuk sd. Tau-tau udah lebih lima tahun lulus kuliah. Tau-tau udah 10 tahun reunian kuliah. Tau-tau udah lebih setahun resign kerja. Dan sederatan tau-tau lainya. Jadi kemungkinan besar (kalau dikasih rejeki umur panjang) menjadi tua akan terjadi dalam waktu sekejap mata.

Diusia yang sudah melewati seperempat abad ini, saya mulai menyaksikan banyak sekali orang-orang yang dulu begitu bertenaga (dan beberapa berkuasa), lalu sekarang menjadi berdaya dan sangat berkegantungan dengan orang lain. Tiap kali mendapati hal ini hati saya rasanya ‘nyes’. Dunia benar-benar berputar. 

Tapi saya juga menyaksikan beberapa orang yang hingga akhir hembusan nafasnya masih berkarya memberikan manfaat bagi orang disekitarnya. Yang energi positifnya menular kemana-mana sehingga membuat orang-orang berpikir darimana beliau mendapatkan energi seperti itu di usia tuanya. Yang kepergiannya benar-benar membuat banyak orang kehilangan.

Kalau ditanya, tentu saja saya mau jadi contoh saya yang kedua. Tapi lalu, bagaimana bisa memastikannya?

Karenanya saya pikir doa tadi menyentuh sekali, memohon rezeki untuk masa tua dalam bentuk terhindar dari kejelekan dan kemalasan, karena memang fitrahnya hari tua memang seperti itu. Dan apa lagi yang bisa membuat kita terhindar dari fitrah seperti itu kecuali belas kasih dan rejeki dari Allah SWT?

 

 

Mumbling

Saya cukup pede ketika memutuskan untuk memulai Alita Home meskipun belum pernah benar-benar terjun dibisnis furniture. Saya fikir nanti bisa kok belajar sambil jalan, dan kemudian saya merasa masih punya cukup ilmu dasar karena sudah biasa melihat orang bekerja dibengkel dirumah. Tapi ternyata, ya ampun, pengetahuan saya tentang proses produksi dan hal-hal teknis dibelakang layar benar-benar pas-pasan sekali. Dan hal ini terkadang membuat saya frustrasi karena keterbatasan pengetahuan membuat saya sering kali salah mengambil keputusan. Saya ingat sangat gegalapan diawal waktu proses pembangunan karena harus bekerja dilapangan dan berurusan dengan orang-orang lapangan. 3,5 tahun jadi engineer kantoran merubah banyak hal tentang saya. Won’t bother me this much if only wrong decision doesn’t lead to bigger expenses.hahaha. Di masa-masa perjuangan seperti ini, tiap rupiah terasa sangat berarti.

Well, starting new is never easy. Mengingat masa proses saya dahulu diawal-awal berkerja dikantor sebelumnya, juga tidak mudah. Membaca puluhan manual, mengejar-ngejar senior, melakukan kesalahan, dimarahin bos sampai menangis diam-diam. Tapi mungkin dulu karena beban mentalnya beda dan kesalahannya tidak terasa langsung dampaknya, jadi perjalanannya tidak terlalu membekas dalam memori saya.

Tapi tentu saja saya ga ada pilihan. Selain berdoa semoga hati saya dilapangkan dan pikiran saya dijernihkan, biar bisa tetap berjalan maju dengan segala keterbatasan yang ada.

Awal Baru (Lagi)

Sekitar dua setengah tahun lalu, disebuah perjalanan, saya memberitahu abang rencana saya, bahwa jika dalam waktu setahun kedepan tidak ada perkembangan yang signifikan dipekerjaan kantor saya, atau saya masih belum mendapatkan kesempatan buat sekolah lagi, saya mau ikut membantu abang mengelola usaha keluarga dirumah. Setahun kemudian, abang menagih ketika saya masih belum mendapatkan kesempatan yang lebih baik dikedua hal tersebut. Saya meminta waktu lebih, masih ingin mengusahakan keinginan saya untuk melanjutkan sekolah. Awal tahun kemarin,si abang menagih saya lagi. Now with kakak, and with new plan. (FYI, kakak itu panggilan saya untuk saudara ketiga saya dan abang panggilan untuk saudara kedua). Mereka menceritakan niat mereka untuk membuat toko di Pekanbaru pengembangan dari usaha yang sudah ada sebelumnya yang dikota kelahiran saya, enam jam perjalanan dari kota Pekanbaru.  Waktu itu statusnya si kakak masih bekerja di duri, sekitar 4 jam perjalanan dari Pekanbaru. They asked me, why don’t I join them. Well, they asked for formality. Actually, They insist that I should join them. Agak sedikit kaget awalnya karena merasa ditodong, dan ini pertama kalinya saudara saya menginterfensi saya untuk sebuah keputusan besar dalam hidup.

Berlatar belakang keluarga pedagang, tentu saja saya memiliki keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Tapi sampai awal tahun lalu, plan saya untuk fulltime berusaha sendiri masih saya taruh ditimeline usia 30-an. Saya masih ingin sekolah dan melanjutkan pendidikan formal saya. Tapi ketika kakak dan abang datang dengan tawaran seperti itu, saya seperti mendapat pilihan baru. Saya mencoba menimbang-nimbang kebaikan dan keburukan dari pilihan tersebut dan konsekuensi jika saya mengambilnya.

Saya tahu ada banyak kebaikan jika saya mengambil pilihan tersebut. Yang paling utama tentu saja adalah pilihan ini akan membuat saya sedikit lebih dekat dengan rumah dan keluarga. Saya menyadari bawa orang tua saya semakin renta setiap kali pulang dan itu membuat saya sedih, semenjak setelah lulus SMA saya tidak pernah lagi berada didekat mereka lebih dari dua minggu. Dan rasanya saya belum bisa berbuat apa-apa buat mereka. Kegalauannya, adalah keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan formal masih begitu kencang, keinginan masa kecil yang terlanjur tertanam dalam hati saya. Dan lagi meninggalkan jalur ilmu yang sudah saya geluti bertahun-tahun, ada semacam perasaan tidak rela.

Saya melewati waktu sebulan setelahnya mencoba mencari-cari tahu tentang apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya. Apa yang benar-benar layak untuk diperjuangkan. Konsekuensi dari setiap keputusan yang saya ambil.  Sebulan kemudian, akhirnya saya memantapkan hati untuk menjawab proposal kakak dan abang, “Ok, I am in”. 

Saya masih melanjutkan pekerjaan dikantor beberapa bulan setelahnya. Tentu saja sambil menyusun rencana dan menyiapkan mental. Saya baru memberanikan diri untuk menyampaikan keputusan saya ini ke teman-teman terdekat pada bulan April. Reaksinya, seperti yang bisa dibayangkan. “Kenapa Faaaa?”, “Yakin Fa?”, “Beneran Fa?”. Hahaha. Tentu saja tidak semuanya begitu. Beberapa orang langsung mendukung ketika saya memberitahu keputusan ini. Tapi meski sudah yakin, Saya mengundurkan rencana resign saya dari pertengahan Juli ke akhir Agustus.  Masih ingin bersenang-senang dengan teman-teman dan menikmati kehidupan saya sebagai pegawai kantoran sedikit lebih lama lagi. Tulisan saya ini sesunguhnya merupakan salah satu bentuk kegalauan saya waktu dalam proses mempersiapkan mental. Tanggal 28 Agustus menjadi hari terakhir saya sebagai pegawai kantoran. Setelah tanggal itu, kehidupan saya berjalan cepat sekali nyaris tidak terasa. Dan sekarang, sudah hampir dua tahun dari semenjak saya mengambil keputusan itu.

Seorang teman bertanya, ” Pernah menyesal ga?”.Tentu saja ada masa-masa dimana saya kangen kehidupan lama saya, dan orang-orang disekelilingnya. I don’t make many new friend in this city which make me a bit lonely at times. Dan ga bohong saya kadang rindu vibrasi dan suasana kehidupan dikota besar.Haha.  Tapi menyesal? Hmmm, tidak. Ini perjalanan luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan akan saya jalani. I have bunch of stories to share. Perhaps later.

Sebenarnya, setiap saya mendengar kabar ada teman yang melanjutkan sekolah lagi perasaan ingin itu muncul lagi. Tapi tidak cukup besar untuk membuat saya menyesali keputusan ini. Saya cuma menyelipkan doa, semoga suatu saat nanti kesempatannya datang lagi untuk saya.

—–

Akhirnya mendokumentasikan kisah awal kehidupan saya sebagai saudagar. Seenggaknya kalau nanti mau bikin autobigraphy udah ada kerangka tulisannya untuk satu chapter :p.

Halo

My finger hanging above the keyboard for about five minutes before I could type this one simple sentence. How shameful. Writing become more difficult by time for me. Probably because I don’t read enough lately.  Nowaday it’s very hard to make my brain stay still to finish one book. I keep having this urge to check my social media feed whenever I hold a book.

Anyway, I really think I should getting back this old habbit of writing for the sake of my insanity. So here I am trying to write again after one year. Wish me perseverance!

 

The Inevitable

I stood up in silence for a quite a long time when asked about what make me hesitate to take that one decision that obviously better for me. Trying to find an answer that won’t make me look like a coward. But there wasn’t one. The fact is, I am afraid that I can not manage the effects of my decision. I am afraid of change. What a shame, considering  I used to tell that quick adaptation is one of my strength points.

But world never wait for us to be ready. As we wait for that right time to come, everything already change.

 

Random Rabu

Yang namanya kontemplasi sumbernya memang datangnya dari mana saja. Kontemplasi terakhir saya dari sebuah video tentang “Bagaimana Merebus Air” dengan quotenya “A hot stove is the third most dangerous thing in the kitchen, next to dulled knives and complexities of human ego”.

Complexities of human ego.

Frasa ini mennyentil saya tentang sikap saya yang cenderung tidak sabaran terutama ketika menghadapi sikap dan keputusan orang yang menurut saya ga logis. Lidahnya pasti gatal pengen komen. Kadang-kadang dibarengin sarkasme. Dan saya biasanya berlindung dibalik alasan, ” biar orangnya berubah sihhh”, kalo ditanya kenapa saya melakukan hal seperti itu.

Yang baru saya sadari kemudian di usia 26 tahun ini (telat banget sih beb), ada banyak faktor yang menyetir manusia dalam mengambil keputusan. Bagi kebanyakan orang logika hanya satu faktor kecil. Pada kenyataannya, tindakan dan keputusan kita sehari-hari lebih banyak di dominasi oleh ego.

Jadi ketika saya mengusik seseorang yang sedang didominasi oleh egonya dengan logika saya, menurut sosodara apa yang akan terjadi? Alih-alih bisa merubah orang, adanya saya di betein. Syukur-syukur ga dimusuhin.

Human egos are complex indeed. Dan yang telat saya sadari bahwasanya kemampuan untuk menyikapi ego lawan interaksi dengan baik dan benar adalah keahlian hidup yang harus terus-terusan diasah. Susah. Triknya banyak bener, dan setiap orang berbeda-beda. Tetapi ada saja loh beberapa orang yang sangat natural dalam melakukannya, menyikapi ego lawan interaksinya. Orang-orang yang selalu bikin saya penasaran. Mereka makan apa, sih? Long way to go for me.  

#badwritingisbetterthannothingatall