Seputar Menulis

Saya pikir, belajar menulis itu hampir mirip dengan melakukan pendekatan pada wanita. Susah-susah gampang. Pada momen yang tepat, menaklukannya hampir seperti menjetikkan jemari. Tapi ketika kamu pikir semua sudah dibawah kendali, si wanita menjaga jarak begitu saja tanpa kamu tahu apa penyebabnya. Fase berikutnya adalah, perasaan “ditolak” menguasaimu, lalu untuk memulainya lagi rasanya berat sekali. Hingga kamu berhasilkan memberangus pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di pikiran.

Tapi itu cuma analogi sok tau saya saja, kenyataannya saya belum pernah melakukan pendekatan pada wanita. Tapi kurang lebih itulah apa yang saya coba sampaikan. Rasanya saya dalam beberapa bulan ini sedang berada di fase ketika apapun jenis pendekatan yang saya lakukan, si wanita-dalam hal ini rangkaian kata-kata, tak terjangkau. Jadi bukan karena kepadatan kegiatan, bukan sama sekali.

Sungguh ini bukan masalah besar, seandainya saja saya dahulu dimasa-masa muda membara tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Karena dari sekian banyak cita-cita yang mulai saya lepaskan dengan dalih “mulai menjadi realistis”, yang satu ini melekat diotak saya. I just really want to see at least one of my high school dreams come true *tuh kan jadi curhat*.  Jadi itulah kenapa saya berusaha menjaga blog ini. Kalau saya belum bisa merealisasikan mimpi itu sekarang, setidaknya saya berinvestasi dahulu walau kecil-kecilan. Sedihnya, untuk melakukan itupun saya belum bisa konsisten.

Tapi tentu saja selalu ada pelajaran moral yang bisa dipetik dari setiap keadaan. Karena sudah pedekate cukup lama, saya mulai mengerti pola-pola pikiran saya, kenapa saya bisa rajin menulis, kenapa saya bisa malas menulis. Seperti, frekuensi menulis saya berbanding lurus dengan frekuensi membaca saya. Juga frekuensi interaksi saya dengan alam dan manusia lainnya-interaksi terkait kepentingan pekerjaan kantor tidak termasuk.Juga tipe dan topik tulisan saya, biasanya banyak terpengaruh dengan topik apa yang sering saya baca diwaktu tersebut. Hal-hal seperti itu.

Saya juga mulai mengerti, bahwa seperti hal-hal lainnya di dunia ini, belajar menulis itu butuh proses dan selama proses itulah pelajaran-pelajaran bisa diambil. Susah memang mengalahkan diri sendiri ketika pikiran-pikiran negatif sedang melakukan blokade masal, tapi ya itu, proses. Pelajaran moralnya : mbok ya sabar kalo belajar.

~Cengkareng, 25 Desember 2015 1.02 am

lagi nungguin pesawat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s