Berburu Langit Timur (Labuan Bajo-Lombok, Bagian II)

Malam itu saya beberapa kali terbangun dari tidur, menyesali kenapa saya ga jadi bawa sleeping bag. Bertambah satu lagi pengalaman hidup baru saya, tidur di dek kapal modal bermodal sarung dan syal. Ga lagi-lagi.

Masih gelap ketika saya bangun pagi harinya, jam lima. Lampu-lampu kapal semuanya dimatikan dan orang-orang bergelimpangan tidur dimana-mana. Ruangan kapten masih gelap dan terkunci karenanya saya solat di space kosong di geladak atas, diantara gelimpangan orang-orang tidur. Jam setengah enam,  bulan masih menggantung penuh diatas laut, sedikit lagi tenggelam.Saya mengambil gambarnya lalu kembali melanjutkan tidur. Samar-samar saya merasakan kapal mulai bergerak.

IMG_1396

Kami dibangunkan oleh kru kapal, hampir  jam tujuh, saat sudah sampai di pulau Rinca destinasi pertama hari itu. Dan ternyata kami jadi yang terakhir bangun. Orang-orang sudah berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing dan matras-matras sudah di tumpuk di satu sisi.

Agenda pagi itu trekking mengelilingi pulau Rinca, oleh warga setempat dikenal sebagai Loh Buaya, salah satu pulau konservasi komodo di wilayah taman national Komodo. Kami diantarkan menggunakan boat kecil ke Dermaga karena kapal utama tidak bisa merapat.Untuk melakukan trekking di pulau ini, mesti ditemani oleh Ranger setempat. Di pintu masuk, kami disambut oleh komodo narsis ini.

IMG_1413

Para Ranger menginformasikan kami, komodo-komodo ini pada dasarnya tidak menyerang jika tidak merasa dalam keadaan berbahaya. Kami dibolehkan mengambil foto asalkan tidak terlalu dekat dan tetap tenang. Oh ya, konon katanya juga para Komodo ini sensitif terhadap warna merah dan bau darah, karenanya wanita yang sedang dalam periodnya harus dikawal lebih.

IMG_1415

Dari pos, drup kami kemudian dibagi atas 2 rombongan yang masing-masing ditemani oleh 3 ranger. Terdapat 3 pilihan jalur trek : short, medium, dan Long. Kami trekking melalui rute panjang, sekitar 5 km. Jalan pavingblock tersedia hanya beberapa ratus meter pertama perjalanan, berikutnya adalah jalan tanah dan beberapa kali melewati sungai. Jalur trekkingnya sebenarnya tidak terlalu berat , tapi udaranya yang tidak bersahabat. Di ujung perjalanan baju saya sudah basah oleh keringat. Tapi pemandangan di sepanjang perjalanan menyenangkan. Ini puncak perjalanannya sebelum kami memutar balik.

IMG_1433

Beberapa kali para ranger menunjukkan ke arah komodo yang menyaru dengan sekelilingnya, nyaris tidak terlihat. Di satu tempat kami melihat komodo yang sedang menggali Lubang untuk menyimpan telurnya. Kami juga menemukan kerbau hutan di sebuah aliran sungai, besar dan liat, tetap cool dan melanjutkan kegiatannya walau disorot dengan banyak kamera.

IMG_1439

Diperjalanan pulang, Ada sebuah pohon di perjalanan yang ditempeli dengan tengkorak-tengkorak kerbau, korban komodo kata para Ranger.Saya berjanji dalam hati ga akan pernah bikin komodo ngamuk.

Saya dan Dinna tidak membawa sepatu karena tidak mempersiapkan diri untuk trekking, kami cuma menggunakan sandal jepit. Tidak dianjurkan. Saya beruntung berhasil melewati trek dengan selamat, sementara dinna melewati seperempat akhir rute tanpa menggunakan alas kaki, sandal R*ebook kesayangannya ternyata tidak di desain untuk melewati tanah :p . Untung di pos peristirahatan ada yang menjual sandal jepit.

Jam 11 kami menyelesaikan kegiatan trekking dan kembali ke kapal. Destinasi selanjutnya adalah Gili Laba, +/-3 jam perjalanan dari pulau Rinca. Sepanjang perjalanan kami manfaatkan untuk mandi, istirahat, dan makan siang.

Membaca catatan perjalanan orang-orang, saya sudah mempersiapkan mental untuk tidak mandi dan membekali diri dengan tisu basah yang banyak. Tapi ternyata keran air tetap menyala sepanjang perjalanan. Setiap kamar mandi dilengkapi dengan shower dan selalu dalam keadaan bersih. Super deh krew kapal ini.

Kami sampai di Gili Laba jam dua siang. Matahari sedang terik-teriknya tapi laut biru toska memanggil-manggil. Sudahlah, pasrah menghitam. Kami naik ke atas bukit terlebih dahulu untuk mengambil foto dengan pemandangan Gili Laba utuh, biar seperti orang-orang. Tapi demi kemashlahatan umat saya posting yang ga ada modelnya saja.

IMG_1462

Setengah jam kami diatas lalu kami melanjutkan snorkeling. Kata krew kapal terumbunya sudah banyak yang rusak dibanding beberapa tahun lalu, tapi bagi saya pemandangan dibawah sana tetap saja menakjubkan. Foto-fotonya minta sama Dinna ya.

Tidak terlalu lama kami berenang, Dinna ternyata sudah naik lagi ke atas boat. Katannya ada ular laut yang berenang disisinya dan ikut mengejar ketika dia mempercepat berenang. Saya ikut-ikutan menyudahi. Tapi ketika krew kapal menawarkan mengantarkan ke spot yang katanya lebih oke, tetap saja kami tidak menolak.

Di spot kedua ini kemudian terjadi mission imposible dadakan, SAR Kamera. Kamera dinna lepas dari gantungannya ketika dia mau naik ke boat, kameranya jatuh cantik jadi teman para terumbu karang. Kami turun kembali ke air ditemani seorang krew berputar-putar di sekitar tempat kemungkinan kamera terjatuh. Tidak berhasil. Kami lalu menjemput beberapa orang sesama tamu kapal, lalu meminta bantuan mencari kamera.  Dan keputusan awak kapal meminta bantuan para tamu ternyata tepat sekali! Hanya dalam beberapa menit seorang berteriak-teriak sambal memegang kamera Dinna, “I Found it, I Found it”. Huwooooo.  Semua orang dalam misi nyaris-tidak-mungkin ini berekspresi senang dan lalu naik ke boat. Dinnapun akhirnya bisa tertawa kembali.

Kami kembali ke kapal dan kapal segera bergerak kami kembali. Destinasi selanjutnya adalah pulau Moyo, 16 jam perjalanan dari Gili Laba. Karenanya tidak ada lagi pemberhentian sampai besok pagi. Kami mengeringkan diri di geladak bawah sambil mengobrol dengan tamu yang telah menyelamatkan kamera dinna dan dengan teman-temannya. Dinna mentraktir minuman sebagai ucapan terima kasih.

16 jam berikutnya kami habiskan dengan makan-tidur-baca-ngobrol-makan-tidur-baca-ngobrol.

 ***

Tanggal 17 pagi kami sampai di dermaga Labuan Haji, dermaga kecil di pulau Moyo.  Pulau Moyo sudah termasuk ke wilayah Nusa tenggara Barat, 100% warganya memeluk agama Islam. Tujuan di pulau ini adalah sebuah air terjun kecil dengan jarak 30 menit berjalan kaki dari Dermaga. Ada sebuah air terjun yang lebih besar lagi di pulau ini tapi jaraknya terlalu jauh. Warga-warga yang berpapasan menyapa kami ramah, terlihat sudah terbiasa dengan turis-turis. Anak-anak ramai mengikuti kami, sesekali berusaha berinteraksi dengan para bule dengan sepatah-dua patah kata bahasa Inggris.

Begitu sampai di Air terjun bule-bule langsung membuka bajunya dan cuek berbikini ria serasa di pantai. Saya dan Dinna tidak berencana untuk mencebur ke air  dan ternyata air terjunnya begitu menggoda. Ada sebuah tali yang dapat digunakan untuk berayun diatas air terjun lalu menjatuhkan diri ke sungai dibawahnya. Sayangnya saya tidak mempersiapkan diri untuk berbasah-basah ria, karenanya Cuma menonton para bule-bule kegirangan berkali-kali bolak-balik menggunakan ayunan.

IMG_1476
Yang satu ini bikin saya iri dengan otot-ototnya.

Jam sepuluh kami kembali kekapal untuk menuju destinasi selanjutnya, pulau Keramat Kecil. Dua jam perjalanan dari Pulau Moyo. Lagi-lagi berenang saat matahari sedang cerah-cerahnya.  Terlanjur terbakar ya hitam sekalian deh. Sayangnya terumbu karangnya tidak sebagus spot-spot snorkeling sebelumnya.

IMG_1496

Sejam disini lalu kapal meneruskan perjalanannya menuju tujuan terakhir, pelabuhan Kayangan di Lombok timur. Di tengah perjalanan menuju Lombok, ada segerombolan lumba-lumba mengikuti kapal. Saya super excited, norak abis. Saya baru pertama kali lihat lumba-lumba :D.  Saking semangatnya saya bahkan tidak sempat mengabadikannya. Dinna sempat memvideokannya dan mempostingnya di Instagram.

Kami sampai di pelabuhan Kayangan menjelang Magrib, puncak Rinjani terlihat dari pelabuhan ini.

IMG_1501

Di Pelabuhan sudah terdapat bis dari Perama Tour dengan tujuan kota Mataram atau Senggigi. Kami minta diturunkan di jalan Catra, kota Mataram. Malam itu kami menginap di penginapan rekomendasi dari krew kapal. Saya lupa namanya, tapi teman saya ini pasti tau :p

Saya tidak berminat bertukar kontak dengan teman-teman seperjalanan di atas kapal, melepaskan diri saya dan mereka dari keharusan berbagi kabar. Sometimes I just prefer it that way. Ditempat tujuan akhir, kami sekedar say bye-bye dari pintu bus lalu turun dari bis dan berpisah dengan teman-teman perjalanan dua hari itu.

Advertisements

16 thoughts on “Berburu Langit Timur (Labuan Bajo-Lombok, Bagian II)

    1. Itu aku udah paketan dari perama tour bell,terima jadi.:D
      Gampang kok kesana, rangernya selalu standby di pos masuk pulau, jadi km tinggal sewa kapal nganterin kesana, lapor ke posnya. Ada penginapan jg dsana. Tapi kalo pgn gampang ikut trip-trip one day gitu jg banyak kok di dive center-dive center sepanjang jalan pelabuhan

      1. Aku paket 2d2n, deck class 1.3 jt. fasilitasnya : makan, kopi. matras, bantal, tidur di deck. Air lancar, tapi payau.
        Paket panama aku ga cek euyy ga tau perbandingannya.hehe
        Ga padet kok bel, 2 destinasi per hari, sisanya leyeh-leyeh di kapal. 😀

      2. enaknya sih dekat pelabuhan aja bel, kawasan paling rame ,banyak toko dan tempat makan.dive-dive center juga bertaburan sepanjang jalan.kalo mau naik kapal tinggal ngesot 😀

    1. Seruuu. Iya mendingan tengah tahun aja mbak, kalo musim hujan kayaknya rada rempong. Kalo yg msh bujang deck class udah cukup nyaman kok mbak, tapi kalo bawa cici kayaknya mending di kabin :D. Gamblingnya cuaca mbak, kemarin aku aman2 aja alhamdulillah. Tapi lontong pernah pake trip yg sama, katanya kapalnya sampe menepi ke pulau terdekat gara-gara ombaknya ga bersahabat

      1. oke 😀
        sekarang tinggal membuat skala prioritas, banyak banget yang pengen didatengin tapi cuti terbatas huhu..sedihhh, ntar kalau pindah kerja lagi mau break kerja dulu ah yang lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s