Just Another Weird Day

Minggu lalu ketika saya sedang mengobrol dibangku depan toko buku bekas disalah satu pojokan di kawasan Taman Ismail Marzuki dengan dua orang teman yang sudah jarang sekali ketemu , si kribo dari betawi dan si ganteng maut, seorang mas-mas dengan tiba-tiba menyela pembicaraan,
 
“Itu lo ambil dimana?”

Dia menunjuk buklet pertunjukan bulanan TIM yang sedang dipegang si kribo dari betawi. Saya menebak usianya dikisaran 30-an. Berambut ikal pendek, kulit hitam, menggunakan baju hitam dan topi pelukis.
 
“disana bang”, teman saya menunjuk sebuah rak-rak didepan pintu masuk teater.
“Iya itu lo ambil dimana?”, dia mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada yang makin ga enak didenger.
 
Saya mulai melempar kode lirikan dengan teman-teman. Orangnya aneh amat ya.
 
“Iya itu bang dekat rak sana dekat pintu, ada”.Mas kribo mulai ga sabaran.
“Ambilin dong”, masih dengan nada yang sama si mas-mas dengan lempengnya menyuruh mas Kribo.
 
Jiah beneran ga beres ini orang.
 
Dan mas Kribo pun membalas dengan intonasi yang sama dengan mas-mas ikal.
“ada mas disana, ambil sendiri noh ada noh”
 
Mas ikal lalu menuju ke arah yang ditunjuk mas Ikal, tapi bukannya menuju rak yang  dimaksud malah membongkar rak-rak buku dan mengambil beberapa buku. Dia menarik satu buku lalu melemparnya ke meja tempat kami duduk.
“Nih baca nih”, katanya sambil berlalu entah kemana.
 
IMG_2609
 
Buku bekas yang ujung-ujung covernya sudah rusak. Judulnya “Orang SAKAI di RIAU” Nama Sakai rasanya familiar untuk saya, lalu saya mencoba mengingat-ingat. Beberapa saat saya baru teringat,  itu nama suku yang pemukimannya dekat tempat domisili kakak saya di Riau,  si kakak sering menceritakannya karena sejak awal tahun kemarin dia sedang memulai merintis kegiatan pemberdayaan dan pembinaan di desa tempat mereka bermukim.
 
Lalu tiba-tiba buku referensi ini ada di depan mata saya.Woh. Reflek saya langsung mengirim pesan ke si kakak,
“Kak pernah baca buku ini?nemu ga sengaja di toko bekas. mau dibeliin?”
“Belum. beliin ya”
“Ok”
 
Harga bukunya terlalu mahal untuk ukuran buku bekas, alasan penjaga tokonya karena bukunya sudah tidak cetak lagi,
tapi akhirnya saya beli juga. Senang, karena bisa membelikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan oleh si kakak daripada barang-barang yang rasanya ga begitu berarti karena toh dia sanggup membeli dengan kualitas yang jauh lebih baik.
 
Teman saya bertanya ke ibu-ibu di sekitar sana, dan ternyata benar mas-mas tersebut “rada-rada” Informasi tersebut malah membuat saya terkesan dan terpikir, ini kok kebetulannya aneh banget ya.
 
Saya memang cenderung berlebihan ketika menghadapi kebetulan. Seperti di akhir tahun lalu, ketika saya sedang di isolasi di kamar gara-gara cacar air,tiba-tiba ada pesan dari seorang yang sudah lama sekali tidak ada kabarnya, “Pagi”. Seorang yang (mungkin) saya harapkan menemani saya disaat-saat seperti itu. Saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, kenapa momennya mesti dramatis seperti itu. Atau mungkin saya saja yang mendramatisasi keadaan.
 
Atau ketika saya entah kenapa terlintas pikiran, bagaimana ya rasanya jika dalam salah satu kegiatan-kegiatan penuh risiko yang sering kami lakukan terjadi kecelakaan yang membuat saya kehilangan teman-teman terdekat, orang tempat saya menceritakan semua aib-aib saya. Lalu hanya dalam waktu beberapa hari setelah pikiran itu melintas, peristiwanya terjadi, hanya saja bukan pada saya.
 
Otak saya menertawakan perasaan saya yang bereaksi berlebihan ketika menghadapi momen-momen kebetulan seperti ini. Perasaan saya membela diri, “Ini Tuhan pasti ada maksudnya deh!” 
 
Yah seperti itulah.
 
 
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s