Berburu Langit Timur (Bajawa-Labuan Bajo)

Seorang teman yang pernah mampir ke desa Bena berkomentar bahwa menurutnya desa Bena biasa-biasa saja. Tapi saya memutuskan tetap menyelipkan desa Bena dalam tujuan perjalananan kali ini. Penasaran. Toh cuma 30 menit dari kota Bajawa. Dan ketika saya akhirnya melihat sendiri desa Bena, saya bersyukur tidak melewatkan tempat ini.

Bayangkan setelah 30 menit perjalanan dengan motor melewati jalan kecil berbelok-belok naik turun melewati beberapa kampung dan hutan bambu. Lalu, disalah satu ujung belokan itu ketika perasaan tersesat mulai muncul, terlihat sebuah desa yang tersusun oleh beberapa belas rumah identik, berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia, tersusun dengan rapi membentuk 2 barisan saling berhadapan, membentuk lorong halaman bersama. Di halaman ini terdapat beberapa batu-batu besar  tersusun dengan pola-pola tertentu yang langsung saya interpretasikan sebagai peralatan upacara adat setempat. Desa ini terdiri atas beberapa undakan, tiap undakan dihubungkan dengan tangga batu. Dibagian tertinggi undakan terdapat sebuah gazebo dimana kita bisa melihat desa secara keseluruhan dan lalu pemandangan lepas ke daerah lembahan berseberangan dari desa ini. Ditambah dengan efek kabut pagi yang menutupi setengah bagian atas pegunungan, desa ini memenuhi imajinasi saya tentang sebuah desaeksotis tersembunyi di kaki gunung, terpisah dari dunia diluar sana dengan warga yang hidup dengan sederhana dan bahagia(tsah).

3

Seketika saya langsung mengirimkan pesan ke sang teman, “Mas kok bilang desa Bena biasa-biasa aja sih?Cantik Gini!” , dan lalu dibalas, “Haha, ya kan gua bandinginnya sama Wae Rebo”.

Saya belum pernah ke Wae Rebo, dan tidak bisa membandingkan. Tapi bagi saya semua tempat memiliki atmosphirnya sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Ada atmosphir yang seketika membuat saya nyaman, ada yang tidak, dan bagi saya parameternya itu saja. Dan Bena seketika terasa nyaman bagi saya.

2

Saya dan Dinna keluar pukul enam pagi dari penginapan menggunakan motor sewaan dari hotel, hampir jam tujuh ketika kami sampai di desa Moni, tersesat hampir setengah jam karena penjaga hotel memberikan petunjuk arah yang benar-benar salah.

Belum begitu banyak warga yang terlihat saat kami sampai. Kami berhenti di depan sebuah warung (Iya, ada warung kok disana), memesan kopi lalu mencoba berbincang dengan pemiliknya yang meladeni kami dengan sangat ramah. Kami mengobrol sebentar lalu berjalan-jalan mengelilingi desa, tidak tahan untuk segera mengeluarkan kamera. Warga-warga di depan rumah yang kami lewati selalu tersenyum ramah membalas sapaan kami dan dalam sekejap anak-anak ramai mengikuti, minta difoto lalu reflek memasang pose default ketika kamera diarahkan ke mereka, memasang senyum dan menaruh tangan pipi di muka, tampak terlihat akrab dengan kamera. Dan anak-anak ini sungguh menggemaskan sekali.

1

Satu hal yang mengesankan bagi saya, meski desa ini sudah ramai dikunjungi wisatawan, tidak ada tanda-tanda sikap komersil yang ditunjukkan oleh para warga. Beberapa ibu-ibu menawarkan barang, tenunan dan kopi, tapi tanpa memaksa dan dengan harga yang masih masuk akal, pun tidak bersikap ketus ketika kami tidak jadi  membeli dagangannya meski sudah bertanya macam-macam. Saya melihat banyak kasus warga daerah wisata bersikap komersil kepada turis (kan kasihan pengunjung kere seperti saya, hiks), karenanya saya terkagum dengan warga desa cantik ini.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama disini, sudah janjian dengan mas Robi jam delapan pagi. Ada perasaan bersalah karena berasa benar-benar seperti “turis” numpang lewat jeprat-jepret kasih sumbangan lalu pergi. Rasanya ingin berhari-hari disini. Saya membuat janji dalam hati akan kembali lagi ke desa ini suatu saat nanti.

****

Kami sampai d penginapan jam 8.20, telat 20 menit dari janji kami. Di depan penginapan mas Robi sudah menunggu dengan raut wajah yang ga enak. Haduh. Kami segera berangkat setelah membersihkan barang-barang, mengurus check-out dan pembayaran motor.

Setelah beberapa saat hening di awal perjalanan dengan raut wajah mas Robi yang masih kelihatan hening akhirnya saya memutuskan memecah sepi dengan ucapan maaf,

“Maaf ya mas, tadi kita telat, keasikan di sana dan nyasar juga berangkatnya, blabalablabla..”.

Jawaban mas Robi tidak disangka-sangka “Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Tadi saya cuma berpikir kalian kabur itu, saya tanya penjaga hotel katanya kalian sudah pergi pagi-pagi, itu saya sudah mau pergi ketika kalian sampai”, khas dengan nada timurnya. Dan ternyata mas Robi menyangka dia memberikan tumpangan pada wanita-wanita penipu, hehehe. Sambil tertawa-tawa kami mengulangi meminta maaf.  Setelah sedikit memberikan penekanan kepada kami  tentang pentingnya disiplin bagi driver di pulau ini, sesaat dia kembali menjadi teman perjalanan menyenangkan dengan segudang cerita. Dia bercerita tentang pengalaman-pengalamannya selama belasan tahun menjadi guide sekaligus driver, tentang tamu-tamu artis dan pejabat yang pernah dibawanya, tentang dia pernah menyupir untuk Luna Maya, bahwa Luna Maya itu cantik sekali dan bahwa Luna Maya punya tanah berhektar-hektar di Labuan Bajo (Hampir setengah jam lebih dia bercerita hanya tentang Luna maya, haha). Dan yang dengan semangat dia ceritakan tentang pengalaman dia berkali-kali jadi driver untuk Nicholas Saputra menemani berhari-hari menelusuri Flores ( “Mas robi, nanti kalo Nicholas saputra kesini lagi bilangin saya titip salam ya sama tolong kasihin nomor hape saya”), tentang pernikahannya yang gagal karena beda keyakinan, tentang jaringan wanita penghibur dan kliennya di pulau flores, dan seabrek cerita lain yang tak habis-habis.

Cerita-cerita mas Robi ditambah dengan pemandangan cantik sepanjang perjalanan membuat perjalanan 4 jam menuju Ruteng dengan jalur yang tipikal, berkelok-kelok nyaris letter U sempurna, tidak terasa.Laut, gunung, dan tebing dimana-mana. Kami berhenti untuk makan siang di kota Ruteng lalu mas Robi memenuhi janjinya kemarin untuk mengantarkan kami ke sawah laba-laba di daerah Ruteng. Aih, saya bahkan tidak berharap dia ingat janji ini ditambah dengan fakta kami telat pagi ini, recommended driver deh pokoknya.

IMG_1329

Konon katanya struktur penanaman seperti ini dilakukan dahulu kala oleh leluhur untuk memudahkan melakukan pembagian lahan antar warga dan akhirnya terus dibiarkan seperti itu. Pukul dua kami berangkat dari kawasan Spider web menuju Labuan Bajo.

Berbeda dengan pemandangan dari Bajawa ke Ruteng yang didominasi laut berpagar gunung, pemandangan dari Ruteng menuju Labuan Bajo adalah sawah sepanjang mata menghampar. Dan ternyata memang manggarai Barat, nama kabupaten yang kami lewati adalah salah satu lumbung padi bagi pulau ini.

Sekitar jam lima kami sampai di Labuan Bajo, kota kecil berbukit-bukit dipinggir pelabuhan, bentukannya mengingatkan saya pada kampung Nias di Padang. Ada banyak penginapan di sepanjang jalan di pinggir pelabuhan, mulai dari bentukan homestay hingga cottage . Kami memilih penginapan yang direkomendasikan mas Robi, hanya beberapa menit berjalan kaki ke pelabuhan, Hotel Gardena. Kamar-kamarnya berupa cottage dengan dinding anyaman bambu dengan jendela langsung menghadap ke laut, harga mulai dari 170-an.  Mas Robi pamit setelah mengantarkan kami check-in dan ke Dive Center (kontak mas Robi di postingan sebelumnya yaa, dijamin ga nyesel deh jalan sama doi 😀 ).

Dive center yang saya kunjungi tempatnya persis di sebelah hotel Gardena (Rekomendasi dari mas Robi juga, katanya sih paling murah, saya lupa namanya :p). Dive center ini dikelola oleh opa-opa bule yang galak sama pegawainya tapi super ramah sama tamu. Saya mendaftar untuk paket snorkeling sementara dina mengambil paket Diving.Sedikit kecewa karena ternyata untuk pelayaran besok tidak mengunjungi spot Manta, tapi ya daripada-ga-kemana-mana-seharian. Ketika saya bilang kerjaan saya Tukang, si Opa menawarkan saya trip gratis kalau saya bisa memperbaiki koneksi internetnya yang bermasalah ( sayangnya kami sampai kemalaman besoknya 😦 )  .

Agenda besok kami seharian berlayar mengikuti perjalanan dari agen ini lalu malamnya bergabung dengan rombongan dari Perama Tour untuk pelayaran menuju Lombok. Setelah menyelesaikan urusan di Dive Center, kami makan malam di kampung Ujung, kawasan kuliner paling ngehits di labuan Bajo, belanja untuk bekal besok hari dan segaera kembali ke penginapan setelahny. Kami mulai kehabisan baju bersih karenanya masih ada peer mencuci baju sebelum istirahat.

 Lanjut di postingan berikutnya ya!

Postingan sebelumnya :

Berburu Langit Timur – Dibalik layar

Berburu Langit Timur – Persiapan

Berburu Langit Timur-Hari pertama (Bali-Ende)

Berburu Langit Timur (Ende-Bajawa)


 

Advertisements

8 thoughts on “Berburu Langit Timur (Bajawa-Labuan Bajo)

  1. pas liat desa bene, langsung kepikiran waerebo.
    well, kata temennya waerebo lebih indah.
    kata mbak, bene juga udah indah.
    kata saya , *pengen kesana juga, Tuhan 🙂 aamiin*

    ijin share ya mbak 🙂

  2. perjalanan yang seru mbak hehhee
    btw akhir tahun saya rencananya mau trip overland flores. berarti dari moni-bajawa pake mas Robi ya mbak ? kalo boleh tau, berapa tarifnya ya ? soalnya saya takut kalo transportasi disana ga bisa disangka.
    Rencananya saya juga dari Moni langsung ke Bajawa mau ke Kampung Bena
    many thanks buat jawabannya yah

    *kalo ga nyaman share biaya driver disini, bisa email saya di laksmiwardhani@ymail.com
    Terima kasih 🙂

    1. Halo mbak ami.
      Mas robi itu driver agency euy, basenya di labuan bajo. Kemarin karena dia kebetulan mau balik ke labuan bajo abis nganterin tamu ke ende, dia nawarin kita,kebetulan rutenya sama.
      Tapi coba mbak hubungi aja, siapa tau dia punya kenalan driver di ende.driver asli ende yg saya temui itu pak mat. tapi saya ga tau pasti euy biaya sewa mobil dr ende ke bajawa.
      Kita kemarin 250/orng dr ende ke labuan bajo.
      Semoga membantu yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s