Setengah hitungan dari seratus purnama

Dan ternyata hampir setengah hitungan dari seratus purnama yang dulu pernah kita perbincangkan.

Setelah beberapa purnama yang timbul tenggelam tanpanya, puisiku, yang kupikir telah memudar, mewujudkan diri begitu saja dihadapanku. Dia bilang, dia merindu. Dan aku tergugu. dengan kenyataan bahwa kerinduannya memenuhi kosong disebuah ruang pikiranku, yang belakangan semakin memekat dan mulai mecekik. Kenyataan yang memaksaku untuk menapaktilasi perjalanan setengah hitungan dari seratus purnama yang dulu pernah kita perbicangkan. Seratus purnama yang kupikir hanya bentuk manifestasi angan-angan muda kita tentang romantisme yang tak lekang bilangan waktu,  tapi ternyata sudah terlewati hampir setengah hitungan. Dan saat ini kita masih berbincang tentangnya. Tentang purnama ke seratus.

Setengah hitungan dari seratus purnama, Rasa ini sudah melewati ribuan bentuk. Euforia sepasang muda yang dimabuk ketertarikan satu sama lain, mewujud perasaan sayang lalu hasrat dan Keinginan yang menguat. Keinginan menyayang.Keinginan melindungi. Kengininan memiliki. Keinginan mengenggam. Kemudian keingian-keinginan menjadi obsesi.  Kadang, jengah menguasai, karena rasa yang terlalu pekat tanpa kendali dan keterikatan yang tak pada tempatnya. Ada juga benci yang tak dimengerti, saat harapan-harapan tak terpenuhi.  Ada juga sebuah fase dimana keinginan yang ada adalah tak menginginkan apa-apa.

Beberapa purnama, kubiarkan pusiku memudar. Tapi ada sebuah rasa percaya yang kusimpan dalam diam,bahwa dia tak akan membiarkan dirinya memudar. Hanya, yang terbaik saat itu memanglah sebuah rentang, untuk belajar paham. bahwa ketika keinginan menguasai diri, kita lupa untuk mengasihi diri,

Bisakah kita mengasihi orang apa adanya tanpa mengasihi diri sendiri?

***

Dan kemudian dia muncul, lebih cepat dari yang kupikirkan.Dia bilang, dia merindu.Dan kemudian aku tergugu ketika rasanya, memenuhi rasaku. Sesaat aku mengelak. Kupikir, cukupkan, sudahi. Tapi hati terus-menerus membayangi. Kenapa terus-menerus mengingkari? Kenapa begitu takut akan hilang kendali?

Kemudian aku bertanya pada diriku.Sudahkah aku mengasihi diriku dengan layak?kupikir, sudah, aku sudah berusaha. Sesuatu menyentakku, mereka yang mengasihi diri sendiri dengan baik tak pernah takut hilang kendali. 

Lalu kuputuskan, sudah saatnya melepas berhenti menghindari dan lihat apa yang akan terjadi. Kuperhatikan lekat-lekat bagaimana rasa itu masuk kembali dan wujud yang dia tampakkan.

Dan lalu yang muncul pertama adalah sebuah sensasi  hangat. Hangat yang akrab. Sesaat kekhawatiran, tapi ternyata tidak, hangat ini tidak menyakitkan. Dan keheranan kecilku, ketika ternyata rasa itu ternyata berwujud kasih. Kasih yang sama dengan apa yang kuberikan pada diriku sendiri. Kasih yang lembut dan hangat. Menghangatkan. Kasih yang muncul dari sebuah perjalanan yang panjang dan perasaan saling menggenapi dengan pemahaman yang utuh. Mememenuhi kosong-kosong, tanpa menguasai dan tak menyakiti. Kasih yang lalu membuatku ingin menghangatkannya. Berjalan disampingnya, tanpa keinginan apa-apa.

Perasaan mengasihi semestinya tak menyakiti siapa-siapa.

Dan sepertinya rentang, berhasil mengajarkan kita tentang banyak hal.

***

Rasa penasaran membuatku menerka-nerka dimana kita berada saat seratus purnama itu datang. Akankah saat itu datang, kita ternyata lagi-lagi sedang membentang rentang,  karena kita ternyata masih saja belum mampu mengendalikan keadaan.

Atau mungkin ternyata kita sedang berada dibawah atap yang berbeda, dengan orang yang kita kasihi masing-masing. Mungkin saat itu kita masih saling mengasihi, dengan cara yang berbeda. Atau mungkin tidak. Kita bahkan lupa,pernah ada sebuah waktu yang kita tunggu-tunggu. Purnama keseratus. Kita hidup dalam kenyataan kita masing-masing.

Atau apakah kita sedang duduk dimeja yang sama,  berbincang tentang purnama keseratus yang akhirnya mewujud riang.

Dan iya, aku menerka-nerka.

Tapi kuputuskan, aku akan menikmati saja semua waktu yang berlangsung, dan semua rasa yang berkunjung.  Dan makna yang diberikan.

Setengah hitungan dari seratus purnama, rasa ini sudah melewati ribuan bentuk.

Dan, masih ada.

Jakarta, 29th Desember 2013
Been forever since my last poem,eh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s