Catatan Perjalanan Kinabalu (Hari Ketiga)

Sabtu, 7 Juni 2013

Kami terbangun sebelum guide datang membangunkan. Lorong kamar terdengar gaduh oleh para peserta pendakian yang sedang bersiap-siap.  Saya yang sudah menggunakan perlengkapan siap tempur sebelum tidur, hanya tinggal menggunakan kerudung. Lalu duduk manis menunggu yang lain bersiap-siap. Pertama kali merasakan sesi berdandan sebelum mendaki. Lalu Mbak H datang dari kamar mandi sambil tertawa-tawa, membawa laporan melihat seorang bule yang sedang menggunakan maskara. Haha. Yostal ada teman. Segera kami turun ke restoran.

Di restoran sudah tersedia early breakfast untuk para pendaki dan antriannya cukup panjang. Jenis-jenis makanannya bermacam-macam dan menggoda sekali. Tapi makan terlalu banyak sebelum mendaki jelas bukan ide baik.

Kami sudah selesai makan sebelum pukul 3.00 wib, tapi karena Gate menuju puncak di pos sayat-sayat baru dibuka oleh petugas pukul 3.00, kami tetap harus menunggu jam tiga untuk memulai pendakian. Sebagai pemanasan summit attack (pendinginan?) kami keluar ruangan. Perubahan cuaca dari rumah kayu yang hangat ke udara 3259 mdpl yang dingin langsung mengigit kulit. Kami berdoa (dan berfoto) sebelum berangkat.

Selama persiapan perjalanan ini, orang-orang selalu berkata bahwa pendakian ke Kinabalu adalah pendakian piknik. Alasannya karena jalurnya yang mudah dan jelas, dan karena ada penginapan. Karena itu hampir sebagian besar dari kami tidak terlalu mempersiapkan fisik dengan serius untuk perjalanan ini, meskipun tinggi gunung ini adalah 4098 mdpl.

Well, perjalanan dari gerbang ke laban rata bolehlah di bilang piknik. Tapi perjalanan dari laban rata menuju puncak? Kami tidak mempersiapkan diri untuk ini. Sama sekali tidak semudah yang dibayangkan. Ingatan biaya 983 ringgit yang sudah dikeluarkan jadi motivasi untuk tidak mundur turun.

Seperti kemarin, kami berjalan dengan flow masing-masing karena tidak ingin saling merepotkan. Tidak terlalu khawatir akan ada yang tertinggal atau tercicil karena pendaki yang mendaki banyak sekali. Terdapat beberapa titik jalur sempit dimana pendaki harus antri untuk melewatinya. Karena dingin dan kemiringan yang lebih tajam, kami berjalan pelan saja. Sekitar setengah jam berjalan saya mendapat kabar dari guide bahwa mbak may tidak melanjutkan karena cici ternyata muntah diperjalanan. Mbak citra dan Ika juga mengundurkan diri dari pendakian ke puncak.

Sekilo pertama menuju pos sayat-sayat, jalur yang dilewati adalah jalan tanah berbatu yang sempit dan masih terdapat pohon disepanjang jalur. Tapi jarak antara satu undakan menuju undakan selanjutnya semakin tinggi. Setelah pos sayat-sayat, medan yang harus di lewati adalah padang batu. Benar-benar padang batu. Sepanjang mata memandang hanya ada batu.

Melihat medan pendakian dari pos sayat-sayat ke puncak ini, saya sedikit lega karena mbak may tidak jadi membawa Cici ke puncak, karena cukup ekstrim. Pada beberapa titik dimana kita harus semi memanjat hanya dengan berpegangan pada tali. Juga terdapat satu spot dimana pendaki harus berjalan melipir di jalur yang sangat tipis yang langsung bersisian dengan jurang tebing, yang kami sendiri tidak menyadari hingga kami turun dan melihat jalur-jalur tersebut saat hari sudah terang. Tapi karena medannya berupa batu yang solid, pendakiannya tidak semelelahkan pendakian puncak mahameru, atau anjani. Jauh lebih nyaman untuk menapak. Dua jam berjalan, tujuan akhir mulai terlihat : Low’s peak kinabalu. Tapi meski sudah terlihat, puncak ternyata tidak sedekat itu.

Bentuk puncak gunung Kinabalu seperti gunung arjuno, puncakan batu yang sempit. Sehingga orang-orang harus antri untuk berfoto di puncak. Keramaian di puncak terlihat jelas dari belokan terakhir sebelum ke puncak. Dinna membatalkan niatnya menuju puncak, terlanjur malas melihat keramaian. Puncak bukan tujuan memang.Tapi foto-foto dipuncak, jelas tujuan.

Saya sampai di puncak sejam kemudian, pukul enam pagi. Peserta pertama dari rombongan kami yang sampai di puncak adalah mbak Yanti. Mbak yang satu ini emang luar biasa sekali staminanya. Semua orang sampai heran beliau dapat stamina dari mana. Setelah mbak Yanti ada yostal dan baru saya. Setelah beberapa saat sesi foto-foto di puncak, mbak Sinta muncul. Wohhh. Ibu-ibu ini kece-kece memang.

Setelah menemani mbak Sinta foto-foto sebentar, kami segera turun. Hanya beberapa puluh meter turun saya bertemu dinna yang sedang berfoto-foto bersama mbak Nina, yang juga tidak menyelesaikan hingga ke puncak dengan alasan yang sama dengan Dinna. Lalu kami turun bersama. Tidak berapa jauh kemudian, kami bertemu dengan mbak Ni’ma, mbak H, dan mbak Noni. Mereka pun sebenarnya tidak terlalu jauh dari puncak, hanya saja karena sudah melewati batas waktu, guide melarang mereka meneruskan perjalanan ke puncak. Cukup tegas memang guide-guide disini.

Tapi pemandangan sepanjang perjalanan turun tidak kalah menarik kok dengan pemandangan di puncak sana.

Setengah jam diawal perjalanan turun, kabut masih menutupi pemandangan sekitar. Memberik efek mistis pada batu-batu dan puncakan-puncakan disekitar. Berasa di film lord of the ring (beneran). Setelah kabut mulai hilang barulah pemandangan sekitar terlihat jelas. Keren sungguh. Suasana baru yang belum pernah saya dapatkan setelah beberapa kali mendaki gunung. Megah, kosakata yang paling cocok untuk mendeksripsikannya.

 

Pukul sembilan kami semua sampai kembali di Laban Rata, kecuali mbak Sinta yang masih berjalan di belakang bersama seorang guide. Masih ada satu kali jatah makan lagi di Laban Rata, dan kali ini bisa makan sepuasnya. Ketika kami sedang makan, mbak May, cici, Ika, dan Mbak Citra ternyata sudah siap untuk turun. Mereka memutuskan untuk mulai jalan turun duluan karena takut akan berjalan pelan dan membuat yang lain menunggu.

Mbak Sinta baru sampai di Laban rata setelah kami selesai makan dan packing barang-barang untuk turun. Beliau ternyata keseleo dalam perjalanan turun sehingga terpaksa berjalan pelan-pelan.

Setelah menunggu mbak Sinta makan dan packing kami segera memulai perjalanan turun dari Laban rata ke Timpohon Gate. Beberapa orang yang sebelumnya tidak menggunakan jasa porter untuk membawa barang saat naik memutuskan menggunakan jasa porter untuk turun karena takut kecapekan dan menganggu perjalanan

Beberapa saat berjalan turun dari Laban Rata, masing-masing orang kembali dengan flow jalan masing-masing.

Perjalanan turun gunung adalah bagian paling membosankan dari mendaki bagi saya. Semua motivasi sudah habis dan saya hanya ingin segera mungkin kembali kebawah. Dan meskipun turun, perjalanan turun jauh lebih menyakitkan daripada naik, karena beban semuanya ditumpukan pada lutut dan pergelangan kaki. Lutut yang berdenyit-denyit sepanjang perjalanan membuat saya seketika merasa mulai mengalami gejala penuaan. Sayangnya bagian turun ini tidak bisa di skip begitu saja.  Yang paling menyiksa tentu saja undakan-undakan sepanjang jalur yang sewaktu naik sangat membantu, saat turun memaksa kita untuk benar-benar menapak satu-satu. Membuat beban tubuh benar-benar terpusat pada paha, lutut, dan pergelangan kaki. Bersabar dan tetap melangkah satu-satunya cara untuk bisa sampai ke bawah.

Pukul setengah empat, satu persatu peserta mulai sampai di Timpohon Gate. Satu orang yang masih belum sampai yaitu mbak Sinta, yang memang tidak bisa berjalan kencang karena keadaan kakinya. Dalam itinerary perjalanan, maksimal pukul empat seharusnya kami sudah dalam perjalan kembali ke kota Kinabalu untuk mengejar pesawat kami ke Kuala Lumpur pukul delapan malam.

Akhirnya mbak Yanti mengusulkan diri untuk menunggui mbak Sinta agar kami semua bisa segera mengejar pesawat. Beliau sendiri memang belum membeli tiket karena takut hal-hal seperti ini terjadi. Mbak May lalu mencoba menghubungi mbak Sinta dari telepon dan mbak Sinta setuju dengan rencana tersebut. Kalau sempat dia berusaha untuk tetap mengejar pesawat yang sama.

Kami segera naik kendaraan ke Head Quarter untuk mengambil sertifikat dan membeli oleh-oleh bagi yang berminat. Masih ada jatah satu kali makan lagi sebenarnya di Head Quarter untuk kami, tetapi karena buru-buru kami langsung ke Bandara. Pukul tujuh kami sampai di Bandara Kota Kinabalu. Lega karena tidak  ketinggalan pesawat. Sayangnya mbak Sinta tidak sempat mencapai bandara pada waktu yang tepat, karenanya beliau harus menginap semalam lagi di Kota Kinabalu dan membeli tiket pesawat baru.

Hampir pukul sebelas malam ketika kami sampai di Kuala Lumpur. Kecapekan, tapi bahagia dan masih bisa senyum lebar ketika berfoto.

 
Dari sini tim kembali terbagi. Mbak Nina dan mbak Citra bermalam di bandara untuk mengejar penerbangan mereka besok pagi ke tempat domisili masing-masing. Sementara sisa tim berangkat ke KL sentral menuju tempat tinggal teman mbak May, tempat kami akan bermalam di KL malam itu. As always, extended trip, jalan-jalan kota 😀

Diluar biaya perjalanan yang cukup bikin dompet teriak, pendakian dua hari ini salah satu pendakian paling menyenangkan bagi saya. Karena pemandangan indah yang berbeda, dan teman-teman perjalanan yang kece-kece. Senior yang baru pertama kali saya temui walau sudah beberapa kali bertegur sapa di dunia maya : mbak Nina. Teman-teman baru, mbak Ni’ma dan Mbak Noni (lebih pantas saya panggil tante sih,hehe). Dan bernostalgia bersama mbak Citra, mbak H, Ika, mbak May, dan tentu saja si kecil Cici. Oh ya, Yostal dan Dinna juga (dua orang ini tidak perlu disebut sebenarnya :p)

Bagi saya, perjalanan ini seperti pemberi harapan, bahwa mimpi menjelajah alam semesta itu mungkin-mungkin saja terpenuhi. Dengan dicicil sedikit demi sedikit (Lebay deh fa)

***

Demikian catatan perjalanan saya ke Kinabalu, akhirnya setelah beberapa bulan menunda catatan ini selesai juga. Lega serasa habis bayar hutang. Semoga bisa membantu bagi yang butuh informasi, walaupun lebih banyak cerita yang ga pentingnya.hehe.

Sedikit garis bawah saya, jangan anggap remeh. Meskipun dibilang gunung wisata, bukan berarti membolehkan untuk tidak mempersiapkan fisik dengan baik loh sebelum kesini. Sungguh deh tidak semudah itu. Terbukti, butuh waktu seminggu lebih untuk bisa kembali berjalan normal dan naik turun tangga tanpa kesakitan.  Jadi yang mau kesana, persiapkan mental fisik dan dompet sebaik-baiknya. Happy climbing, safety first, and don’t littering! 😀

Advertisements

4 thoughts on “Catatan Perjalanan Kinabalu (Hari Ketiga)

    1. Siap mbakkk.Mumpung masih muda.
      Tinggal mikirin gimana bisa punya libur sebanyak-banyaknya tapi masih dapat pemasukan maksimal.hehe

      Ayo mbak, kapan-kapan kinabalu di jajal juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s