Selarik Puisi yang Mulai Memudar

Sewaktu malam di purnama entah berapa saat yang lalu.Sebegitu indahnya sehingga reflekku adalah membaginya denganmu.

“Lihat keluar deh, bulannya cakep”

“oh iya?bulan ke berapa emang?”

“ke berapa ya, ga tahu,hehe, males ngitung”

Aku bohong, tentu saja.Aku ingat.Itu bulan ke 37. Tapi kamu tahu, imajinasi tentang purnama yang timbul tenggelam tidak lagi menghiburku. Dia indah, dan aku menikmatinya.Itu saja. Tidak ada lagi cerita yang bisa kukarang tentangnya, atau imajinasi yang tumbuh setiap melihatnya. Atau mungkin, aku menghajar semua imajinasi yang muncul tentangnya.Entah sejak kapan, aku berhenti percaya kamu purnama itu.Angka-angka itu bisa berhenti kapan saja.37, 50,100.Entah kapan.Lalu setelahnya, angka itu tak berarti apa-apa lagi. Dan kamu, kemudian hanya menjadi selarik puisi yang pernah kutulis diselembar kertas.Lalu aku lupa menaruhnya dimana. Mungkin suatu saat aku akan menemukannya kembali, tapi kemudian yang terjadi aku akan lupa bahwa aku pernah menulisnya. Seperti puisi-puisiku yang lain.Aku akan lupa bahwa aku pernah seromantis dan semelankolis itu, atau kemudian aku hanya akan menertawakan diriku sendiri, yang pernah seromantis dan semelankolis itu.

Tapi saat itu, kamu masih disini, dan aku masih saja menghitung angka itu.Terkadang kita sepakat untuk berhenti menghitungnya, aku bilang sudah, kamu bilang sudah, tapi ternyata bahkan untuk sekedar melewatkan satu angka saja kita belum pernah berhasil. Lalu kemudian kamu bilang kamu akan menjadi purnama itu. Kemudian aku bilang, aku tidak percaya, lalu kamu bersikukuh memaksaku untuk percaya.

Pada akhirnya kamu tidak ada disini, saat ini.

Bahwa aku benar?aku tidak bahagia. Ternyata mengetahui apa yang akan terjadi jauh hari sebelumnya tidak membantuku untuk menahan rasa pilu mengerayangi. Tapi  toh aku bersyukur. setelah frekuensi tak terhitung aku meracuninya. mekanisme hatiku masih bekerja dengan baik. Atau mungkin dia memang bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti.Apapun, aku menerimanya.

Aku menunggu saat itu, ketika kamu hanya akan menjadi selarik puisi, yang bahkan akupun lupa, aku pernah menulisnya.Selarik puisi usang.Aku menungu saat itu.

 Bandung, 12 Desember 2012.

 

————————————————

 

Purnama. Masih bulan yang sama, saat kita mulai menghitungnya dari satu. Entah purnama ke berapa itu sekarang.

Masihkah kau menghitungnya? Aku sudah berhenti beberapa waktu lalu. Sejak satu waktu, ketika kehidupan menaruhku di bangku penonton sebuah teater  besar, menonton kamu dan aku (sepertinya aku terbagi dua saat itu) di panggung yang sama. Dan lalu ku perhatikan kita di panggung sana, begitu naif, dan muda. Konyol membuang-buang waktu. Bahkan menyelesaikan pertunjukkan itu aku tak sanggup. Malu,  dengan kemudaan yang kita pertontonkan pada orang-orang.  Sejak saat itu aku berhenti menghitung purnama itu. Itu lama berselang.

Tapi kamu masih belum menjadi selarik puisi usang itu. Karena nyatanya, purnama masih membangkitkan sebuah sensasi rasa, yang tak menyenangkan.

Tapi kau tahu? Kemudian aku berhenti lari dan memutuskan berdamai dengan diriku sendiri. Dan kuputuskan menghadapi rasa itu dan berkenalan dengannya. Dia memang tak menyenangkan, tapi toh dia tak berniat menganggu. Dia hanya ingin si muda ini tumbuh, keluar dari cangkangnya yang sesak dengan kecemasan-kecemasan. Jadi kubiarkan saja, berharap dengan begitu aku bisa belajar sesuatu darinya.

Dan tanpa kusadari, pelan-pelan kamu memudar. Kenangan-kenangan tak lagi sepekat dahulu, Dan rasa yang terkadang masih muncul tak lagi (begitu) menganggu. Mungkin sebentar lagi, sebentar lagi saja, kamu akan jadi selarik puisi usang itu.

 ..

..

Setiap kehilangan dan kepergian mereka-mereka yang pernah mengisi ruang hati, selalu meninggalkan rongga besar yang kosong. Ternyata mengisi kembali rongga itu tak semudah dan secepat dahulu.

 Kau tahu? Aku tak benar-benar yakin aku ingin kamu menjadi selarik puisi usang itu. Pertama, karena karena sudah terlalu banyak rongga-rongga kosong di hatiku, kedua, aku tak terbiasa mengusir orang dari ruang yang telah lama memiliki tempat dihatiku. Hanya mereka yang berhenti berusaha. Apakah kamu sudah berhenti berusaha?

Masih ada ruang-ruang lain yang dapat kau tempati. Sahabat, teman berbincang, atau bahkan sekedar teman menghabiskan secangkir kopi. Jika kau berusaha.

 Tapi tentu saja tidak sekarang, tidak saat hati masih terlalu dingin untuk saling berbincang. Mungkin suatu saat nanti, ketika kita mulai bisa menertawakan masa lalu, menertawakan kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, tanpa keinginan untuk mengulanginya. Saat kita sudah sama-sama keluar dari kemudaan kita. Sampai saat itu datang, dan waktu memberikan kita kesempatan untuk berada kembali di panggung yang sama, kuharap kamu masih berusaha, sehingga aku tak memiliki alasan lagi, untuk mengabaikan adamu.

Semoga saat itu datang, kamu belum benar-benar menjadi pudar, dan usang.

Jakarta, 22 Juli 2013

Purnama.

Oh, Please forgive me for all this sentimentalism. Don’t make any assumption over it, it’s only me write down some stories mixed with some imaginations of a lady, in a fullmoon night 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s