Hanya Catatan Kecil (Kinabalu-4)

983 MYR. Itu harga yang kami bayarkan untuk paket pendakian kinabalu Juni ini. Bukan angka yang kecil sungguh buat saya. Tapi terkadang pengalaman memang mahal, literally. Dan demi sebuah pengalaman, saya rela menahan diri berbulan-bulan tidak mengupdate koleksi lemari sama sekali.

Hal yang selalu membuat saya penasaran selama ini, apa sih yang mereka tawarkan kepada para pendaki yang membuat mereka berani menaruh harga semahal itu?Dua hari pendakian itu menjawab rasa penasaran saya.And well, I admit that  983 MYR is worth that journey.

Pengelolaan perjalanan dan fasilitas yang tersedia di gunung Kinabalu ini benar-benar membuat pendakian 4085,2 mdpl ini menjadi mudah, bahkan bagi pemula sekalipun (well, not that “easy” actually).  Mulai dari fasilitas transportasi dan jalan yang sangat baik hingga ke kaki jalur pendakian, guide yang professional, informasi perjalanan yang jelas dan terstruktur dengan baik, fasilitas toilet dan shelter di setiap 500m-1 km di sepanjang track, track yang bersih, konsumsi yang baik (sangat sangat sangat sangat baik bahkan :D), dan tentu saja kasur yang hangat sebelum summit attack adalah kemewahan luar biasa yang belum pernah saya rasakan selama ini. Lalu saya pikir dengan semua keterpaduan ini, pantas saja Malaysia lebih diatas dari Indonesia dalam hal pariwisata.

“Kapan ya tempat-tempat wisata di Indonesia bisa seperti itu?”

Pertanyaan tersebut mengendap lekat dalam pikiran saya selama perjalanan itu. Apa yang menghalangi kita bisa seperti itu?

Dari apa yang saya perhatikan selama perjalanan tersebut, ada dua hal yang menurut saya sangat berperan dalam prestasi tersebut. Pertama, dukungan penuh dari pemerintah, kedua, masyarakat yang bersikap terbuka terhadap perubahan dan peduli akan pentingnya pariwisata terhadap pertumbuhan Negara mereka. Dua hal yang Indonesia tidak (belum), miliki. Pemerintah Indonesia tentu saja sudah memberikan perhatian besar dalam bidang pariwisata, hanya saja menurut saya, banyak fitur-fitur dari sistem tersebut yang belum terpenuhi. Satu contoh simple saja, akomodasi transportasi. Kebanyakan tempat-tempat wisata Indonesia sulit dijangkau, entah karena kurangnya kendaraan, atau keadaan jalan raya menuju sana yang buruk. Satu contoh kecil lagi, sistem informasi. Sekalipun Informasi-informasi banyak tersaji, saya belum menemukan sebuah portal informasi resmi  di Indonesia yang terpadu dan lengkap. Padahal Indonesia memiliki banyak pengiat-penggiat industri pariwisata yang siap bekerja demi tujuan tersebut.

Dibanding dengan satu dekade lalu, tentu saja jumlah orang yang sadar dan peduli dan ikut meramaikan industri pariwisata ini meningkat tajam. Tapi persentase orang yang sadar dan peduli dibandingkan dengan yang masih “awam”? Masih kalah jauh loh. Kita masih sering menemukan orang yang tidak menjaga tempat-tempat wisata, mencoret-coret, meninggalkan sampah, merusak. Masih sering juga menemukan oknum-oknum yang senang mempersulit para pelancong : memaksa-maksa menggunakan fasilitas mereka, memberi informasi yang menyesatkan, menjahati orang yang tidak memberikan keuntungan apa-apa, pemalakan, dan sejenisnya.

Kenyataannya, jalan menuju “Negara Pariwisata” itu masih panjang. Lalu, kontribusi apa yang bisa kita berikan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s