Binatang Peliharaan

Saya pernah memelihara berbagai jenis binatang, dulu, waktu saya kecil. Macam-macam jenisnya : kucing, anjing, ayam, ikan, burung. Diantara semua yang paling tahan lama (catatan : kepergian bisa karena kehabisan nafas atau kabur, atau dibuang ibuk), adalah kucing.

Dulu kata ibuk saya sayang sekali sama kucing, seingat saya juga begitu. Kami berbagi tempat tidur dan selimut. Mungkin karena saya tidak punya adik atau teman sebaya yang bisa diajak main dirumah. Tiap pagi si kucing bergelung diatas selimut dikaki saya. Tiap pagi kucing yang bersangkutan dimarahin ibuk. Saya punya banyak sekali kucing, ending kisah mereka dengan saya macam-macam : mati karena memang sudah usianya, mati tertabrak, dibuang ibuk, atau kawin lari dengan kucing lain. Setelah saya kuliah dan berteman dekat dengan cewek biologi yang sangat aware dengan keberadaan makluk mikro bernama virus dan bakteri yang ada disekitar kita yang menurutnya sangat membahayakan manusia, dan rambut kucing adalah rumah yang sangat nyaman untuk makluk-makluk mikro itu, saya tertular paranoianya. Sekarang rasa takut saya terhadap makluk mikro ini mengalahkan rasa sayang saya, saya berpikir berkali-kali sebelum memegang kucing.

Saya pernah punya anjing.Taukah kalian betapa lucu dan menyenangkannya anjing itu?Scala 0-10, saya beri 12. Tapi dibuang ibuk, karena suka jilat-jilat barang di halaman belakang.Najis katanya, repot ngebersihinnya. Huks. Saya tidak mengerti kenapa makluk semenyenangkan itu dikategorikan najis.

Saya juga pernah memelihara anak ayam. Mati duluan sebelum gede, keseringan dipegang. Lalu merpati, tapi kabur dari kandang.Masuk smp saya memutuskan tidak lagi memelihara binatang.

SMA kelas 2 seorang teman memberi saya anak kucing. Warnanya emas. Lucu sekali, matanya biru. Pertama diberikan si kucing berkutu banyak sekali. Saya jadi punya ritual baru waktu itu, memandikan kucing dan membersihkan tempat pupnya. Sungguh dia lucu sekali. Suatu sore ketika pulang sekolah saya mendapati dia lemas tak bergairah. Semua jenis makanan yang disodorkan tidak disentuh, malam harinya ada busa-busa disudut mulutnya. Saya suapkan susu dan memastikan dia tetap hangat malam itu. Besok paginya dia cukup membaik, senang. Sore sepulang sekolah, saya mendapati dia kaku dibalik pintu dapur. Mengingatnya masih membuat saya berkaca-kaca hingga saat ini.

Di awal saya mengontrak rumah bersama De-Te, niat untuk memelihara binatang muncul kembali.tetapi si home mate tidak setuju sama sekali. Menurut dia mengurung binatang disebuah tempat bernama kandang adalah dosa terbesar umat manusia. Saya diijinkan memelihara binatang jika dan hanya jika binatang tersebut tidak dikandangin, dan tidak dalam masuk daftar hewan terancam punah. Penyu dicoret dari daftar. Beruang kutub juga, tidak butuh larangan untuk mengetahui bahwa ini memang tidak mungkin, Kuskus. Larangan berikutnya adalah binatang berbulu. Kucing, Anjing, Marmut, Kelinci.Tidak.

Akhirnya pilihan yang ditinggalkan adalah memelihara ikan.Tapi apa lucunya memelihara ikan? Tidak bisa dielus, tidak bisa diajak main, tidak bisa diapa-apakan. Memandanginya malah menimbulkan efek lapar.

Sampai sekarang saya tidak memelihara binatang apapun. Dipikir-pikir lagi, saya memang belum punya kapasitas untuk itu. Dan demi kebaikan makluk hidup lain, sepertinya keinginan memelihara binatang saya harus ditahan dulu sementara waktu.

Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s