Generasi Gadget

Mari berandai-andai, jika seandainya satu hari semua fasilitas untuk berkomunikasi di dunia tidak berjalan,semua benda yang memanfaatkan gelombang yang kita sebut listrik tidak berfungsi, apakah manusia masih bisa bertahan hidup?Seharusnya bisa.Karena dari keadaan seperti itulah dunia mulai berkembang dahulunya.

Tapi si saya membayangkan sebuah dunia tanpa fasilitas komunikasi dan jenis-jenis alat penyimpan dan pengolah data itu sama sulitnya dengan membayangkan dunia tanpa kapitalis, lebih sulit daripada membayangkan hari kiamat.

Diangkot,dijalan, dikelas, dikamar, di wc,dimana-mana disekeliling kita,orang-orang memegang handphone, tablet, notebook, dan jenis-jenis gadget terbaru lainnya. Anak-anak usia TK sekarang sudah bisa mengoperasikan komputer.Apalagi handpone,sudah pada ngerti apa itu touchscreen atau touchpad. Tinggal dikasih notebook, atau tablet, atau phone, anak-anak bisa langsung duduk manis, orang tua ga perlu lagi repot-repot ngeawasin. Amazing bukan?. Dan begitulah, generasi satu dekade dibawah saya dan seterusnya berevolusi menjadi generasi gadget.

Saya anak yang lahir ditahun 90-an, yang masih merasakan masa kecil tanpa teknologi aneh-aneh selain TV dan komputer segede gaban yang cuma bisa menjalankan satu aplikasi pada satu waktu.Dan saya senang, karena saya tumbuh dewasa ketika teknologi semakin maju.*bayangkan jika anda disuruh menyelesaikan tugas akhir anda dengan mesin tik, big NO*. I’m a huge fans of technology and inovation.Saya mengagumi cara kerjanya, kepraktisan dan kenyamanan yang dihadirkan. Mengagumi para penemu dengan otak ajaib itu.Mengagumi bagaimana bahkan berkomunikasi dengan orang diluar angkasa bisa dilakukan saat ini. Saya bahagia, ga perlu repot-repot mencari PC hanya untuk memeriksa e-mail atau mendatangi kantor pos untuk mengirimkan surat menanyakan kabar pada teman lama dan mesti menunggu berhari-hari untuk balasannya.

~ ~

Ok, mari kembali berandai, jika semua benda itu tidak ada, satu hari saja.

Apa yang sedang kita lakukan saat ini?

Saya, mungkin sedang menulis dengan tinta, dan bukannya keyboard.Jika ada tulisan yang salah, saya akan mengambil tip-x(masih adakah benda itu sekarang?) dan bukannya menekan tombol backspace. Dosen-dosen saya mengajar dengan kapur dan spidol, menulis satu-persatu yang dijelaskan, bukannya membaca apa yang ada dilayar. Kita akan tetap hidup, tapi karena kita sudah tahu betapa indahnya hidup dibantu teknologi, kita mungkin akan mati tenggelam dalam rasa bosan dan keluh kesah. Saya bersyukur, Tuhan menetapkan saya untuk lahir di jaman modern.

Hanya saja di satu sisi, ketika saya mencoba untuk human being, Saya risih. Ketika melihat anak-anak usia TK sibuk dengan gadget ditangannya, bermain game atau sekedar mengotak atik dan mengacuhkan orang-orang lain disekelilingnya. Melihat orang-orang di lingkungan publik sibuk dengan gadgetnya masing-masing atau menggunakan earphone di telinga, obviously said “don’t disturb me”.Atau bagaimana kita lebih sibuk dengan gadget padahal ada orang baru dikenal disebelah kita.Ketika bagaimana sulitnya mengalihkan perhatian.

Well, tidak semua seperti itu. Saya percaya masih banyak orang-orang bijaksana dijaman modern ini yang tidak membiarkan dirinya dikontrol keadaan. Tapi tampaknya, saya belum masuk kategori ini. Kamu?

Mirrors on the ceiling,
The pink champagne on ice
And she said “We are all just prisoners here, of our own device”
And in the master’s chambers,
They gathered for the feast
They stab it with their steely knives,
But they just can’t kill the beast 


Eagles – Hotel California

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s