Saya sedang membersihkan kamar sambil mendengarkan lagu dari winamp di laptop dengan mode shuffle, ketika winamp memutarkan lagu float, pulang. Reflek si saya, bergerak ke laptop, memindahkan ke lagu lain dan menghapus lagu tersebut dari playlist. Sedikit merasa bersalah, tetapi otak saya memaksa saya untuk “jangan mendengarkan lagu itu saat ini” .Bukan karena lagunya jelek, tidak mungkin akan ada di playlist saya kalau begitu. Tapi lagu ini terlalu memorial, mengingatkan saya pada kenangan-kenangan si adik lalu menghadirkan lagi rasa sesal dalam hati. Biasanya toh saya hadapi saja, tapi setelah sekian lama perasaan yang sama tidak jua hilang dengan intensitas yang semakin pekat, saya memutuskan “memaksa” diri saya untuk berhenti.

Ini kebiasaan buruk saya. Ketika sebuah jenis perasaan yang tidak saya suka tapi hadir dalam diri saya lalu mencapai satu titik jenuh, kecenderungan otak saya adalah mengskip perasaan itu, menjauhi segala sesuatu yang membuat saya mengingat kembali, benda-benda kenangan, pembicaraan-pembicaraan. Auto mode.  Saya pikir lagi, mungkin kalimat yang tepatnya bukan “tidak saya sukai”, tapi, ” saya takuti” . Saya takut pada perasaan-perasaan dengan intensitas tinggi, membuat saya tidak nyaman, takut tidak sanggup mengatasinya, karenanya saya cenderung menghindarinya. Padahal prosedurenya apa yang membuat kita tidak nyaman mestinya dihadapi, biar kita belajar. Tapi mungkin saya masih terlalu muda.
Bad me.Harus diubah, ya?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s