Journey to the northeast (2- Work Hard, Play Hard)

Susah sekali meyakinkan si ibuk bahwa tujuan perjalanan saya ke Sebatik adalah untuk bekerja, bukan jalan-jalan. Mungkin bunda tercinta sudah terlalu yakin anaknya yang satu ini kerjaannya maen-maen mulu.

Padahal tujuan saya kesana benar-benar untuk bekerja (nyambi jalan-jalan tapi,hehe).Pekerjaan saya dan partner selama di sebatik adalah mengukur dan mengambil beberapa data yaitu : nilai beberapa parameter kualitas air di beberapa titik sampel sepanjang pesisir pulau, data perikanan dan budidaya, keadaan ekosistem mangrove dan terumbu serta data-data sekunder tentang transportasi laut diperairan pulau ini. Data-data ini nantinya digunakan untuk kebutuhan zonasi pesisir perbatasan. Seperti yang saya bilang sebelumnya, ga ada elektro-elektronya :D. 

Syukurnya, pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan selama berkegiatan diorganisasi pencinta alam kampus sangat banyak membantu ketika harus terjun ke lapangan dan berinteraksi dengan komunitas atau masyarakat baru. Untuk hal-hal yang berbau keteknisan biologi saya serahkan sepenuhnya kepada partner, si saya jadi pembantu umum sahaja.hehe.

Hari pertama kami mengumpulkan data-data sekunder dari kantor-kantor kecamatan, syahbandar, dan pelabuhan-pelabuhan, juga melakukan observasi visual untuk bentang alam. Pulau sebatik tidak terlalu besar, kami selesai mengitari pulau dan mengambil data-data yang dibutuhkan dalam satu hari. Populasi pulau juga tidak terlalu besar, sebagian besar terpusat didaerah sebatik tengah, kebanyakan penduduk adalah Melayu dan Bugis. Logat dan kosakata bahasa penduduk sehari-hari terdengar seperti bahasa sulawesi di telinga saya, tapi ternyata berbeda. Sebagian besar arsitektur rumah disini berbentuk rumah panggung dari kayu, khas desa nelayan. Penghasilan utama masyarakat pulau ini dari menangkap ikan , berkebun sawit dan cokelat, dan budi daya.

Dermaga TNI AL 
 Perbatasan Timur Selatan
Pantai sepi berasa milik pribadi haha

Pekerjaan hari kedua adalah sampling ukuran kualitas air dengan beberapa parameter disepanjang pesisir pulau. Untuk kegiatan ini kami menyewa sebuah speedboat, ditemani oleh seorang bapak baik hati dari pegawai dinas perikanan, pak orin dan bang heru, nelayan sebatik.
 

Surveyor Centil

 Rencana awal mulai gerak jam 6 pagi tertunda karena hujan semalam membuat gelombang masih besar hingga pagi. Akhirnya kami bergerak jam setengah delapan. Tapi ternyataaaaa, berangkat jam segitupun ombak masih besar, apalagi karena menggunakan speedboat yang kecil, gelombang jadi lebih terasa. Setiap kali berhenti untuk mengukur, si perahu bergoyang kesana kemari dengan indahnya mengocok-ngocok perut. (Malam sebelumnya saya dan dinna berdiskusi panjang lebar apakah hari itu akan berpuasa, ato mencoba berpuasa hingga kemampuan, ato ga puasa sama sekali. Akhirnya setelah mencari masukan dari sana-sini dan berdasarkan saran dari beberapa sumber yang dapat dipercaya, kami ga puasa,karena pekerjaan yang cukup berat.hehe.)

Dalam 10 menit pertama perjalanan saya dengan suksesnya mengeluarkan semua sarapan pagi itu kelaut. Pemberitahuan saudara-saudara, rasa campuran susu dan roti yang setengah tercerna benar-benar tidak enak. 5 menit kemudian menyusul dinna ikut-ikutan mabuk laut. Beberapa saat kemudian saya kembali memuntahkan sisa-sisa isi perut saya, yang cuma tinggal cairan saja. Dan dinnapun melanjutkan mabok ronde duanya beberapa saat setelah saya. 2-2, Haha. Tapi setelah semua isi perut dikeluarkan, si perut rasanya plong sekali. 

Sebenarnya selain karena hujan dari semalam, badai di laut selatan saat ini memberikan pengaruh banyak pada tinggi gelombang di Indonesia bagian timur sini. Jadi ombak memang sedang tinggi-tingginya, apalagi kami memulai perjalanan dari perairan  yang berhadapan langsung dengan laut luas. Karena gelombang tidak menunjukkan gejala membaik, Bapak orin memaksa untuk menunda pengukuran hari ini. Tapi dengan sedikit bujuk-membujuk saya berhasil membujuk pak orin dan mas heru untuk tetap melanjutkan perjalanan mengikuti garis dalam perairan. Hamdalah, begitu memasuki perairan bagian barat gelombang sudah bersahabat. Pengukuran bisa berjalan normal kembali. Ketika diperairan barat, sempat ada lumba-lumba muncul selintas dipermukaan, sayang sekali cuma bang Heru yang melihat. Ternyata perairan sebatik juga menjadi perlintasan lumba-lumba.wahhhhh.

Kami sampai di perbatasan barat , desa bambangan pukul 01.00 lalu beristirahat sebentar disana. Lalu kembali kesungai nyamuk menyisiri pesisir pulau bagian dalam, karena lebih dekat kami bisa memperhatikan daerah pinggir dengan lebih detail.

Sebenarnya ketika ditawari proyek ini, yang terbayang di kepala saya adalah Indonesia Timur dengan pasir putih dan laut biru yang eksotis. Sayangnya saya belum seberuntung itu. Perairan dipulau sebatik tidak terlalu bagus, sebagian besar pesisir ditutupi hutan mangrove, ato tebing tanah. Hanya sedikit sekali bagian pesisir pulau ini yang berbentuk pantai. Dibeberapa tempat, perairan mengalami pendangkalan hingga jarak ratusan meter kelaut membuat airnya keruh kecokletan karena bercampur lumpur. Tapi perairan ini melimpah dengan hasil lautnya. Pemandangan menarik adalah, terrdapat banyak sekali dermaga-dermaga kecil disepanjang pesisir. Setiap desa pesisir memiliki dermaga. Istilah yang digunakan penduduk sini yaitu jembatan. Rumah-rumah yang berada diatas bibir pesisir terhubung oleh jembatan-jembatan ini.

Desa Nelayan

Muara Sungai

Dalam perjalanan pulang, bang Heru membawa perahu dengan kecepatan maksimal , sesekali manuver ekstrim untuk menghindari ombak besar, sukses membuat adrenalin saya melunjak dan baju basah kayap oleh cipratan ombak. Super menyenangkan. Haha. Membuat saya memikirkan kemungkinan untuk belajar mengendarai speed boat. Kami memasuki daerah sungai nyamuk ketika matahari tenggelam.

 Bener deh, langit sore musim panas memang dimana-mana selalu cantik.

Hari itu kami kembali ke hotel dengan baju basah kuyup, badan super pegel-pegel dan muka terbakar tapi hati senang.

Hari ketiga kami mengukur keadaan ekosistem mangrove. Kami mengukur di dua titik sampel. Pekerjaan hari itu di Sebatik sudah beres sebelum zuhur. Lalu kami langsung melanjutkan ke nunukan untuk mengambil beberapa data di kantor perikanan Nunukan, tapi jam kantor sudah habis ketika kami sampai di Nunukan. Malam itu kami menginap di Nunukan. Kembali ke kantor tersebut besok paginya, dan akhirnya berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan setelah sebelumnya mesti menghadapi sekretaris dinas yang super cerewet masalah birokrasi dan menganggap kami anak ingusan tidak mengerti prosedur.Huks,ya sudah, yang penting data dapat, pekerjaan kami untuk pengumpulan data selesaiiii. Alhamdulillah.Kami langsung berangkat ke Tarakan siang itu dengan speed boat, pesawat kami untuk pulang ke Bandung besok harinya jam 6 pagi dari bandara Tarakan.Hore, puyangggg.  😀 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s