Menikah? (1)

Sebagai bagian dari kawula berusia 20-an, salah satu topik yang harus dan sangat sering saya temukan dilingkungan pergaulan teman sebaya dan keatas adalah mengenai menikah. Topik ini muncul diantara ejekan sehari-hari, (selalu menjadi) topik utama diwaktu reuni dengan teman-teman lama, atau ketika ada teman sepantaran yang tiba-tiba curi star, yang mana dengan suksesnya menghadirkan galau lokal pada teman-temannya yang lain yang belum mendapatkan kesempatan.

Well, sebelum saya melanjutkan ngemeng-ngemeng ini, harus saya perjelas terlebih dahulu, mohon jangan salah artikan apa yang saya bicarakankan ini ini sebagai curhatan galau, pandanglah ini sebagai hasil observasi iseng terhadap lingkungan, pembicaraan ala orang dewasa yang saya lakukan dengan diri saya sendiri,  dan tentu saja sekedar intermezo disela waktu senggang saya yang berlimpah ruah saat ini, oke? 😀

Nah, ada beberapa poin yang sering dibahas terkait dengan isu ini diantara teman-teman, Saya akan coba menceritakan 4 diantaranya. Ada 2 sumber dari semua pertanyaan dan pernyataan  yang akan saya ajukan dibawah , pertama hasil pemikiran saya sendiri (yang mana merupakan hasil –uhuk- pengalaman hidup saya), kedua hasil observasi saya terhadap teman-teman dilingkungan saya (yang tentu saja tetap dipengaruhi oleh kemampuan saya menginterpretasi informasi, haha). However, ini adalah isu super sensitif ketika anda berusia 20-an dan hidup dinegara dengan budaya seperti Indonesia, ada beberapa hal yang akan saya sampaikan mungkin (pasti) akan memunculkan pro dan kontra dari teman yang membaca, tapi bukankah dalam mencapai pengertian yang lebih baik, manusia harus menyampaikan pandangannya terlebih dahulu?

Pertama, berapakah usia menikah ideal?

25.Itu standar ideal Indonesia.Di dunia nyata, pandangan orang-orang bervariasi sekali. Bisa lebih, bisa kurang. Saya menemukan banyak sekali teman saya yang ingin menikah di usia 20 awal. Alasan yang dikemukan macam-macam. Berikut listnya.

  1. Alasan agama -ini yang paling banyak-,
  2. karena merasa sudah siap dan merasa ga guna lagi pacaran lebih lama *bisa jadi bagian dari alasan pertama juga*,
  3. sebagai wujud komitmen *bisa jadi bagian dari alasan pertama juga*, 
  4.  karena sudah sangat cinta dan yakin dengan pasangannya
  5. biar usia anaknya ga jauh-jauh sama dia  jadi bisa jadi teman dekat  sama anaknya *my friend, yositalida said it, I count it as good reason dear , =)
  6. karena pengen aja – khayalan paling romantis yang ingin diwujudkan- (biasanya cewek),
  7. ada yang karena pengen segera melanjutkan pendidikan  (yang ini biasanya cewek, karena takut ga laku kalo udah keburu “ketinggian”)
  8. *silahkan ditambah*

Tapi jangan salah, kenyataannya banyak juga orang yang tidak mempermasalahkan usia lebih dari 25 tahun untuk menikah.Alasannya,

  1. lebih baik menikah dalam keadaan sudah mapan 
  2.  Mencari pasangan yang terbaik
  3. Lebih matang lebih baik
  4. Tidak merasa usia adalah masalah dalam pernikahan,
  5. Anything else?

Yah, saya tidak menemukan banyak variasi alasan untuk golongan ini.

Catatab: Seorang bisa memiliki satu atau beberapa alasan sekaligus.

Saya penganut demokrasi, jadi jawaban untuk pernyataan inti saya untuk topik ini, menurut saya dikembalikan kepada kepercayaan masing-masing.Karena menikah adalah pilihan hidup, apapun pilihan orang harus dihargai bukan?begitulah cara demokrasi bekerja. *Maafkan sifat diplomatis saya,tidak tertolong, =) *

Hal yang menarik perhatian , sepertinya pemilihan usia menikah cenderung dipengaruhi oleh budaya di keluarga dan terutama orang tua. Sebagai contoh ,rata-rata keluarga saya menikah pada usia di atas 25, ibu saya menikah di usia 27, dan dalam pikiran saya, normal-normal saja jika seseorang menikah diusia lebih dari 25, atau lebih dari 30. Seorang teman saya, ibu nya menikah di usia 20 tahun, dan keluarganya rata-rata menikah di usia kurang dari 25, karenanya dia merasa aneh jika wanita menikah terlalu tua. Atau seorang teman, bapaknya menikah di usia 32, dan dia bercita-cita menikah di usia 35 *Dan pacarnya berkali-kali ngambek tiap dia bercanda dengan hal ini , 😛 *.

Selain keluarga dan orang tua, tentu saja yang berpengaruh adalah lingkungan.Jika teman-teman dilingkungan seseorang kebanyakan memilih menikah pada usia muda, cenderung si dia kepengin nikah muda, berlaku kebalikan.

Personal-thing nih, saya memiliki respek khusus untuk mereka yang mengkongkritkan keinginan mereka menikah diusia relatif muda. Untuk yang cowok, saya memandangnya sebagai cowok gentel yang berani untuk berkomitmen dalam usia muda. Untuk yang perempuan, saya memandangnya sebagai seseorang yang level kedewasaannya naik satu tingkat lebih dari teman-teman yang sepantaran yang belum menikah, ada sangat banyak hal yang seorang wanita lepaskan ketika memutuskan menikah, dan hanya yang sudah cukup dewasa berani melakukannya .Yang saya tahu saya ga sanggup melakukannya.

Pertanyaan usilnya, sudahkah anda menentukan pada umur berapa anda ingin menikah disertai alasan yang “masuk akal”? :).

To be continoued to part 2.

·     P.s : Inspirasi menulis ini dari berita pernikahan seorang kakak angkatan yang ga disangka-sangka , kk Muhammad Arif, koordinator asisten sy di lab dulu, dan sesama warga sunken court- Happy for him. Yang jelas undangan dia berhasil membuat beberapa orang tertantang untuk segera menyusul  =))

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s