Live your life

Seorang teman bercerita pada sesi dinner-bareng iseng disuatu malam minggu lalu tentang bagaimana dia baru merasakan cara “berkeluarga” didalam keluargnya setelah dia lulus kuliah.Bagaimana berperan sebagai kakak, sebagai anak lelaki dewasa, dan semacamnya. Bapak kandungnya meninggal waktu dia masih bayi, si ibunya menikah lagi dengan seorang bapak yang dia definisikan ” sangat bertanggung jawab secara finansial, tetapi tidak bagus dalam hal komunikasi”, lalu masa kecilnya dihabiskan bersama sang nenek dikampung. Tinggal dirumah bersama ibu-ayah dengan interaksi alakadarnya selama smp-sma, lalu ketika kuliah sebagian besar waktunya dihabiskan dikampus, lab, atau nomaden dari satu kosan teman ke kosan teman lain.Kadang-kadang dia menyewa kamar kost.Sesekali pulang setor muka, padahal jarak rumahnya dan kampus hanya 15 menit. Dia hanya tahu apa itu interaksi keluarga dan peran sebagai anggota keluarga itu dari cerita teman-teman,observasi lingkungan sekitar, atau dari film. Barulah setelah lulus kuliah, dia baru mulai merasakan peran sebagai anggota keluarga, dalam konteks tanggung jawab. Hampir 5 tahun saya mengenalnya dan ini pertama kalinya dia bercerita selengkap itu.

I am not good with main point.haha.Karenanya maafkan kalau si saya terlihat sering bertele-tele dalam kalimat-kalimat saya .

Pelajaran pertama saya saat itu adalah tentang belajar memahami realita-realita yang terjadi dalam kehidupan kita. Banyak sekali hal yang tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan.Klasik. Dan pelajaran kedua, adalah tentang belajar mencintai proses kehidupan.Hal-hal baik, hal-hal buruk, yang mengantarkan kita pada tempat kita masing-masing saat ini. Dan dalam kedua hal ini, teman saya tadi adalah salah satu contoh yang baik yang nampak dalam kehidupan nyata saya.

Si teman saya dengan segala keadaannya, mungkin dari satu sudut pandang dibilang “tidak normal.Tapi dia masih bisa menyelesaikan kuliah tanpa sedikitpun pemasukan dari orang tua.Ada tulisan cum laude di ijazahnya. Dia menjadi teman yang menyenangkan, partner kerja yang baik.Calon dosen cemerlang masa depan”. Dia memilih tetap mencintai dan menghargai hidupnya apa adanya, menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya.

Pelajaran dari pelajarannya, adalah tentang tidak membiarkan keadaan dan realita menghambat kita melakukan hal-hal baik, mencapai yang terbaik yang bisa kita capai.
Not an easy thing to do, but worth a try.

“Be happy in the moment, that’s enough.Each moment is all we need, not more” 
– Mother theresa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s