Not everything turn out like what you want to be

Not everything turn out like what we want, itu first rule-nya.Kemarin saya lupa sama aturan pertama itu, dan rasanya kesal sekali ketika sebuah kecelakaan bodoh (which is mostly caused by my self) merusak rencana yang sudah saya susun baik-baik, dan tentu saja rugi tabungan yang sudah saya persiapkan beberapa lama.Rencana untuk bermain dilaut sepuas-puasnya, sepedahan kelilingin pulau,mandi matahari,ngecengin bule, dan makan ikan sepuas-puasnya dikarimun berakhir dengan konyol dihari pertama, ketika saya (baru?) menyadari bahwa rem sepeda yang saya pakai blong saat saya sedang diturunan super terjal.

Endingnya dapat ditebak, badan remuk-redam-lebam, muka lecet lecet, dan luka robek yang dihadiahi 5 jahitan.Jahitan pertama seumur hidup saya.Yay, what a great birthday present.Lalu, menghabiskan semalaman dikamar sendirian meringis menangis menahan sakit saat efek anestesi mulai hilang. Semua rencana dihentikan saat itu juga.Besoknya si saya langsung pesan tiket pulang.

Tempat saya jatuh konyol itu namanya Letter S-tempat paling curam kalo kata masyarakat dikarimun-.Menuju desa logendele, kearah timur. Jalanannya sepi , hanya sesekali orang lewat.*ceritanya mau sepedahan keliling pulau*.Pemandangannya bagusss, ada hadiah pemandangan lepas laut jawa yang tenang dari ketinggian. Sayangnya saya telat menyadari bahwa turunan setelahnya super curam, dan rem sepeda blong.Begitulah.Saya tahu bahwa saya akan jatuh, tidak ada keajaiban yang akan menghentikan sepeda ini, dan well,stupidly, yang saya teriakan waktu itu adalah , “mamaaaaa“.

Dan begini kira-kira kronologinya setelah jatuh :

  • 10 menit pertama saya cuma duduk diam, meringis meredakan rasa mual diperut karena  tersodok kencang dengan stang sepeda, rasa sesak yang sangat di ulu hati, dan kunang-kunang dikepala
  • Menit berikutnya saya menyadari bahwa sepedanya patah
  • Mikir-mikir berapa jauh menuju desa ,dan bagaimana cara saya mengangkat si sepeda
  • Menyadari bahwa ada darah merembes dicelana saya
  • Berdiri, niatnya memperbaiki sepeda, tapi mata saya langsung berkunang-kunang, lalu  menyadari bahwa saya tidak akan kuat mengangkat sepeda
  • Pasrah.nunggu orang lewat. 
  • Foto,foto tkp dan luka dimuka saya.*sempat-sempatnya faaa*
Wasyukurillah, ga nyampe 10 menit kemudian ada yang lewat dengan sepeda motor, dan langsung berhenti menyadari saya mengalami kecelakaan, lalu menawarkan diri mengantarkan saya ketempat penyewaan sepeda. *haru :_)*.
—-

Humm.Not everything turn out like what we want,eh?

Setelah sakit ini mulai reda dan saya sudah berada dikamar saya sendiri, mulai sedikit bisa berpikir jernih, menata pikiran dan berpikiran positif, saya pikir saya mendapatkan banyak hal dari kecelakaan bodoh ini.

Ultimate, tentu saja teman, dan manusia-manusia berhati malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk saya hari itu.

Malaikat pertama saya jumat itu, namanya mas Yuda, yang pertama kali mendapatkan saya kecelakaan.tinggalnya di legondele.Dia lagi bersama ibu dan adiknya saat itu, merekaberdua menunggu diletter S sewaktu mas Yuda mengantarkan saya ke desa karimun.

Malaikat-malaikat saya berikutnya adalah mbak Lis *yang punya penyewaan sepeda* dan keluarganya.Mereka yang merawat saya pertama kali, lalu mengantarkan saya ke Bidan. Mbak lis bahkan ga marah waktu saya bilang sepedanya patah dan masih saya tinggalkan dileter S.Mbak lis menunggui saya selama saya dirawat sama mbak Bidan cantik nan baik hati.

Malaikat berikutnya tentu saja mbak Bidan cantik yang ramah dan super sabar menghadapi saya yang ketakutan, teriak-teriak, dan nangis-nangis selama dijahit.*saya ga pernah dijahit, wajar kannnn,dan lebih paniknya karena dijahitnya dekat organ vital*

Malaikat berikutnya, mbak-mbak yang kerja dipenginapan. Semalam itu bolak balik mengantarkan jahe panas, se termos air panas untuk mengompres luka, dan makan malam.

Dan ada lagi, mbak Vicky. Yang ini saya bahkan belum pernah ketemu.Yang punya home stay mulya indah. Awalnya saya mau menginap ditempat si mbak, tapi ga jadi.Si mbak yang bahkan belum jadi ketemu, tapi menanyakan kabar saya waktu tahu saya kecelakaan dan memberikan doanya untuk saya.

Saya baru berada dikarimun dalam hitungan jam, dan saya diperlakukan layaknya saudara oleh mereka. Setulus hati, tanpa pamrih.Kalo seandainya saya tidak jatuh, kemungkinan saya tidak akan berinteraksi banyak dengan mereka.Mungkin saya seperti pengunjung lainnya, berinteraksi sekedarnya dengan warga sekitar. Well, jujur saya bersikap layaknya turis waktu itu, strange, hanya berinteraksi sekedarnya, sibuk dengan kesenangan saya sendiri.Saya percaya Tuhan mengingatkan manusia dengan cara ekstrim ketika manusia mulai terlalu bebal, mungkin saya mulai bebal. Karena Tuhan masih sayang saya, Tuhan menegur saya.Pelajaran pertama dari hari itu.

Ada satu manusia baik hati lagi, yang ini teman saya dari 3 tahun lalu.Tapi saya ga rela bilang dia manusia berhati malaikat.Bisa terbang kelangit biru nanti.Dia mau jauh-jauh datang dari magelang ke jepara waktu saya mintain bantuan untuk menemani saya selama dijepara sebelum pulang ke Bandung.Saya baru nyadar magelang-jepara itu 4 jam kemudian.Sungguh. Homemate saya bilang, saya menyiksa anak orang.Saya juga tau, jadi saya minta maaf menyusahkan dia sebegitunya.Tapi dia bilang,
“Nyante ah, kayak apa aja”.

Saya jadi ingat, dulu waktu dia dibandung,dia juga mau saya ajak menemani saya belanja bahan kain dan high heels.Mengingatkan saya pada seorang kakak, yang dulu juga sering melakukan hal-hal kecil tak terduga, tapi tak terlupakan.Saya klasifikasikan dia sebagai sebagai manusia baik hati saja ya.

Pelajaran kedua, saya jadi bisa bertemu dengan teman-teman SMA saya yang kebetulan lagi ngumpul hari minggunya. Ketemu mereka itu kayak ketemu charger, mengembalikan motivasi dan semangat.sungguh.

Ada hal yang saya sesali juga waktu itu, sedikit.Sedikit kecewa, sedikit sedih, pada seseorang.Tapi sudahlah,que sera.Not everything turns out like what we want.

***
Not everything turns out like what we want,saya tahu ini dari dahulu kala.

Dari sinilah hadir istilah “plan atur-atur” dikalangan kami pejalan kaki.Artinya, kalau hal tidak berjalan sesuai  rencana, pintar-pintarlah memodifikasi keadaan biar tujuan tetap tercapai.Saya baru menyadari, dua perjalanan terakhir saya berakhir dengan “plan atur-atur”.Tapi, ekstrim.

Ketika rencana-rencana anda belakangan berakhir ekstrim dan tidak sesuai rencana anda,apa yang ada dalam kepala anda?Saya mencoba merangkai logika dengan keadaan.

Ada yang salah,bukan?Hummmm.Ada evaluasi pribadi untuk saya, tapi saya simpan dalam catatan pribadi saja.

***
Not everything turns out like what we want.Tapi setiap perjalanan, tetap memberi hikmah dan pelajaran.Bagaimanapun melencengnya perjalanan itu dari keadaan awal. Atau bagaimanapun keadaan tiba-tiba diluar kendali anda.

Jadi sekalipun dalam perjalanan-perjalanan itu saya kehilangan teman tersayang, jatuh, get lost, ditinggalkan seseorang, atau kehilangan hal-hal yang saya cintai, saya masih akan berjalan kaki.Melihat dunia, ciptaannya, memperhatikan.Saya selalu percaya kalau saya terus berjalan, masih akan ada jutaan kebaikan-kebaikan dan keajaiban kecil yang akan saya temui didepan sana yang tidak akan saya temui kalau saya hanya berkutat dengan rutinitas.Even not everything turn out like i want, i’ll keep dance with my life. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s