Terlalu dekat

Beberapa hari yang lalu sebuah bayangan melintas dibenak, menetap beberapa saat.

Entah sudah pukul berapa dini hari , tapi mata tak mau juga berkompromi. Istirahat dengan baik adalah hak yang tak pernah mampu kuberikan pada diri sendiri. Dan akhirnya yang kulakukan hanyalah berjam-jam berbaring dengan mata terjaga di kegelapan kamar.Lalu bayangan itu melintas.Sebuah bayangan, tentang kematian.

Pikiran yang terjaga di fisik yang sedang beristirahat tidak baik. Pikiran mengelana tanpa batas dan kendali saat itu.Seperti ketika bayangan itu datang. Aku diam.Aku terdiam.Apa yang kupikirkan?

Sepi dan gelap duduk disebelahku.Mereka tak berbicara apa-apa, tak bertanya apa-apa.Hanya duduk diam disebelahku.Menatapku tanpa kedip. Aroma mereka terlalu pekat, aku tak bisa bernafas dan tak bisa melakukan apa-apa. Yang kurasa adalah rasa sesak membuncah, aku akan meledak dari dalam.Tapi ledakan itu tak kunjung datang.Aku hanya merasa sesak, tanpa akhir.

Yang kemudian muncul dibenakku, apakah ini rasanya mati?bagaimana rasanya di dalam kubur?

Sesepi apa?Segelap apa?Yang aku tahu berikutnya aku menangis terisak kencang.Entah bagaimana.Sebuah suara menegurku.

Aku bangun, menyalakan lampu lalu ke kamar mandi. Wudhu.

Ingatan tentang sensasi sesak yang terasa tadi masih pekat.Akhirnya aku menghabiskan malam dengan membaca hingga terlelap, dengan lampu menyala. Begitu bangun tidur, aku sudah lupa.

Baru saja, aku mendapat kabar kematian.Ayah dari seorang teman baik.Aku tak kenal orang tuanya, tapi aku berduka untuk dia yang ditinggalkan.Kabar kematian adalah kelabu.Dan saat ini, kelabu itu kembali mengingatkanku tentang bayangan kematian yang melintas beberapa hari lalu.Mengingatkanku tentang sensasi sesak tak berujung.Apa yang sesungguhnya mereka rasakan disana?

Bagaimana kalau besok itu Ayahku?Ibuku?Teman terbaikku?Orang yang tersayang?

Membayangkan semua orang-orang tersayang akan menjalani sepi itu suatu saat nanti memunculkan rasa melankolis yang kuat.Ketika puzzle ku harus hilang satu persatu.

Tapi bagaimana kalau itu aku?siapkah?

Ah, mungkin Tuhan yang sedang memberiku pukulan sayang agar aku bangun.

Dan sungguh kematian itu lebih dekat daripada urat nadi.

 

Bandung, 24 Desember 2011

Semoga Almarhum diterima disisi-Nya, semoga keluarga yang ditinggalkan dikuatkan.

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s