Dongeng dari Jendela Kereta

Menonton pemandangan dari jendela kereta seperti menonton film animasi singkat tanpa suara, seperti film bisu. Ceritanya berganti-ganti dengan cepat, tiap scene hanya bisa dinikmati beberapa detik, kecuali waktu kereta berhenti cukup lama ketika menunggu kereta lain lewat atau saat berhenti di stasiun.Dan aku menyenangi pemandangan itu, tapi hanya untuk ku tonton dari jendela kereta.

“Darimana nak?”

Satu pertanyaan terlontar dari ibu paruh baya dibangku depan.Dia menggunakan rok dengan panjang beberapa cm dibawah lutut, kemeja lengan pendek dengan warna senada. Rambutnya disanggul rendah.

“Bandung bu..”

“oh..”,si Ibu membalas dengan reponse singkat.
Aku membalas response ibu itu dengan senyum ringkas,  maaf, saya tak terbiasa mengobrol dengan orang asing. Aku kembali melempar pandangan keluar jendela.

Sebuah pemandangan dipampangkan,

Sekumpulan Ibu-ibu menyuci dikali, airnya kecoklatan. Mengingatkan pada kopi hitam yang diaduk dengan creamer, tapi mesti aromanya tak sama.

Selang beberapa detik lalu berganti adegan,

Melewati pemukiman dengan rumah-rumah identik berdempetan satu sama lain.: genteng-genteng berjamur dan melapuk. Halaman belakangnya menghadap ke rel kereta, kamar mandi tanpa atap dan jemuran pakaian.Antara halaman belakang rumah yang sempit dan rel kereta dipisahkan oleh kali kehitaman dengan sampah mengapung dipermukaan, menumpuk dibeberapa tempat, menimbulkan busa-busa  kekuningan disekitarnya.

Lalu berganti lagi,

Anak-anak kecil bermain, bertelanjang kaki bermain bola dilapangan luas yang rumputnya tumbuh tak beraturan, atau mengejar layangan putus bersama-sama, saling meneriaki satu sama lain bertarung untuk lebih dahulu mendapatkan layangan.

Mereka yang hidupnya dipinggir rel kereta, beberapa kali sehari mendengar suara kereta meraung-raung.Dilahirkan dan dibesarkan ditempat yang sama, suara kereta yang meraung-raung menjadi makanan sehari-hari. Realita yang mewujud dongeng bagiku. Yang hanya menontonnya dari jendela kereta saat sesekali aku harus menggunakan kereta untuk keluar kota, tanpa pernah benar-benar bersentuhan. Terkadang dongeng itu disempilkan dalam artikel-artikel singkat dikoran atau ditayangkan beberapa menit ditelevisi. Kadang-kadang dipamerkan di foto-foto dalam pameran sosial, atau di publikasi kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan segelintir orang.Disaat-saat senggang kujadikan bahan perbincangan dengan teman-temanku,  saling menyatakan simpati,  lalu hilang terlupakan saat kembali tenggelam dalam rutinitas.

Terkadang ceritanya menjemu, berjam-jam melewati hutan karet dan sawah.Adegan ini bisa dilewatkan dengan tidur.

Terkadang lagi, adegan sinetron yang mewujud realita.

Seperti sebuah momen mempertontonkan pasangan muda-mudi usia nanggung diatas motor tua, bercengkrama menunggu kereta lewat dipersimpangan.Lelaki berkata sesuatu, gadis tersenyum malu-malu lalu mencubit pinggang lelakinya. Si pria pura-pura kesakitan tapi raut muka kesenangan.

Tapi aku tidak pernah menonton semua pemandangan ini dari kereta ekonomi, ini pertama kalinya.

Kereta ekonomi dan stasiunnya sama dongengnya dengan perumahan pinggir rel kereta untukku.Apa yang hanya kutonton dari layar kaca dan kubaca dari artikel singkat di koran.Bahan perbincangan diantara teman-teman terkadang. Dan hanya sebatas menjadi perbincangan,tak lebih.Berita-berita kejahatan, atau kecelakaan membuatku untuk tak tertarik untuk masuk terlibat kedalam dongeng itu.

Kemudian seorang teman menantangku,

“Halah, Lo selalu aja pake jasa agen wisata tiap kali mau jalan.Lo tinggal datang dengan barang-barang lo, duduk manis, dan semuanya udah disediain.Nyampe ditempat foto-foto,trus udah balik Apa serunya sih?Nonsense tau semua pengalaman lo.Semua orang juga bisa kalo punya duit”

“yang ga nonsense apa dong?”


“cobalah, sesekali jalan-jalan sendiri, pake transportasi rakyat,kereta ekonomi tuh, cobain pengalamannya”

Dan dia berhasil membuat aku tertantang.Disebuah akhir minggu, aku mengemas pakaian untuk 2 hari perjalanan, lalu berangkat ke stasiun khusus kereta ekonomi. Di stasiun aku memilih tujuan sebuah kota wisata yang belum pernah kukunjungi, acak, karena kereta itu yang jadwalnya tidak membuatku harus menunggu terlalu lama.Keberuntungan pemula tampaknya, sehingga aku mendapatkan tempat duduk disaat kereta penuh sesak dengan penumpang, hingga bahkan lorong keretapun sulit dilewati karena dipenuhi penumpang-penumpang yang berdiri.

Aku merasa seperti Alice in the wonderland.Tiba-tiba masuk kedalam dunia yang selama ini hanya kubaca di buku. Tapi wonderland yang kutemui bukan tempat ajaib dimana ada bunga-bunga raksasa, manusia-manusia cebol, atau kacang-kacang ajaib.

 Yang kulihat adalah Manusia-manusia berdesakan. Aroma-aroma menguap bercampur baur : aroma tubuh, aroma parfum, aroma makanan dan minuman dari penjual asongan, aroma minyak kayu putih (ada yang mabuk mungkin).Udara memekat, jenuh.Wajah-wajah kegerahan menahan panas dengan keringat mengalir deras dipelipis,menumpuk diujung hidung dan  diatas bibir. Aku merasakan keringat mengalir dipunggungku digaris tulang belakang, dan disela paha.

Daging-daging manusia beragam jenis pekerjaan dan sifat. Gadis muda pekerja pabrik, Bapak tua pensiunan tentara, Ibu penjual pasar, Lelaki usia tanggung, bertato entah bekerja apa, anak-anak pengemis, pedagang asongan, seorang bapak mesum yang memanfaatkan kesempatan seperti ini meraba gadis yang sedang tergencet keramaian (aku melihatnya dengan jelas, si gadis tampak tidak menyadari karena terlalu ramai).

Beberapa meter dariku ada seorang ibu-ibu muda berdiri yang sedang menggendong anaknya,mati-matian melindungi anaknya agar tak tergencet keramaian.Tidak jauh dari sana seorang ibu tua berdiri, bersandar pada sandaran kursi, kedua tangannya mengenggam sandaran kursi diseberangnya.Semua orang bertahan dengan posisi ternyamannya, tak ambil peduli.

Aku memperhatikan, tapi sama saja dengan mereka yang tak memperhatikan, atau yang memperhatikan tapi pura-pura tak tahu, aku tak berbuat apa-apa.Mereka terlalu jauh dari tempat dudukku.Tapi tidakkah itu cuma alasan yang kuciptakan?Akhirnya aku tak berbuat  apa-apa.Hanya duduk manis menyaksikan semua dongeng-dongeng yang selama ini hanya kubaca dari berita-berita.Dan sekalipun aku berada disini,aku seperti berada didunia yang berbeda.Kurasakan selongsong kaca muncul membatasi diriku dengan segala sesuatu disekeliling.Atau mungkin aku yang secara sengaja menumbuhkan selongsong itu?
Karena tanpa sadar pikiranku mengatakan ini bukan duniaku dan orang-orang ini bukan bagian dari duniaku?karena kudapati dongeng layar kacaku tak sedramatis dan se-heroic yang kupikirkan saat aku harus menjalaninya sendiri?
Mendapati pikiranku berpikir seperti itu aku tersenyum mengejek diriku.
Pathetic.Bukankah kamu orang yang mudah bersimpati dengan orang lain?masih cukup simpatimu sekarang dalam keadaan seperti ini?

Dan aku kalah di babak pertama dongeng ini.Aku si superior di keseharianku : si pintar yang baik hati, berdedikasi terhadap apa yang kukerjakan, teman yang menyenangkan, supel, dermawan.Not a narcissist, but people around me said that.Hari ini aku hanya bisa jadi orang yang tak berarti tak melakukan apa-apa di dunia dongeng ini. Dalam keadaan serba terbatas, aku menjaga mati-matian agar kenyamanan yang kudapatkan dengan susah payah tak dirampas.Semua sifat egois dan apatis mengapung kepermukaan.Dan meskipun ada sedikit perasaan bersalah dan malu muncul , tetap saja aku tak berusaha mengubah keadaan.Dan aku menajdi bukan siapa-siapa, sama saja seperti orang lainnya.

Aku melirik ke arah ibu yang tadi.Ternyata dia masih memandangiku.Si ibu tersenyum, aku membalas tersenyum.Tampaknya ingin mengobrol.

Perbincangan dengan orang asing adalah benda langka ditransportasi publik kelas bukan ekonomi. Lihat di Bandara,travel,atau stasiun.Orang-orang duduk diruang tunggu, menyibukkan diri dengan aktifitas masing-masing : gadget, majalah, buku.Lalu kendaraan
datang, orang-orang berdiri mencari tempat duduk masing-masing. Sistem-sistem diatur agar penumpang merasa senyaman mungkin, tidak pernah terlihat overkapasitas.Selama mereka sanggup membayar tarif yang ditetapkan.Diperjalanan, penumpang kembali menyibukkan diri dengan aktifitas masing-masing.Begitu hingga sampai di tujuan.Tak berinteraksi satu sama lain

“mau kemana bu?” aku akhirnya memaksakan diri berbasa-basi, menepis rasa bersalah yang menyeringai lebar.

“pulang kampung neng..”

“oh, ibu tinggalnya dimana?”

 Dalam 5 menit percakapan pertama aku sudah mendapatkan data-data yang dibutuhkan tukang sensus. Daerah domisili, pekerjaan, jumlah anak, keadaan ekonomi keluarga.15 menit berikutnya, aku sudah tau silsilah keluarganya beberapa generasi dan konflik-konflik didalamnya.Anaknya menderita kaki gajah, suaminya pergi entah kemana.Anaknya ditinggal dikampung bersama orang tuanya dan dia bekerja bekerja di sebuah pabrik di Bandung untuk membiayai perawatan anaknya.Tiap minggu dia pulang, dengan kereta ekonomi, karena hanya itu kapasitasnya.Dongeng yang biasanya hanya kubaca dari berita.

Sesaat seperti ada yang mengetuk di pintu simpati.Tapi sesaat lagi kusadari aku tak bisa berbuat apa-apa.Kudapati semua dongeng-dongeng itu mewujud realita dan aku tak sanggup menerimanya.Kubayangkan penumpang yang disebelah ku, dibangku yang lain, orang-orang lain dikereta ini, apa lagi ceritanya?Dongeng mana lagi yang akan kudapati mewujud realita?Dan pun saat aku mengetahui bahwa itu realita, adakah yang bisa kulakukan?adakah yang bisa kuubah? secicip rasa menghimpitku.You can’t change anything, you are nothing.

Kudengar beberapa orang bercerita disekitarku, membumbuinya dengan humor-humor ironis,menghasilkan tawa-tawa ironis.Seolah menyampaikan padaku,

“kami tak butuh simpati anda tuan,kami tak butuh orang yang mengasihani kehidupan kami  atau mendramatisir realita hidup kami,kami bukan objek”

Tergugu, kupastikan selongsong kaca ini tertutup rapat tanpa celah.

“Kenapa, alergi ya ternyata?”
“damn, diam kau!”
Dunia sempurnaku meretak.Dongeng itu nyata.Semua terpapar apa adanya tanpa butuh interpretasi macam-macam,sederhana saja. Sayangnya semua kesederhanaan ini ternyata terlalu banyak bagiku.
“diamlah,please..”

S
i ibu mengakhiri ceritanya, dan kututup perbincangan dengan senyum tipisku.Kami sama-sama melempar pandangan keluar jendela,sama-sama menjaga diri dalam diam.Mestinya dia mengerti, aku hanya seorang asing yang bukan siapa-siapa, yang kebetulan duduk sebangku dengannya pada kereta ini yang tidak bisa membantunya apa-apa.Jika lain kali kami bertemu, kami mungkin akan berkenalan lagi dari awal, lupa pernah berbincang suatu saat diwaktu lalu.Atau mungkin juga justru karena aku seorang asing yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya, dia dapat dengan mudahnya menceritakan semua hal dalam hidupnya.Hanya sekedar melepaskan sesak yang disimpan dalam diam, karena kesehariannya tidak menyisakan ruang untuk bercerita atau mengeluh.

Aku semakin mengkerut dalam selongsong kacaku, menjaga jarak sejauh mungkin dari segala sesuatu yang ada disekelilingku saat ini tapi sambil tetap memasang senyum tipis.Awas agar tak ada orang yang mendapatiku ketakutan karena dongengku mewujud realita.Aku ketakutan akan keterbatasan.Ketakutan andai suatu saat keterbatasan mengambil kebahagiaanku. Ketakutan menyadari keterbatasan memaksa apatis dan egois mengendalikan tindakanku, karena aku takut tak mendapat bagian.

Kemudian kami larut dalam diam.Beberapa saat si Ibu sudah tertidur sambil memeluk erat tasnya.Aku masih memandangi adegan-adegan berganti diluar jendela.Kereta memelan, memasuki sebuah stasiun.Stasiun tua di sebuah kota yang terasa tua. Rel-rel berkarat, tiang-tiang berkarat, bahkan udarapun terasa berkarat

Sebagian besar penumpang distasiun ini sehingga kereta jadi melompong.Aku pindah duduk kebarisan bangku seberang didekat pintu yang kosong.Mencari sedikit ruang privasi.Aku setengah sadar ketika kereta mulai berjalan pelan meninggalkan stasiun, mulai mengantuk.Tasku kutaruh dipangkuanku untuk bantalan.Saat keadaan setengah sadar menahan kantuk itu tiba-tiba kurasakan ada yang menarik tasku.Butuh waktu beberapa detik sebelum aku berteriak maling, dan si maling sudah loncat keluar kereta sebelum ada yang berhasil menangkapnya.Kereta melaju semakin kencang, dan aku tidak mungkin ikut loncat mengejar si maling.

Oke.Babak apalagi ini?

Orang-orang mengerumuniku, bertanya macam-macam, sementara aku masih diam karena kaget. Antara percaya dan tidak aku sedang berada disebuah kereta dikota yang berjarak belasan jam dari kotaku, tidak mengenal siapa-siapa, dan tidak punya apa-apa.Dan tiba-tiba
dalam babak ini aku menjadi tokoh , si lemah yang dijahati dan menunggu seseorang datang membawa keajaiban.

Oke, mana keajaibannya?mana pahlawannya?Hayolah datang, save me.

 Bodoh.

Lalu aku pulih dari linglungku.Sadar orang-orang mengerumuniku.Aku kegerahan, pertanyaan-pertanyaan dan simpati yang tak membantu.

“oh, udah pak, ga papa, nanti saya lapor aja sama polisi distasiun berikutnya..”

Dan setelah beberapa basa-basi dan memperlihatkan bahwa aku dalam keadaan tenang, aku berhasil membubarkan orang-orang yang mengerumuniku.Aku diam sambil memikirkan apa yang harus ku lakukan begitu sampai dikota tujuanku.Damn.semestinya aku tak meresponse tantangan itu.Harusnya kubiarkan saja semua ini tetap menjadi dongeng bagiku.

Si ibu yang tadi berbincang denganku ternyata sudah duduk disampingku.

Dia tersenyum tipis sebelum berbicara, mungkin itu kebiasaannya.Aku baru memperhatikan bahwa dia tidak menggunakan lipstik, tidak juga bedak.Tidak punya anggaran untuk hal-hal sekunder seperti itu mungkin.

“apa aja yang ilang?”si Ibu bertanya

“semuanya bu, cuma tinggal sedikit uang disaku saya..”

” nanti dikota mau gimana, ada kenalan?”

“enggak bu, nanti paling ke kantor polisi aja, minta bantuan buat tiket balik, nanti aku langsung balik aja ke bandung…”

“oh..”
Si Ibu tidak bilang apa-apa lagi, dan kami kembali dalam diam.Beberapa saat dia minta izin kembali ke bangku dia duduk semula.

Kereta memasuki stasiun akhir, kota tujuanku.Lajunya terus semakin pelan lalu akhirnya berhenti.Orang-orang sibuk bersiap turun.Si ibu juga mengemasi barang-barangnya dan bersiap turun.Aku masih duduk di bangkuku. Kutunggu hingga kereta sepi, tidak ada yang kukejar lagi.Si ibu juga belum turun.Lalu aku berdiri dan si Ibu juga ikut berdiri.Dia berjalan terlebih dahulu menuju pintu, tetapi kemudian kembali lagi menghampiriku.

” ini nak, uang cuma sedikit, tapi cukup buat makan hari ini dan balik lagi ke bandung..”

“ah Ibu, ga usah..nanti aku minta tolong ke polisi aja”

“gapapa kok neng, orang kesusahan ya harus dibantu, walau ga bisa bantu banyak..”


aku diam, ragu sesaat.

“kenapa?bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu dari tadi?seseorang yang datang tiba-tiba dengan bantuan?

“kupikir kisah penyelamat itu cuma dongeng yang diceritakan sebelum tidur, aku tak mengharapkannya datang”

“Memang apa yang kau harapkan akan datang?super hero berjubah dengan senyum menawan dan sifat tanpa cela?”

“…”

“You are nothing”


“Gapapa neng, terima aja..”

dia menaruh uang tersebut dalam tanganku, dan memaksaku mengenggamnya

 “makasih bu…” lirihku.

Dan si ibu membalas dengan senyum ringkas, sambil beranjak pergi turun dari kereta.Aku masih terdiam, kudapati diriku masih kalah dan menjadi seseorang yang bukan siapa-siapa hingga akhir babak dongeng ini.Saat hendak turun dari kereta, aku baru sadar aku bahkan tak tahu siapa nama ibu itu dan dimana alamat rumahnya dikota ini atau dibandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s