Strefoam dan wadah nasi


Didekat tempat tinggal saya saat ini ada sebuah warung makan dengan menu super duper enak dan selalu ramai oleh pembeli. Tapi diwarungnya ga nyediain tempat makan, jadi kalo beli makanan mesti dibungkus.Saat sahur hari pertama saya beli makan diwarung itu dan kaget karena pembelinya rame banget, sampe mesti antri segala.Dan ternyata begitu selalu setiap sahur besok-besoknya.Saat antri mengantri ini, saya “realize something”, saya baru nyadar (tidak dalam makna kata sebenarnya) betapa komunitas mahasiswa itu memang gede banget jumlahnya.Saya membayangkan segerombolan umat manusia dengan pola hidup yang hampir dapat di sama-rata kan dan jumlahnya yang seabreg-abreg.Asumsi 80% anak kampus ini tinggal dikos, dan 70% dari jumlah itu tidak mau repot-repot untuk masak dan berapa yang menggunakan bungkusan untuk membekal makanannya?( angka2 diatas adalah angka2 tidak akurat yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan).

Balik ke warung makan yang super duper enak tadi,(sedihnya) memilih sterefoam untuk membungkus makanan. Memang praktis sih,tapi, ya olohhhhhh…Saya membayangkan jumlah sampah yang dihasilakan satu warung makan ini tiap harinya.Baru di satu tempat makan, belum ditempat makan lain. (Ga semuanya pake strefoam, tapi ya tetap aja sampah).Dengan angka yang saya bilang diatas, saya membayangkan  berapa banyak jumlah sampah yang dihasilkan sekumpulan manusia berpendidikan tinggi disekitaran kampus ini tiap kali waktu makan .

Makanya saya dan teman biasanya bawa piring atau tempat bekal untuk mengambil makanan (Otak saya menghasilkan visualisasi tentang racun-racun yang dihasilkan strefoam tiap kali melihat sterefoam, serius deh).Dan orang-orang sering sekali ngelihat aneh kearah kami yang bawa-bawa piring (padahal yang aneh kan bukan kami).Yah saya rela-rela aja dilihat aneh,sedikit berharap ada yang mulai kepikiran untuk bawa wadah sendiri dari rumah.tapi tampaknya sampai hari ke-17 puasa ini, kami masih hanya menjadi dua orang aneh yang tidak perlu diikutin.

Sungguh deh, saya heran.Kan bawa wadah sendiri untuk makan ga susah,toh kost-kostannya paling ga nyampe 3 menit jalan kaki dari si warung makan.heuheu.Saya pikir ini masalah kecil yang bisa dilogikakan dan dipikirkan semua orang. Tapi tampaknya mengerjakan tugas-tugas kuliah jauh lebih mudah daripada berusaha mengurangi sampah yang dihasilkan.

Ya begitulah.at least, mungkin yang paling mudah kita lakukan berhenti menggerutu melihat pemandangan tak enak setumpuk sampah di dekat salah satu bagian kampus ini,toh itu kan sampah kita.

p.s :
Correct me if i’m wrong, masih kaleng2 awak kakak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s