Ketika Para Wanita Berkumpul – Gede.Mt (4)

Dikota, 2 hari waktu yang terlalu singkat untuk dekat dengan seseorang.Tapi seseorang bisa jadi sahabat anda seumur hidup hanya dengan 2 hari perjalanan bersama digunung.Karena 2 hari digunung berarti privat time bersama teman-teman seperjalanan.Anda bisa berbagi cerita banyak sekali.tanpa interupsi dan tidak dibatasi waktu.Dan itulah yang kami lakukan selama 2 hari perjalanan itu,berbagi cerita.

Dan tentu saja, karena 4 dari 10 peserta adalah wanita yang menjalani hidup sebagai ibu, 5 lainnya adalah pemudi kinyis-kinyis 20 tahun-an, dan satu lagi adalah happy tod yang belum banyak perbendaharaan katanya,jadilah hot topic percakapannya adalah seputar kehidupan wanita.dari yang layak tampil sampai yang tidak lulus sensor.hoho.

dan tebak apa yang paling menarik perhatian?
adalah tentang menjalani kehidupan sebagai ibu muda. pemudi kinyis2 dengan rasa penasaran tinggi akan kehidupan wanita dewasa. *membekal ilmu,haha*

Dimulai ketika jam istirahat makan siang, si cici bertingkah yang membuat semua orang gemas dan tertawa.(oh come on, how came we doesn’t love hapy cici??)

saya : “ah mbak, aku mau dong,cicinya buat aku aja yaaa”

mbak May : “oh, ya udah, ambil aja, sampe 4,5 tahun yaaaa,tolong dirawatin”

tentengtengteng.

dan mbak H : “iya, baby emang lucu banget sih, apalagi kalo bukan punya kita”

ibu-ibu tertawa dan kami pemudi kinyis2 juga tertawa. Cukup ngerti, walo belum pernah ngerasain.membayangkan bagaimana ribetnya kehidupan seorang ibu.

lalu mbak H celetuk lagi,

“jadi ya adik2ku, kalo ada iklan susu yang memperlihatkan bagaimana seorang ibu dengan penampilan cantik, menyusui anaknya dengan bahagia.itu bohong,jadi jangan ketipu.. dijamin,apalagi 3 bulan pertama itu,waktu kalian habis buat anak,ga akan sempet deh mikir dandan.orang bangun tidur aja bukannya mandi malah nyusuin anak dulu”

semua orang tersenyum2. (aduh mamih,seperti itu jugakah dahulunya daku menyusahkanmu?).

Jadi seperti itulah kelanjutannya,4 ibu-ibu bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka selama menyusui.

Bercerita bagaimana waktu mereka berlalu cepat.semua aktivitas pribadi : makan,mandi sholat,ganti baju,dll dilakukan dengan cepat sebelum si kecil menangis lagi.

Dan si saya juga baru tahu, kalau ternyata memberikan ASI itu juga demi kepentingan si Ibu.karena biasanya jika terlalu lama tidak menyusui,payudara si Ibu akan membengkak dan mengeras, yang ini malah bikin sibu kesakitan.(wowwow).
Jika lebih lama lagi, payudara bisa mengeras seperti batu dan sakit sekali jika disentuh, saya lupa penyakit yang namanya .. (dan saya baru tahuuuu)

“trus kalo bekerja gimana ngasih asi ekslusifnya mbak?”
“kan ASI bisa disimpen dibotol, kalo disimpen dikulkas bisa 2 sampe 3 minggu.ga begitu berpengaruh kok terhadap gizinya, walau yang paling bagus emang dikasih langsung”

*si saya langsung berimaginasi ibu yang sedang memompa asinya ke sebuah wadah (ups,stop,hihi.)*

“kalo listrik mati gimana mbakkk?”
“itu tuh,paling bikin sebel,susu gua rusak”

Lalu Ibu-ibu bercerita lagi bagaimana ketika si bayi mogok makan, sakit,bla bla bla.

Saya tahu kalo jadi Ibu bukan hal gampang,tapi saya baru sekarang mendengarkan 4 ibu-ibu berbagi cerita tentang kehidupan mereka menjaga bayi.haha.Tapi diatas segala kerepotan itu, mereka teramat mencintai anak-anaknya.merindukan anak yang ditinggal gara-gara naik gunung.haha.

Ujung-ujungnya setelah mendengar cerita-cerita smbak2, si saya langsung merasa bersalah sama si mamih.Membayangkan bagaimana ketika memiliki anak, seorang Ibu tidak akan lagi punya waktu untuk pribadinya karena seluruh waktunya dicurahkan untuk sang anak. membayangkan kerepotan yang saya kasih ke si Ibu (katanya waktu kecil dulu saya ekstra ngerepotin,hwaaa).Tiba-tiba inget kemarin saya ga ngewaro telepon si mamih karena lagi super capek dan lagi males dinasehatin ini itu. (malin kundang sekaliiiii).

Kalo melihat bagaimana perjuangan Ibu-ibu ini merawat anak, membuang ambisi-ambisi pribadi,mendedikasikan hidup mereka untuk sang anak,lalu saya pikir wajar2 aja orang tua bisa menjadi sedikit posessif sama anaknya.kadang-kadang menganggap anaknya masih kecil dan tidak sanggup merawat diri sendiri. (mamah, maaf yaaa).

Lalu ada lagi hal lain yang bikin saya penasaran,karena sebagian besar diantara ibu-ibu ini adalah ibu bekerja, saya jadi penasaran apakah mereka menggunakan jasa baby sitter untuk merawat si bayi.Dan ternyata mbak H,mbak may, dan mbak Maya ga pake baby sitter (saya lupa nanya sama mbak Citra)

Wow, bikin kagum sekali.Alasan mereka hampir sama, karena ga mau anaknya lebih dekat sama baby sitter daripada sama orang tua.(sepertinya jadi orang tua itu memang butuh komitmen yang tinggi yah?karena itu seumur hidup.)

Mbah Maya ga pake jasa perawat karena akhirnya pindah tinggal bersama orang tua, jadi ada yang membantu merawat.

Mbah May, memilih menggunakan jasa day care(semacam penitipan anak) yang disediakan kantornya.jadi dia masih bisa mengunjungi Cici disela-sela waktu luangnya.

Lain lagi untuk mbak H.Mbak yang satu ini memiliki kesan lebih tersendiri buat saya, karena dia merawat anaknya all by her self.Dia meninggalkan pekerjaannya setelah punya baby dan memutuskan jadi ibu rumah tangga sambil jualan online.Alasannya karena sang suami juga bekerja di lapangan, dan akhirnya memutuskan tinggal dirumah karena tidak mau anaknya kekurangan perhatian.Applause saya buat mbak saya yang satu ini.(jarang sekali rasanya melihat anak ITB yang memutuskan jadi ibu rumah tangga karena terlalu biasa berkerja)

Jadi begitulah beberapa obrolan selama perjalanan.Banyak sekali memberi pengetahuan baru buat saya.Tapi karena banyak yang tidak lulus sensor, jadi tidak semuanya saya tulis.hoho.

Soal menikah dan menjadi orang tua, wah,selalu menjadi obrolan yang rame, bisa panjang ceritanya.apalagi dimahasiswa-mahasiwa tahun akhir perkuliahan yang dipaksa mempersiapkan hidup tahap selanjutnya.Teman-teman saya beragam sekali pandangannya soal hal ini.

Ada yang ga mau mikirin

 (“biarin aja..kalo udah waktunya ntar juga datang kok”)

Ada yang begitu ingin menikah segera setelah lulus

(
“mau ngapain habis lulus?”,
“mau nikahh”*dengan nada yang sama dengan nada bilang pengen makan pizza*,
“oh.”
)

Ada yang memilih untuk tidak menikah karena tidak mau terikat dan mencintai kebebasan

(“kalo ujung2nya ga bahagia,buat apa?”)

Ada yang tidak mau menikah karena merasa peradaban tidak lagi kondusif untuk membesarkan anak

(“7 miliyar cuy, udah kelewat padat ini bumi”)

Ada juga yang ingin menikah segera karena alasan agama.

(“anak itu pintu masuk surga”)

blablabla.

apapun deh pilihannya.hidup tetap tentang komitmen pribadi.
tarik-menarik,sebab-akibat,dinamika.
just choose your way,like what you want to live your life, and commit with it. we all deserve to be happy.:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s