Baduy (1) – menuntaskan rasa ingin tahu

Lojor heunteu beunang dipotong
pèndèk heunteu beunang disambung

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Alasan utama yang biasanya membuat saya penasaran mengunjungi sebuah daerah yaitu Landscape yang mengagumkan , atau daerah dengan budaya masyarakat  yang unik.

Rasa penasaran saya untuk mengunjungi Baduy karena suku ini terkenal memiliki budaya yang unik.Saya mendapatkan rekomendasi bagus dari 2 teman yang telah mengunjungi tempat ini.

Dan akhirnya setelah sekian lama penasaran berangkat juga si saya ke sana tanggal 9 Juni kemarin.Bersama dian (Kriya Tekstil ITB ’09) dan 2 orang teman lama dari palafne Jogja (organisasi pencinta  alamnya D3 ekonomi UGM) yang sedang melancong ke Bandung  wanto dan somad.

Meeting point kami stasiun Tanah Abang Jakarta pukul 07.00.Dari stasiun ini biasanya ada kereta ekonomi Rangkas Jaya tujuan Rangkas Bitung (kota terdekat dari desa Baduy) yang berangkat tiap 3 jam.Dan kereta ekonomi selalu menjadi dewa bagi para traveller pas2an,harga tiketnya cuma 4000 rupiah saja untuk perjalanan kereta hampir 2 jam.Kami naik kereta dengan jam keberangkatan 08.00.

Jam 10 sampai distasiun rangkas bitung,diberi petunjuk sama pak petugas, naek angkot ke terminal,sekitar 15 menit perjalanan dengan ongkos 3ribu rupiah.Di terminal naik bis ke Ciboleger (Desa terluar dari Baduy) dengan biaya sebesar 12 ribu. Normalnya Rangkas Bitung-Ciboleger ditempuh sekita 1,5 jam perjalanan.tapi karena banyak ngetem dan berhenti, kami baru sampai di Ciboleger 3 jam kemudian.

Di mobil ada Ibu-ibu yang nawarin guide, adeknya si Ibu.

“daripada nyari guide sendiri disana, ntar dimahalin…”

Tapi ternyata sama adek si Ibu pun,harga yang ditawarkan 400ribu untuk 2 hari perjalanan hingga ke Cibeo , desa baduy dalam.wew.mahalll.kami membatalkan menggunakan jasa adek si ibu.

Informasi dari teman, biasanya ada orang baduy dalam yang kebetulan sedang berada diluar mau jadi guide orang yang ingin kedesa mereka, dan biasanya menawari tempat mereka untuk menginap malam harinya, dengan bayaran  suka rela.Dengan asumsi itu, kami menuju ke tempat izin masuk. Dan benar saja, diperjalanan ada seorang penduduk dalam Cibeo yang menghampiri kami.Dan menawarkan menemani diperjalanan, kebetulan dia dalam perjalanan balik.Horayyy.Sang penduduk memperkenalkan diri dengan nama Juli,dia menggunakan pakaian putih dan tidak menggunakan alas kaki.

Orang Kanekes atau yang dikenal dengan orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi diri dari dunia luar.Perbedaan cara hidup ini menjadikan mereka unik.Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia modern dan menjaga cara hidup tradisional tersebut.

Wilayah Baduy sendiri terdiri atas 54 desa, 3 diantaranya adalah desa baduy dalam yaitu : Cibeo , Cikertawana, dan Cikeusik (yang paling jauh).sisanya dikenal sebagai desa baduy luar.Desa Baduy terluar yang berbatasan dengan Ciboleger dikenal dengan desa Kanekes.

Baduy dalam memiliki beberapa perbedaan dengan baduy luar dalam hal kebiasaan hidup. Baduy dalam terkenal lebih ketat dalam hal menjaga adatnya mereka. Tetapi mereka masih membolehkan orang luar datang berkunjung. Tetapi tidak boleh orang asing (Non Indonesia).

Ada beberapa peraturan yang harus dibaca oleh pendatang yang ingin berkunjung ke desa ini, dapat dibaca ditempat perizinan.Aturan bagi pendatang antara lain larangan membawa tape atau radio, tidak membawa gitar, tidak membawa senapan angin, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak meninggalkan api di hutan, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.

Dipintu perizinan,Kami membayar uang 10ribu  ber-4 untuk biaya izin masuk.

Dari kanekes, jalan kaki sekitar 3 jam untuk menuju Desa Cibeo Dengan track naik turun bukit.Berangkat dari Ciboleger pukul 2.

Dan ini adalah pengalaman : jangan membandingkan fisik dengan masyarakat asli.Juli menemani kami dengan berjalan didepan terlihat pelan dan santai walau tidak menggunakan alas kaki, dan nyaris tidak berkeringat. sementara kami dibelakang terengah-engah menyamakan langkah.

Ada sebuah sungai yang merupakan perbatasan antara baduy dalam dan baduy luar, disini kita tidak boleh lagi menggunakan kamera dan diminta mematikan handpone (walaupun memang sudah tidak ada sinyal sejak setengah jam perjalanan awal).

Sekitar jam 5 kami sampai di Cibeo. Dan kami menghabiskan waktu hingga magrib datang disungai pinggir desa, sungai dangkal dengan air yang bening.Segar sekali setelah 3 jam berkeringat.Setelah sekian lama rasa penasaran dan akhirnya hari itu saya berada didesa Baduy.Memperhatikan suasananya dan mencari-cari daya tarik apa saja yang dimilikinya.

~to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s