Dieng Plateau (Part3- Peradaban Ribuan Tahun)

sisa peradaban ribuan tahun
berdiri kokoh tegak anggun
saat yang lain  lapuk oleh hujan
hancur tertimbun
diamuk alam atau dibinasakan peradaban lain

bagaimana bisa?
“masyarakat ku mulai belajar mencintaiku dan alam enggan padaku” Konon Dieng adalah pusat spiritual dipulau Jawa zaman dahulu kala, pusat peradaban kerajaan Kalingga yang berkembang pada abad ke-8 masehi. Salah satu kerajaan Hindu terbesar di Indonesia .Sisa-sisa kejayaannya masih diwajantahkan oleh candi-candi batu kokoh nan cantik yang tersebar dibeberapa titik didaerah ini. Tidak terlalu banyak memang yang tersisa, sebagian besar diantaranya hancur karena musibah alam, tetapi dari apa yang masih tersisa saat inipun kita dapat membayangkan kejayaan macam apa yang dimiliki daerah ini dimasa lampaunya.

Dan saya ternyata salah paham, karena negara bekas kerajaan Hindu dan masih kuatnya kepercayaan masyarakat  terhadap benda,saya pikir masyarakat sekitar daerah sini masih penganut Ajaran Hindu, dan saat saya tanyakan kepada mas Rovik, dia tertawa

“wah, alhamdulillah, masyarakat sini mayoritasnya penganut Islam mbak”

Oh,stupid me.1200 tahun.bukan waktu yang sebentar untuk sebuah perubahan besar.

Tapi hari itu kami hanya mengunjungi 2 buah candi.candi Bima, dan candi Arjuna.

Candi Bima adalah candi tunggal yang terletak di pintu masuk kawah sikidang.Saya dan kakak mengunjungi candi ini sementara mas Rovik dan abang solat jumat. Jadi tidak terlalu banyak cerita sejarah yang saya dapat tentang candi ini.
Hanya mengamati relief-relief yang terpahat dibatu-batu tua itu.Dan setelah beberapa menit mengamati dengan konsentrasi penuh, berharap bisa mempelajari pengetahuan yang tergores dibatu-batu itu, saya putuskan percuma karena saya tidak mengerti sama sekali. akhirnya yang saya lakukan hanya menikmati keindahan arsitektur sicandi dengan background langit biru cerah,lalu mengambil beberapa foto.

Sayang sekali ada beberapa bekas coretan dan tulisan yang dibuat dengan cat di dinding-dinding candi. Sedihnya.

Begitu solat jumat selesai, mas Rovik kembali menemani kami.Perjalanan dilanjutkan menuju candi Arjuna.

Ada candi tunggal yang letaknya berdekatan dengan komplek candi Arjuna, yaitu candi Gatot Kaca, tetapi kami tidak mengunjunginya.

Kami langsung menuju kompleks candi arjuna, mas rovik mungkin sedikit lelah, dan memutuskan menunggu dihalaman parkir sementara kami mengelilingi kompleks candi arjuna.

sedikit sayang, karena akhirnya lagi-lagi yang bisa saya lakukan hanya menikmati arsitektur dan view candi yang dilatarbelakangi barisan pegunungan di dieng.

Kompleks ini sangat terawat.Untuk menuju kekompleks ada jalan kecil untuk berjalan kaki yang dibangun dari paving blok, dikanan kirinya ditanami bunga-bunga cantik dan ada beberapa papan himbauan untuk merawat candi.Dikompleks ini terdapat 4 candi yang tersusun rapi dalam satu garis lurus.Simpel, tapi menarik.

Saat berkeliling, secara kebetulan saya berdiri si suatu titik dimana saya bisa melihat 2 candi dan diantara 2 buah candi itu terlihat mesjid dikejauhan. Pemandangan ini membuat saya tersenyum, ah, objek foto yang sangat menarik.sayang sekali saya tidak membawa kamera dengan kapasitas yang cukup bagus untuk mengabadikan pemandangan ini.

Sedikit pengetahuan tentang peradaban dahulu berkembang didaerah ini saya dapat di museum Dieng Kailasa, seorang petugas menemani kami berkeliling dan memberi penjelasan.

Isi museum ini seperti arca-arca dewa-dewi, patung,dan prasasti yang diyakini sebagai sisa peradaban kalingga. Ada juga beberapa dokumentasi keadaan kehidupan masyarakat dieng saat ini berupa artikel , foto, dan beberapa display lainnya.Museum ini juga memiliki ruang teater.Kami sempat menonton film pendek durasi 8 menit berupa dokumentasi daerah dieng.Dari film tersebut saya mengetahui bahwa bentuk candi tunggal yang simpel adalah ciri khas dari arsitektur yang sedang berkembang di india pada tahun yang berdekatan dengan berdirinya kerajaan kalingga.

Mas yang menemani kami bercerita kalau bangunan museum ini baru didirikan tahun 2008.Dulu, sebelum bangunan ini didirikan, arca-arca dihalaman, dan seringkali terjadi upaya pencurian.

Melihat museum dengan dokumentasi yang rapi yang memiliki ruang teater, masyarakat yang ramah, dan beberapa hal lain yang saya amati membuat saya menarik kesimpulan konsep pariwisata daerah sini cukup terstruktur dan rapi.

Dari museum kami istirahat sebentar mencari makan siang.

Sambil makan, mas Rovik bercerita beberapa hal tentang sisa-sisa peninggalan itu.
Banyak sekali kasus-kasus pencurian tetapi untuk sekarang  penindakan hukumnya sudah sangat tegas. Ada seorang warga yang harus dipenjara selama 35 tahun karena ketahuan menjual sebuah arca seharga 50 juta ke seorang warga belanda.

“untuk warga yang menemukan arca dapat imbalan ga mas?” iseng saya bertanya.

“enggak, makanya warga kalau menemukan benda-benda peninggalan kadang suka menimbun kembali ketanah” jawab mas rovik

oh.

walaupun tidak banyak mengerti tentang pengetahuan apa yang terkandung didalam peninggalan-peninggalan sejarah ribuan tahun itu,
ketika berdiri didepan candi-candi itu, menyentuhnya dan memperhatikan tiap ukiran yang dipahatkan , tanpa sadar muncul rasa kagum saya akan kehidupan 1200 tahun silam yang buktinya masih berdiri kokoh saat ini.1200 tahun lalu ketika teknologi-teknologi canggih belum berkembang, mereka sudah berhasil menemukan teknik membuat bangunan yang bisa bertahan ribuan tahun.
Saya membayangkan sebuah peradaban dengan kebudayaannya yang tumbuh, berkembang, mencapai kejayaannya, lalu punah entah oleh amukan alam atau karena serangan dari manusia lain, lalu muncul lagi dengan peradaban baru, tetapi sisa peradaban itu masih berdiri mengingatkan kita tentang betapa dunia sudah berkembang dari ribuan tahun lalu dan terus akan berubah kedepan.

Saya tidak pernah tinggal di kampung asal leluhur saya, tidak begitu banyak tau tentang sejarah leluhur. Beberapa kali pindah rumah dan pindah daerah, saya dibesarkan dalam keluarga yang terlepas dari ikatan adat dan tidak banyak terpengaruh oleh struktur dan aturan masyarakat,mungkin karena itu saya tidak memiliki ikatan rasa yang terlalu kuat terhadap adat atau garis keturunan kecuali keluarga inti saya,atau sebuah daerah.

Karenanya saya menyimpan kekaguman terhadap masyarakat dengan keterikatan yang kuat dengan masa lampau dan kesadaran yang tinggi untuk mempertahankan keaslian daerahnya, seperti masyarakat daerah dieng ini.

“mas, emang ga ada villa yah didaerah sini?”dan saya bertanya lagi.

“oh, enggak, udah beberapa kali ada yang minta izin bangun villa, tapi ga dikasih izin, takutnya bawa pengaruh buruk”

satu pandangan positif lagi.

ah,saya tertarik sekali.Banyak hal menarik tentang daerah sini dan masyarakatnya.
Peradaban ribuan tahun tidak mungkin bisa benar-benar dikenali hanya dengan satu hari berada disana.Jadi saya membuat janji dengan diri saya untuk kembali lagi kesana untuk jangka waktu yang lebih lama.

~bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s