Eco Green Campus

Greenlife, salah satu perkembangan trend kemahasiswaan dikampus ini yang menarik untuk disoroti.Punten sadayana, saya mau bersotoy2 ria :D.Tentang aksi Lingkungan hidup.

Kampus ITB  sudah launching menjadi Eco Green Campus. Banyak perubahan-perubahan di kampus ini yang sepertinya terkait dengan konsep ini. Officially, dari pihak kampus seperti mengganti lampu ditempat-tempat terbuka dikampus diganti menjadi lampu solarcell, penyediaan sepeda untuk transportasi dikampus,dan kalau memperhatikan,sering sekali diadakan seminar terkait efisiensi energi, environment, dll.

Dulu pernah juga himbauan untuk tidak menggunakan sterefoam untuk acara-acara dikampus, hiasan,atau bungkus makanan.Beberapa asisten dan dosen yang sudah memahami melakukan beberapa aplikasi,  seperti penggunaan reuse untuk laporan dan tugas atau mungkin cuma email saja.Prinsipnya, ubah pola hidup,ubah kebiasaan.being Green.

Selain green life,sebenarnya ada banyak lagi varian aksi yang tujuannya sama, aksi penyelamatan lingkungan,Secara general, aksi ini diklasifikasikan berdasar objeknya. Manusia atau Alam.Green life, adalah contoh aksi yang menjadikan manusia sebagai objek perubahannya. Dengan pendapat gaya hidup manusia memiliki andil yang besar dalam kestabilan lingkungan hidup, fokus aksi ini adalah mengubah gaya hidup manusia agar lebih “ramah” terhadap lingkungan.Untuk aksi yang menjadikan alam sebagai objek perubahan, contoh yang saya tahu seperti Konservasi wilayah,atau penangkaran spesies langka, atau penyelamatan lahan kritis, (iya ga sih?hoho.Sepertinya ada teori2 ilmiahnya tentang ini,mungkin bisa ditanyakan sama anak2 Biologi ekologi,saya ga ngerti,T.T)

Aksi yang pertama mungkin lebih gampang diaplikasiin, bisa diintegrasikan dalam kesibukan sehari-hari kita, tapi untuk aksi yang kedua, butuh dedikasi total (mungkin karena itu kebanyakan orang yang melakukan aksi ini adalah orang dengan bidang keilmuan terkait, seperti Biologi).

Cuma sedikit yang saya ketahui.Punten ah, saya ga punya cukup ilmu untuk membahasnya secara ilmiah. Mencoba berbagi pemikiran tentang konflik pribadi saya terkait tentang lingkungan hidup ini. Fokus dalam bidang keilmuan yang saya pelajari adalah teknologi,yang katanya dianggap salah satu sumber penyebab permasalahan lingkungan hidup.karena penemuan2 dan pengembangan teknologi yang ada sekarang jarang sekali mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sekita. Sementara,  saya terlibat dan berada diorganisasi yang basisnya adalah lingkungan hidup yang meminta saya berkomitment total, menjadikan pengabdian kepada lingkungan hidup sebagai sebagai dedikasi.

Pada saat saya masih dalam proses kaderisasi di organisasi, untuk meningkatkan kepedulian, oleh para senior saya dan teman-teman sering dikumpulkan dalam diskusi2 tentang “lingkungan Hidup”. Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui permasalahan yang ada adalah dengan menabrakan kepentingan sebagai seorang engineer dan keilmuan yang dipelajari, manusia yang harus memenuhi kebutuhannya, dan kepedulian terhadap pelestarian Lingkungan.Kemudian saya dan teman-teman disuruh menemukan solusi. Ngobrol ngalor ngidul dan setelah berjam-jam lempar2an pendapat, kami menemukan solusi,tapi masih diatas kertas.

Tapi kenyataannya, aplikasinya dalam keilmuan, tidak semudah itu.Kenapa yah?

Lalu saya pikir, mungkin, karena kami tidak memiliki fondasi keilmuan yang kuat tentang lingkungan hidup itu sendiri.Pengetahuan yang ada sekarang hanya hasil rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman yang tidak seberapa dan hasil mempelajari literatur (yang juga tidak terlalu sering dilakukan).Jadinya, ilmu yang “katung”.Pengetahuan yang mengambang seperti ini, tentu tidak banyak berpengaruh terhadap apa yang nantinya kami lakukan (dalam bidang keilmuan sendiri).Gimana dengan orang yang sama sekali ga peduli dan ga mau mempelajari lingkungan hidup dong?Adakah pertimbangan untuk lingkungan hidup dalam gaya kehidupan yang mereka jalani?

Dikampus ITB, sebenarnya udah ada 3 sks mata kuliah wajib tentang lingkungan. Tapi , lepas dari 3 sks tadi, tidak ada lagi kuliah yang menyinggung2 soal pelestarian lingkungan, kecuali memang ada yang mengambil kuliah terkait sebagai kuliah pilihan. Dan sepertinya untuk kebanyakan mahasiswa ilmu 3 sks tentang lingkungan tadi berakhir di selembar transkrip nilai.Syukur2 buat mahasiswa yang aktif dikemahasiswaan dan berpartisipasi dalam aksi lingkungan.Terus mendapatkan nilai-nilai,  Jadi walaupun ga diajarin dikuliah, masih aktif mencari ilmu agar bisa mengaplikasiin nilai lingkungan hidup dalam kehidupannya.

Di jurusan, saya merasa sedikit sekali dosen yang care dan menyinggung permasalahan lingkungan hidup, yang mencoba mengasimilasikannya dengan keilmuan kami.

Point saya disini, mungkin akan lebih berdampak jika ilmu tentang lingkungan hidup diberikan porsi lebih dalam kurikulum pendidikan. Dan jangan mahasiswanya aja, Dosen yang memiliki kesempatan banyak untuk mempengaruhi mahasiswanya mungkin juga perlu belajar nilai2 lingkungan hidup. Lalu mengajarkan pada mahasiswanya. Mungkin dengan begitu nilai2 lingkungan hidup akan menyebar lebih luas ke mahasiswa2 kampus ini. Dan greenlife bukan lagi sekedar jargon, atau aksi-aksi bersama, tapi memang sebuah nilai yang diterapkan semua civitas akademika dalam setiap karyanya, dalam gaya hidupnya,bahkan setelah lulus.Atau bagaimana ya, kalau aturan-aturan ramah lingkungan ini dijadikan aturan resmi dari rektorat, sehingga semua mahasiswa dan dosen wajib mengaplikasikannya. Pelanggarnya dikenakan sanksi. Tidak perlu yang susah-susah, mungkin seperti aturan penggunaan kertas untuk tugas dan laporan. (Karena lingkungan akademis apalagi perguruan tinggi adalah konsumen kertas yang sangat boros).Atau pengelolaan sampah. Atau pembatasan penggunaan kendaraan (haha, cukup radikal). Mungkin ini bisa dijadiin bukti konsistensi akan identitas kampus ini sebagai green-campus.

Saya pikir akan cukup efektif untuk membuat sebuah perubahan gaya hidup.Satu lagi yang menarik perhatian saya masih terkait dengan isu green campus., Tingkat dan gaya hedonisme mahasiswa kampus ini. Sepertinya perlu dikaji juga jika kita ingin menciptakan sebuah komunitas peduli lingkungan. Contoh paradoks yang nyata terlihat, disaat kampus ini ramai dengan isu go green, parkiran kampus ini semakin penuh saja dengan kendaraan setiap tahunnya.Bahkan lahan diluar kampus pun dijadikan parkir untuk kendaraan civitas kampus ini.Loh?

Ya semoga saja isu gogreen ini tak sekedar menjadi latah. Orang-orang rame-rame green life, kita ikut-ikutan green life.tanpa tahu esensi dasarnya. Dan semoga ga cuma teriak-teriak segelintir orang, dan semoga juga ga cuma menjadi trend sesaat

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s