Tour Pantai Selatan

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu pepatahnya buat saya yang kemarin yang lagi pengen2nya jalan2. Initiator perjalanan bang Lontong a.k.a Alfin Mahfuz Daulay (Tambang ‘03). Sang senior yang lagi cuti kerja, datang ke Bandung, lalu ngajakin jalan-jalan : “pucuk dicinta ulam pun tiba”

Awalnya peserta perjalanan 6 orang, tapi 2 orang akhirnya mundur dengan, yang satu tiba-tiba sakit yang satu ada kuliah.Akhirnya peserta yang resmi perjalanan ini jadi 4 orang,saya, bang Lontong, Hery Ramdhani (TI ’07) dan Achsani Takwim (EL ’06).

Tujuan pertama perjalanan Gede Pangrango, tapi pas dibuka situsnya ternyata ge-pang tutup sampai tanggal 31 maret. Akhirnya tujuan diubah ke timur-selatan : Green Canyon dan pantai-pantai di sekitarnya.Perjalanan 3 hari, touring pake motor, cukup menarik lah, walaupun masih tergolong travelling santai.
Berangkat kakak!!!

Day 1 :

Selasa, 1 Maret 2011 Pukul 13.30 berangkat dari Bandung, setelah sebelum mempersiapkan barang logistik Camp dan Alat Masak (Bahan makanan rencananya beli disana). Dan tentu safety procedure number 1 : kamera. Sebagai pemandu perjalanan : GPS dan peta digital

Dari bandung kita menuju garut , lewat jalur normal nagrek. Berhenti sebentar pukul 3 karena hujan, lalu diteruskan ke arah cilawu. Ini bukan jalur utama ke daerah ciamis, tetapi karena menggunakan motor, kita mengambil jalan-jalan kecil. Untuk menghindari mobil-mobil besar, sekalian mencoba daerah-daerah yang belum pernah dilewati. Cilawu itu adalah daerah yang dilewati jalan raya garut-tasikmalaya. Jalannya kecil, dan naik turun, tetapi pemandangannya bagus sekali. Daerahnya dikelilingi perbukitan, sungai dan sawah disepanjang perjalanan. Disini, kita berhenti dulu di Hidayatul Muna.

Hidayatul Muna adalah area peristirahatan, ada Mesjid, saung-saung, dan warung-warung2. Buat yang lewat daerah sini, coba mampir, tempatnya nyaman. Salah satu nama pemilik warung disini adalah kenalan kami, namanya Pak Naya.Beliau penyedia jasa olahraga arung jeram.Banyak berjasa melatih anak-anak KMPA, membagi ilmunya dalam pengarungan sungai dari dahulu (Kalau anak KMPA mengarung di Garut atau sekitarnya, si Bapak selalu menemani). Sekitar 2 jam disini, ngobrol-ngobrol,disajikan kopi, indomie, dan gorengan hangat, dan menolak dibayar kecuali buat rokok (ah Bapak, baiknya..)

Jam 6 kita melanjutkan perjalanan,sampai ke singaparna, setelah polres singarja , kita belok kekanan, menuju ke cikatomas. Sebelumnya sudah diperingatkan pak Naya, jalannya kecil, jelek, dan sepi, tidak direkomendasikan untuk perjalanan malam. Tapi dasar anak muda, makin diperingatkan makin nakal.worst casenya kalo terjadi trouble di perjalanan , langsung buka tenda.Ternyata memang benar, jalannya jelek, berlobang dimana-mana, kecil, dan sepi. Tapi dihantam terus, syukurnya tidak ada hambatan apa-apa. Mungkin kalo perjalanannya siang hari akan lebih enak.

Jam 8, ditengah hutan kita bertemu tempat peristirahatan dan warung-warung. Kita berhenti disebuah warung, ngopi dan rehat sebentar. Lucunya, ditempat sepi seperti ini ada toko baju dan mini market.

Jam 9 perjalanan dilanjutkan, masih sama, kecil dan jelek.Sampai di desa cikatomas jalannya mulai bagus, keliatan baru diperbaiki,. Tapi ternyata cuma kesenangan sesaat, keluar dari desa itu,jalannya jelek lagi.hehe. Jam setengah 12 kita sampai di cijulang lalu melanjutkan perjalanan ke batu karas. Ini adalah pantai terdekat dari green canyon, (+/- 10 menitan). Kelaperan lalu mencari warung buat makan malam (dan cuma ketemu warung Indomie lagi). Disini dikasih informasi sama yang punya warung tempat yang boleh dan enak buat buka tenda. (Kata sibapaknya kalo sehari saja boleh, kalo lebih ga boleh soalnya bisa mematikan pendapatan pengusaha penginapan didaerah ini). Jam 12 kita menemukan spot enak buat nge-camp,buka tenda, lalu beristirahat. (dan tempatnya tepat didepan sebuah penginapan, hehe).


begini kira-kira rute perjalanan kali ini,yang garis merah rute berangkat, dan hijau rute pulang

Day 2 :

Batu karas adalah pantai didaerah teluk.Terletak dipantai selatan,disebelah kiri dan kanannya tertutup tanjung , tidak berhadapan langsung dengan samudera. Jadi, tidak bisa melihat sunrise maupun sunset disini. Tapi karena tertutup, ombaknya kecil-kecil dan tidak ada karang, jadi enak buat berenang.Katanya juga terkenal dikalangan peselancar.Jaraknya sekitar 40 km dari pangandaran  Banyak penyedia jasa olahraga pantai seperti river boat disepanjang pantai.

Pagi, setelah berjalan-jalan disekitar pantai (sayang tidak terlalu banyak pemandangan bagus buat difoto pagi ini), ngopi2, dan pukul 08.30 kami packing.Setelah selesai packing dan aksi foto2 narsis,kami berangkat menuju green canyon.(Untungnya bawa tripod, dan kamera bang lontong dilengkapi remote, hihi,jadi bisa foto narsis bareng-bareng suka-suka.)


camp hari pertama, tetapi tendanya sudah dipacking

FYI :
Green Canyon ( cukang taneuh dalam bahasa sundanya)terletak di desa Cijulang, kalo dari Bandung sekitar 220 km. Tempat ini sudah di kelola menjadi tempat wisata.adalah aliran dari sungai cijulang yang menembus gua, airnya berwarna hijau toska, mungkin dari situ nama green canyon berasal.Untuk mencapai tempat ini berangkat dari dermaga ciseureuh menggunakan perahu yang sudah disediakan. Tarif yang ditetapkan adalah 75.000/ perahu dengan isi maksimal 5 orang, dan waktu yang disediakan 45 menit (pulang-pergi). Jika ingin lebih lama lagi dilokasinya, (kalau misalnya ingin berenang lebih lama dan foto-foto)maka ada tarif tambahan, yang harganya dinegoisasikan dengan bapak perahunya. Saat perjalanan kemarin kami meminta tambahan waktu 2 jam, dan harga yang dikasih 150rb (sayangnya bapaknya ga mau turun harga sama sekali, bahkan sekalipun udah ditawar-tawar pake jurus “pak, kita masih mahasiswa”. Sedikit tips, sebaiknya menawarnya saat masih dipintu masuk, bukan saat sudah sampai dilokasi).

Setelah +/- 15 menit perjalanan perahu, mengarungi sungai lebar 4-5 meter. kami sampai dimulut green canyon. Perahu berhenti sampai sini, perjalanan diteruskan dengan berenang atau merayap dibatu ke arah hulu ,sekitar 300 meter.Dan tentu saja aman, bahkan bagi yang bisa berenang karena disediakan pelampung diperahu.Yang ingin hunting foto, jangan lupa bawa dry-bag. Sayang sekali, kalo tidak bawa kamera untuk mengabadikan keindahan daerah ini.


mulut green canyon

Pemandu mengantarkan kami sampai ke kolam putri. Ada mitos, kalau berenang dikolam ini bisa bikin awet muda, boleh percaya boleh tidak. Airnya memang bening dan segar sekali diminum.Dari sini kami berenang kebawah mengikuti arus


kolam putri

kolam putri

Didekat pintu masuk, ada sebuah spot yang enak dan aman buat loncat ke air, dari sebuah batu (ketinggian sekitar 4-5 meteran). Pemandu menantang kami untuk loncat ke sungai dari sana. Awalnya si saya ga begitu pengen nyoba loncat, tapi setelah sani dan lontong nyobain, penasaran juga, ternyata memang seru sekali. Waktu loncat, nyawanya serasa masih tinggal dibatu, pas jatuh keair lalu menunggu muncul lagi ke permukaan, sensasinya menyenangkan.

Tinggal Heri yang belum loncat. Semua yang nonton teriak nyemangatin. (ada wisatawan lain juga). Heri ambil ancang-ancang,tapi lalu duduk lagi,ngeliat kearah bawah. Sekitar 10 menitan setelah aksi ”ambil ancang2-duduk-liat kebawah-mencoba lag” yang ditontonin oleh banyak orang, akhirnya tetap saja heri tidak jadi loncat. Penonton sebal lalu neriakin (padahal kenal juga enggak,hehe). Setelah sekitar 2 jam-an berenang dan mengeksplor daerah, kami kembali ke perahu. Harga yang sebanding yang dirasakan. Sedikit informasi lagi, buat yang mau ke tempat ini, sebaiknya pada musim panas, karena saat musim hujan tempat ini jadi brown canyon, karena sungainya menjadi keruh kecoklatan.

Perjalanan balik

Pukul 11.30 selesai, istirahat sebentar lalu mengeringkan badan.

Setelah berenang dan tadi padi tidak sarapan, perut kelaparan. Pukul 12.30 mencari tempat makan.

Kami makan di rumah makan tirta bahari, rumah makan seafood dan ikan payau didekat green canyon.

Wah, sangat rekomended lah tempatnya. Makan ber-4 100rb, disajikan ½ kg ikan gurami bakar, ½ ikan nila bakar, cah kangkung, tempe dan tahu goreng,kerupuk dan sambal dengan 3 variasi yang mak nyus sangat, serta minuman botol.Dibandingkan dengan kualitas makanan yang anda dapat dengan harga segitu dikota, jauh sekali puasnya.Ditambah dengan suasana green canyon yang sangat adem. Cukup mahal memang dibandingkan dengan harga makan sehari-hari mahasiswa, tetapi karena yang bayarin bang lontong, kita senang-senang saja.hehe..

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan kearah pangandaran, kami mampir dulu ke pantai batu hiu didesa ciliang(14 km dari pangandaran).Di gerbang masuk,kami dikenai biaya administrasi parkir 3rb/motor. Di pantai batu hiu, ada sebuah bukit kecil.Ada tangga buatan menuju keatas bukit dan sebuah patung hiu besar yang sedang menganga dikaki tangganya. Jadi kalau mau naik keatas bukit kita mesti mesti lewat mulut patung hiu ini.lucu sekali.

kaki bukit

Diatas bukit, ada gazebo-gazebo, ayunan, dan musholla.Ujung bukit adalah tebing yang dibawahnya langsung ke laut, dan sudah dipasang pagar sebagai pegaman.Terawat sekali, sangat nyaman dan menyenangkan.Banyak pasangan-pasangan dan beberapa anak-anak yang sedang menikmati sore ketika kita disana.

Juga ada tempat konservasi penyu dipantai ini. Dan ternyata konsevasi penyu ini dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara mandiri. Menarik sekali karena masyarakat didaerah sini ternyata sudah punya kepedulian terhadap lingkungannya.

Telur-telur penyu yang baru dikeluarkan oleh induknya dipinggir pantai diambil lalu dirawat ditempat ini sampai menetas, hingga usia 7 bulan lalu dilepaskan lagi kelaut.Dahulu sebelum ada tempat ini, nelayan atau warga setempat yang menemukan telur penyu biasanya mengambilnya untuk dimakan atau dijual kepasar, tapi sekarang jika ada yang menemukan telur penyu pasti diantarkan ketempat ini. Kegiatan yang pantas dicontoh, ditengah kondisi sekarang dimana penyu sudah termasuk hewan yang terancam punah.

Pukul 17.00, kami meneruskan perjalanan. Sampai di pangandaran, saya dan heri terlebih dahulu mencari pasar untuk belanja bahan masak malam. Pangandaran itu terletak diperbatasan jawa tengah dan jawa barat. Bahasa sehari-hari yang digunakan campuran sunda dan jawa.Untuk orang seperti saya yang sundanya nanggung,pun jawa ga bisa,cara paling aman berinteraksi dengan masyarakat sini pake bahasa nasional. Ada 3 pintu masuk resmi menuju ke pantai pangandaran, kami menggunakan pintu ke-3 yang paling jauh dari pusat kota (10 menitam) dan ga ada yang jaga.Mental-mental gembel memang susah dihilangkan. Jam 18.00, kami menemukan tempat ngecamp. Sayangnya dari sini pun sunsetnya ga kelihatan, ketutupan semenanjung dibarat. Tapi ga jelek-jelek banget, karena hari sedang cerah dan langit sore jingga kekuningan , so beautiful.

Setelah magrib, saya dan heri masak. Setelah makan malam, lontong dan sani ber eksperimen dengan kamera dan lighter, melakukan beberapa percobaan bodoh dengan mode lowspeed, dan saya jadi “dipaksa” jadi model (capek karena disuruh freeze cukup lama berkali-kali).Akhirnya istirahat setelah capek ,tidak kunjung mendapatkan foto yang benar-benar bagus dan baterai kamera sani juga kamera lontong mulai kritis.

Jadi ini pelajaran pagi itu yang kami dapat :

jangan nge camp ditempat terbuka di pinggir pantai. Panasnya itu loh, bikin kering.Jam 8, matahari sudah bersinar dengan cerianya.Herannya Heri masih bisa bertahan di tidur tenda dengan udara sepanas itu.Luar biasa memang kemampuan adaptasinya.Bangunpun karena akhirnya dibangunkan.

Jadi setelah sedikit ngopi dan ngemil kami segera packing.

camp hari ke-2 photo by Alfin M.D

Rute hari ke-3 ini adalah kearah barat,kembali kebandung, dengan target malam kami sudah sampai kembali di Bandung. Tetapi berbeda dengan rute berangkat, untuk mencari suasana beda kami pulang dengan menyisiri pantai selatan.

Pemberhentian pertama kami hari ini adalah pom bensin pangandaran, sekalian bersih-bersih dan ke toilet.

Selagi ngantri di wc,bang lontong ngobrol sama penjaga wcnya dengan bahasa sunda-jawa ala pangandaran. Dalam hati saya ketawa-ketawa aja, Lontong mengangguk-angguk sopan,mengiyakan pembicaraan2 bapaknya, merespons dengan senyum.Biasanya hal ini saya lakukan ketika saya tidak mengerti bahasa lawan bicara.mengangguk sopan dan mengiyakan, berusaha terlihat mengerti.:P.

Perjalanan dilanjutkan, dan kami menyusuri jalan kearah selatan.Sampai desa cijulang, jalannya masih menyenangkan, bersih dan tidak terlalu banyak lobang. Beberapa saat setelah melewati desa , jalanan mulai sepi dan jelek. Mendaki bukit-bukit kecil, berbelok-belok, dan banyak lubang.Sebalnya kalo ketemu truk, berdebu, untung tidak terlalu banyak. Tetapi penderitaan sebanding dengan pemandangan yang dilihat,biru dan hijau dimana-mana. Sesekali kami melewati jembatan-jembatan muara. Sungainya bagus dan indah, hijau dan lebar.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat banyak mobil pengeruk pasir ,jadi saya simpulkan tempat-tempat ini sudah dijadikan lahan pertambangan pasir. ( Tapi legal ga ya?) .

Salah satu pantai yang kami lewati
Photo by Achsani Takwim

Sekitar jam 10.00 motor saya dan heri mengalami sedikit masalah. Jaket saya jatuh,waktu itu sedang tidak saya pakai dan ditaro dipangkuan,lalu nyelip diantara rantai motor. Syukurnya, heri mengendarai motornya ga terlalu kencang, jadi kami ga jatuh. Tapi ada komponen yang patah. Lagi-lagi beruntung,ada bengkel yang ga terlalu jauh dari tempat insiden.Sementara Heri ke bengkel mencari alat, saya nungguin motor dan menghubungi sani dan lontong yang sudah duluan supaya kembali. Kurang dari 1 jam motor selesai diperbaiki, perjalanan dilanjutkan.

Jam 12.30, kami berhenti di karang anyer, sebuah desa dekat pelabuhan untuk makan siang.Sayangnya makanan hari ini ga senikmat kemarin,dan harganya lebih mahal. Tapi ya ga masalah kita juga sih, yang bayarin masih bang lontong..hehe..*mental mahasiswa mendarah daging*


Pelabuhan tempat makan siang Photo by Achsani Takwim

Pukul 14.30 perjalanan dilanjutkan, dari sini jalannya sudah membaik, walau kadang-kadang masih ada juga yang jelek.Kami menyisiri pantai hingga desa cipatujah. Dari cipatujah, sisir pantai selesai, kami belok kearah utara, kearah desa Karang Nunggal.Di sini juga jalannya masih campur sari, kadang bagus , kadang jelek,banyak tikungan dan tanjakan. Tapi landscape yang disajikan alam disini,wew, dangerous beautiful.Melewati hutan dan lembahan-lembahan luas. Sangat hijau, dan karena perjalananan ini menggunakan motor, jadi lebih bisa menikmati udara segar. Apalagi jalanannya cukup sepi, jadi tidak terasa polusi udara.

Sampai di karang nunggal ketemu pertigaan.Sedikit navigasi punten (alias tumpang Tanya sama orang dipinggir jalan) sama bapak2 jual gorengan.Ternyata kekiri maupun kekanan sama2 sampai ke garut. Yang satu lewat jalan normal (jalan profinsi) dan satu lagi lewat jalan pintas (lewat daerah sodong hilir). Dan seperti biasa kami mengambil jalan pintas, walaupun sebelumnya sudah dibilang si bapak kalau jalannya jelek. Dan ternyata, memang sangat jelek.hehe.lebih parah dari sebelumnya, tapi tetap terhibur dengan pemandangan yang disajikan.

Dari sodong hilir diteruskan ke warung peuteuy, lalu diteruskan ke cilawu kembali (seperti jalan berangkat).Kami sampai di Cilawu pukul 17.30 wib, dan mampir lagi ketempat pak naya sekalian menunggu magrib.Dan lagi, disajikan kopi dan gorengan gratis.Dan tentu saja cerita2 yang diselipi dengan nasihat2 tersirat ala pak Naya.

Yang belum pernah kesini, anda harus mencoba sesekali, menikmati senja di Cilawu yang dikelilingi pegunungan.Ditambah udara segar sisa hujan, dan langit jingga yang cerah.Cantik.( Apa saya yang moodnya begitu bagus hari itu sehingga semua hal terlihat indah, atau memang semua hal yang saya lihat hari itu alaminya indah seperti itu ya?)

Pukul 18.30 kami berangkat ke garut kota, sebagai tujuan terakhir dan penutup yang menyenangkan tentu saja : berendam air panas di pemandian Cipanas. Selesai mandi, lalu makan pecel di warung pinggir jalan. Pukul 23.00, kami berangkat ke Bandung dan akhirnya sampai dengan selamat di kampus pukul 00.30 wib. Perjalanan selesai!!!

Diakhir perjalanan,saya teringat nasihat dari seorang kakak:

Jangan lupa diri, selalu sediakan waktu untuk bersyukur sama yang Diatas, atas nikmat kesehatan sehingga masih bisa melakukan kegiatan yang belum tentu semua orang bisa lakukan, atas keindahan dan pengalaman yang belum tentu semua orang bisa rasakan.

Terima Kasih Tuhan.

Terima kasih juga tentu saja kepada bang Lontong a.k.a Alfin Mahfuz Daulay sebagai sponsor utama perjalanan ini (dan maksa-maksa saya bilang makasih secara resmi di fesbuknya, ckck,saya tulis disini saja ya bang, :P), Sani dan Heri sebagai teman perjalanan, bapak2 ibu2 tak dikenal yang udah ngasi petunjuk jalan,dan Pak Naya untuk suguhan makanan dan cerita2 inspirasinya.

Bandung , 6 maret 2011

18.30 wib.

::Indonesia, Dangerous Beautiful

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s