Situ Patenggang-Kawah Putih

Pada minggu keempat April saat kegiatan akademik lagi padat2nya di ITB, tiba-tiba tecetus ide galatuping,(kalo ga salah sih idenya  dari Arfan). Kemudian ditetapkan rute pejalanan kali ini adalah camping di Situ Patenggang di Ciwidey dan besoknya diterusin ke kawah putih.

Tim awal yang rencananya mau ikut itu ,Arfan(sang pencetus ide),Didik, KoKo, Kanya, Mala, Ana, Alam, Irfan,Ria, dan Fusi(Saudara jauhnya Ria).Kalo ada keanehan dari nama-nama diatas, yaitu ga tercantum nama GL.Demi kebaikan nama GL akhirnya saya dan Aldi memutuskan untuk ikut.Karena saya sendiri ada urusan malam harinya, kami menyusul jam setengah empat pagi.

Pelajaran moral yang didapat dari mengendarai motor jam setengah empat pagi dari Bandung ke ciwidey.

1. anda tidak akan kepanasan dan jamuran saat melewati macetnya Kopo disiang hari

2. anda tidak akan mencederai paru-parumu dengan bekerja lebih berat.

Sedikit informasi tentang situ patenggang ya, situ ini berada pada ketinggian sekitar 1600 m dari permukaan laut.Berada di daerah Bandung Selatan kawasan yang menempati luas 150Ha ini dulunya merupakan kawasan cagar alam atau taman nasional, namun pada tahun 1981 telah resmi berubah menjadi sebuah taman wisata. Untuk menikmati objek wisata ini terdapat fasilitas perahu yang bisa disewa untuk mengelilingi sebuah pulau kecil yang berada dibagian tengah danau yang bernama Pulau Sasuka.Fasilitas sarana transportasi air yang disewakan di tempat ini berupa penyewaan perahu dayung, perahu boat dan sepeda air dengan harga yang masih bisa dinegosiasikan dengan pemiliknya. Terdapat pula fasilitas gazebo maupun tempat-tempat duduk tanpa atap yang terbuat dari semen untuk keperluan menikmati panorama sekitar dari tepi danau. Urusan makananpun bukanlah suatu hal yang sulit dikarenakan banyaknya warung penjual makanan yang berderet dekat dengan areal parkir.

Berhubung jalan pagi masih sepi, perjalanan yang biasanya ditempuh 2jam lebih (belum dihitung macetnya) kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Jam 5, kami singgah disebuah Mesjid dekat pintu masuk Situ Patenggang.Subuhan Heula.

Masuk kedaerah Situ Patenggang.Kami melihat situ masih diselubungi kabut, gabungan antara dingin dan sepi terbukti menimbulkan efek mistis tersendiri. Entah karena efek mistis itu, atau kedodolan karena belum tidur semalam , kami ga berhasil menemukan pintu masuk ke Situ yang jelas-jelas udah terlihat didepan mata.Akhirnya sebelum memutuskan untuk terjun melewati tebing kami bertemu seseorang yang kelihatannya penduduk asli.

Percakapannya kira-kira begini :

Aldi : “Pak, punten, jalan masuk ke danau nya lewat mana yah?”

Si Bapak (ga tau namanya ): “o, terus aja , ntar ketemu parkiran masuk kedalam..”

Aldi : “o,, makasi ya pak”..(bersiap-siap mau pergi)

Si Bapak ( Yang masih ga diketahui namanya ): “eh , emangnya dipintu depan ga ada yang jaga yah?”

Aldi : “enggak pak..”

Si Bapak : ”wah, bayar kesini aja nak 10.000, qlo pake tiket mah 15000..”

Saya : “kesini? Ke Bapak ?”( dengan kepolosan yang bodoh)

Si Bapak : “iya neng…” (dengan tampang tak berdosa)

Sialan.. pagi-pagi kena palak bapak-bapak. Dengan modal 10000 kami akhirnya menemukan pintu masuk danau. Karena trauma diminta bayaran lagi, kami ga bertanya ke petugas jaga dimana tempat anak KMPA camping, dan berusaha mencari sendiri disekeliling danau yang masih gelap. Karena ga menemukan tenda anak KMPA, saya mencoba menelpon.Saya mengakhiri usaha menelon setelah 3 kali telpon tidak aktif, 2 kali salah sambung, dan 5 kali ga diangkat.Analisis sementara, sepertinya masih pada tidur.

Dan tepat saja, saat kami berhasil menemukan tenda dan mendekat, kami melihat beberapa tubuh dalam sleeping bag seperti kepompong kedinginan sedang tidur diluar.Kebiasaan anak KMPA: menyia-nyiakan keberadaan tenda dan malah tidur diluar.Karena ga ingin kedatangan saya sia-sia dan Cuma disambut udara pagi Situ Patenggang, saya mengaplikasikan cara membangunkan orang tidur dengan cara yang diajarkan Gugum dan Gemen, berteriak dan bernyanyilah sefals mungkin.Cara terjitu yang saya pelajari hingga saat ini.

Waktunya untuk makan pagi. Kami sarapan dengan sup krim manis asin campuran ayam+jagung, dan roti.Dengan sedikit kreatifitas , kami mengubah menu sarapan dengan roti bakar mentega gula isi supkrim dilumeri saus pedas.Hamburger tanpa beef, penjelasan paling sederhananya.

Dari Ria, saya tau kalau ternyata mereka juga diminta bayaran 5000/orang sebagai admin untuk menginap.Jadi memang untuk dapat masuk ke sana kita harus membayar 5000.  Sekitar jam setengah 9 kami mulai packing.Dan kami menyelesaikan packing disaat yang tepat, saat matahari bersinar dengan hangatnya memantulkan cahaya dibeningnya air situ.Kami berfoto-foto sambil mendengarkan debat antara Alam dan Arfan tentang bagaimana terbentuknya Situ ini dan bagaimana debit airnya bisa naik turun.Sumpah, saintis abis, tapi ga jelas.ITB terlihat berhasil mendidik mahasiswanya.

Saya memilih mendengar Mala bercerita tentang asal muasal Situ Patenggang. Sains sepertinya kurang tepat untuk ketenangan galatuping diakhir minggu.Saya rasa menyediakan sedikit waktu untuk mengagumi ciptaanNya, membuat hari-hari anda berikutnya akan lebih bermakna. Puas berfoto-foto dengan kamera Handpone Ana.(Kamera Kanya baterainya abis dan lagi diCas diwarung dekat sana).

Sebelum pergi , hal yang wajib dilakukan ,sweeping sampah!Peraturan di KMPA : Leave Nothing but FootPrint.Dan fenomena yang biasa ditemukan dtempat-tempat wisata di Indonesia, sampah bekas pengunjung bertebaran dimana-mana.

Aduh, dilema…

Punten yah, sedikit beropini disebuah catatan perjalanan…

(Bagian ini boleh dibaca, boleh ga…)

Ada 2 masalah yang dapat disorot dari fenomena diatas.Yang pertama kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga aset yang dimiliki.Atau mungkin juga kurangnya kesadaran ini disebabkan kurangnya rasa memiliki dari masyarakat sendiri. Masalah yang kedua, saat masyarakat membayar untuk memasuki tempat wisata, itu dianggap adalah bayaran untuk segalannya.Termasuk kebersihan.Tapi ga tau kenapa, ternyata bayaran tiket masuk itu ga cukup buat menjaga sebuah tempat tetap bersih.At least, masih ada tempat wisata yang terawat kok.

Catatan perjalanannya dilanjutin…

Think Globally, Act Locally.Yah, sweeping sampah hasil aktivitas sendiri, dan memungut sampah disekitar semaksimal kemampuan,solusi praktis untuk saat itu.

Perjalanan diteruskan ke Kawah Putih.Jam 10-an.

Perjalanan dipagi hari dan bersama yang lain lebih menyenangkan, karena bentang alam disekitar sekarang terlihat jelas.Gunung yang tadi pagi terlihat seperti bayangan raksasa hitam menampilkan aslinya. Selain gunung dan hutan, kita juga disuguhi pemandangan hamparan kebun teh di sepanjang perjalanan.Dari Situ Patenggang melewati bumi perkemahan RancaUpas, kami sampai di pintu gerbang untuk masuk ke kawah putih.

Dan kita harus membayar 10.000/orang untuk dapat masuk.Perjalanan Galatuping hemat yang direncanakan resmi gagal.Nasib jadi mahasiswa…

Untuk sampai ke kawah putih kita harus mendaki, dan untungnya sudah ada jalan raya yang dibangun untuk mempermudah transportasi.Tapi jalannya lumayan merusak kendaraan.Sedikit perjuangan untuk sampai keatas , pemandangan yang ada mengingatkan saya dengan sebuah cekungan luas yang diisi dengan es vanilla blue cair.Hukum kesetaraan berlaku pada pemandangan yang kami lihat dengan uang 10.000 yang dibayar.Yah, kepuasan memang butuh pengorbanan saudara-saudara.

Dengan tampang kucel belum mandi, pakai carier, dan agak kotor,saya pikir wajar kalo kami terlihat mencolok diantara pengunjung-pengunjung lain.Kami kemudian mencari spot bagus untuk berfoto, dan menggelar matras. Udara dingin dan kawah putih sedikit berkabut.Dan saya sedikit heran bagaimana cewek-cewek (kelihatannya model-model) diseberang sana yang sedang berfoto bisa bertahan dengan pakaian apa-adanya( dibaca : minim).

“aduh mbak, punya ilmu tahan dingin yah?”, pengen bertanya seperti itu, tapi takut di jejalin sama sepatu highheel mereka, hehe…

Well, jam menunjukkan pukul 12 kurang, dan waktunya untuk pergi.Sebenarnya kami mau meneruskan perjalanan ke Pengalengan.Tapi sepertinya kita udah keburu capek dan pengen kembali ke Bandung.

Karena pengen menghindari macet didaerah Kopo, kami memilih pulang lewat Cimahi.Tapi ternyata itu bukan keputusan yang tepat.Tetap saja kami terjebak dalam macet didaerah Cimahi.Bandung, bandung, semakin hari semakin padat.Setelah berpanas-panasan, gerah dan sttres karena macet, kami sampai ke Sel sekitar jam 3.Akhirnya..

Sampai di Sel, kami baru tau kalo Koko kena musibah.Kakinya keserempet knalpot motor waktu didaerah macet tadi.Lumayan besar dan terlihat perih.Oleh-oleh galatuping lah ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s