Indonesia, Journeys, Uncategorized

Trip dadakan ke sungai Gulamo

Saya pertama kali ke Pekanbaru bulan Desember tahun 2014. Waktu itu dalam rangka pulang ke rumah di Solok, tapi naik pesawatnya ke Pekanbaru. Karena diajak pulang bareng oleh si kakak lewat perjalanan darat Pekanbaru-Solok. Saya langsung iyes dong 😀 . Karena belum pernah ke Riau dan belum pernah melihat tempat tinggal kakak selama hampir dua tahun si kakak merantau ke Riau.

Cerita perjalanannya saya tulis di sini : One Day Road Trip Riau – Sumatera Barat

Dan salah satu pemandangan yang paling berkesan oleh saya waktu itu adalah Danau Koto Panjang. Viewnya lumayan dramatis sih kalo dari Pekanbaru, setelah tanjakan dan belokan lalu tiba-tiba dipuncak salah satu bukit ada hamparan danau besar di depan. Tapi bahkan si kakak, setelah dua tahun bolak-balik Pekanbaru-Solok baru sadar ada pemandangan secantik itu diperjalanan

IMG_2903

Danau Koto Panjang Desember 2014

Saya ingat waktu itu nyeletuk, “Ini tempatnya bagus banget loh, mestinya bisa jadi tujuan wisata alam Riau”. In case you haven’t heard, Riau memang terkenal agak minim sih wisata alamnya. Kalo wisata sawitnya, banyak :)). Jadi jangan heran kalau liburan sekolah atau hari kejepit Pekanbaru mendadak kosong kayak lebaran. Warganya berbondong-bondong mengungsi ke provinsi tetangga.

Nah, minggu lalu saya melihat foto yang beredar di timeline fesbuk saya. Pemandangan sungai berbatu yang mirip-mirip green canyon alias cukang taneuh di Jawa Barat.Langsung kepo dan googling tentang lokasinya. Ternyata namanya adalah sungai Gulama, dan lokasinya di Danau Koto Panjang! Tuh kan benar ada yang bagus menunggu dieksplorasi disana. Jiwa bolang saya yang beberapa tahun ini disimpan dalam-dalam langsung muncul. PRnya, nyari teman yang mau diajak kesana.

Pertama coba ngajakin si abang, tapi doi kelihatan ga tertarik.”Paling bagus di foto doang”, katanya. Kesell kannn. Minimal ya ditengok dulu gitu, kalau ga bagus kan jadi tau. Dasar orang tua udah ga punya jiwa petualang.Untungnya, saya punya teman bu aji miche dewi yang kalau diajakin apa-apa langsung ditagih “Yuk, besok?”.Tetapi karena  bu Kiki masih belum balik dari liburan panjangnya, saya masih mesti mencari teman tambahan yang mau diajak, soalnya ga mau jadi obat nyamuk kalo cuma bertiga sama kak sari dan paksu.muahahaha. Karenanya ketika ditagih bu Sari masih bilang, “ntar aja kakkk nunggu kak kiki pulang”  Tapi malam kamis kemarin, tiba-tiba abang nanyain, “jadi ke gulamo ga?”. wowwww. Si abang mendadak baik hati. Katanya kasian lihat adiknya fakir hiburan. wkwk. Langsung malam itu whatsapp bu aji, “ayuk kak ke Gulamo!”.Dan langsung diiyakan.. Saya langsung googling-googling dan menanyakan di whatsapp grup TDA siapa yang punya info menuju kesana. Dari seorang rekanan saya dapat info bahwa untuk menuju ke Gulamo ini, mesti menggunakan perahu melalui kawasan ulu kasok atau puncak mahligai. Kami memulai perjalanan bermodal info ini saja.

Kami berangkat dari Pekanbaru sekitar jam 09.00 dan sampai di gerbang ke puncak ulu kasok jam 11.30. Tapi info dari warga yang ada disekitar, ternyata naiknya dari Jembatan 1 Koto Panjang. Masih sekitar 10 menit perjalanan dari puncak Ulu kasok. Sesampainya di jembatan,  saya tidak melihat ada dermaga atau perahu-perahu yang terlihat tersedia. Jadi saya bertanya lagi ke ibu-ibu warung. Oleh si ibu, Saya langsung ditunjukkan kerumah seorang warga pemilik perahu. Mungkin karena bukan hari libur jadi tidak ada pemilik perahu yang standby langsung. Untung bapak pemilik perahu mau mengantarkan.

Sebelumnya, saya sudah dapat info bahwa perjalanan menuju ke gulamo ini sekitar satu jam dari darat menggunakan perahu. Tapi yang ada dalam pikiran saya waktu itu satu jam bolak-balik aja. Jadi lumayan kaget ketika si bapak bilang, “ini baliknya sore ya”. Karena sebenarnya plan awalnya adalah berangkat jam 7, sampai jam sembilan dan balik jam satu.  Makan siang pun cuma ditambal mie dan ga bawa makanan apa-apa selain air dan rambutan hasil jajan diperjalanan.  Pede banget pokoknya berasa dekat dan kayaknya ga butuh makanan selama di perahu. Tapi karena udah disana yasudah maju terus pantang mundur.

Saya dari awal tidak berencana untuk terjun ke sungai. Tante-tante males rempong, cuma pengen hunting foto ceritanya. Tapi bawa baju ganti, just in case ceritanya. Dan langsung di protes sama kak Sari dan paksu Bang Erwin karena mereka ga diingatkan bawa baju ganti.  Asumsi eike sih karena ke sungai si ibu udah langsung kepikiran bawa baju ganti (Ampun kak, wkwk)

Jam 13.30 kami start dengan perahu menuju sungai Gulamo.

Danau koto panjang

Numpang eksis sosodara

Dannnn seperti yang udah saya bayangkan, pemandangan sepanjang perjalanan memanjakan mata. Pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa danau koto panjang ini dulunya adalah kawasan kampung yang kemudian dialihgunakan menjadi danau buatan penggerak PLTA. Sepanjang danau kita bisa melihat banyak ranting pohon-pohon mati sisa kehidupan daratnya.

Danau Koto Panjang

Setelah 40 menit di perahu, alur danau mulai menyempit dan kita mulai masuk ke kawasan sungai. Dari sini, pemandangannya makin eksotis. Kalau kata bang Erwin, berasa di Amazon.hahaha. Lah ke amazon aja belum pernah. Suasananya tenang juga lebih berasa karena kami cuma pengunjung satu-satunya hari itu. Sekitar 10 menit menyusuri sungai, kami melihat Objek utama dari kawasan Gulamo ini yaitu air terjun gulamo.

Air Terjun Gulamo

Air Terjun Gulamo

Tapi sama si bapak perahu, kami tidak diberhentikan di titik ini dan dibawa terus ke hulu sungai . Pemandangan didepan, memang ga kalah ciamik sih.

img_20190118_144627

Hasil Kamera Hp X*o Mi

whatsapp image 2019-01-19 at 08.41.37

Hasil kamera Canon EOS M

 

Sebenarnya masih penasaran ke arah atasnya lagi, sayangnya itu adalah titik terakhir yang bisa dilewati perahu. Dititik ini, ada “accident” terjadi sedikit.

Untuk mendapatkan foto seperti digambar, kita agak memanjat ke atas batu dari perahu. Awalnya, bang Erwin tidak mau ikut manjat ke atas batu. Tapi dipanggil-panggil sama kak Sari biar bisa ikut foto rame-rame. Sayangnya bang erwin terpleset dan jatuh ke air. . Alhamdulillah ga kenapa-kenapa. Tapi melihat bang Erwin yang udah basah akhirnya malah dijadiin alasan buat kita semua nyebur ke air. :D. Termasuk kak Sari yang bahkan ga bawa baju ganti. “Mari kita pikirkan nanti”, katanya. wkwk. Baiklah bu, masuk angin tanggung jawab sendiri ya.

And it felt sooooo soooo sooooo good. Saya sefakir hiburan itu. Rasanya udah lama sekali ga beraktivitas di alam terbuka sebebas ini (padahal ga lama-lama amat ternyata, bahkan lebaran kemarin masih ke pulau loh wkwkwk).

whatsapp image 2019-01-19 at 08.41.35whatsapp image 2019-01-19 at 08.39.33

 

Sekitar sejam kami disini, lalu kembali naik ke perahu menuju spot berikutnya. Jalurnya menyusuri jalur kembali kedanau tapi berbelok sedikit dari jalur utama ditengah perjalanan. Disana kami menemukan air terjun kedua. Lagi-lagi saya yang rencananya ga mau terjun karena udah mulai kering ikut nyebur karena bu Sari masih pengen nyebur. “Biar sekalian”, katanya.

whatsapp image 2019-01-19 at 08.42.24

Karena udah sore, kami ga terlalu lama berenang di spot ini. Jam empat kami naik ke perahu dan melanjutkan perjalan ke jembatan satu. Begitu sampai di darat, kami langsung bersih-bersih buru-buru karena sudah sangat kelaparan. :D. Kami makan malam di sate ayam kampung kampar ditempat pilihan kak Sari yang enak banget tapi saya lupa nama tempatnya :)). Dari tempat makan, karena menggunakan kendaraan masing-masing kami langsung berpisah dan kembali ke Pekanbaru.

Setelah perjalanan ini saya lalu iseng mencoba mencari info-info daerah-daerah wisata lainnya di Riau. Penasaran.  Pengen ekslorasi lebih provinsi Riau mencari tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Karena kalo tiap butuh yang hijau-hijau saya mesti pulang kampung dulu, kan kadung berkarat 😦 . Hasil dari googling saya, sebenarnya destinasi wisata Riau cukup banyak kok. Cuma kurang tereksplor aja mungkin ya. Karena memang yang lebih populernya, wisata kota dan wisata belanja.

Wishlist saya berikutnya taman nasional Tesso Nilo tapi Cari-cari waktu yang pas dulu ya. Ada yang mau ikut?

Informasi Penting !

  1. Jarak tempuh Pekanbaru-Koto panjang : 100 km (+/- 2,5 jam perjalanan)
  2. Titik perahu : Jembatan I koto panjang
  3. Biaya sewa perahu : 500 ribu/trip (kapasitas maksimal 8 orang)
  4. Lama waktu total diperjalanan : +/- 10 jam
  5. Barang yang mesti disiapkan : Baju ganti, peralatan mandi, kamera, air minum, makanan berat atau cemilan
  6. Best time to visit : weekday biar privat!

 

 

 

 

Advertisements
Standard
Uncategorized

Try Try Try

I try to edit this old draft and not many words are added after that. But after all, I try. so I choose to appreciate myself tonight and promise myself to try another day. Time goes by very fast lately and I work almost in this automatic pilot mode that I can’t track my route back. Sometime I race but I forget why I have to race and that’s not very nice because me without cause so easy to give up.

Standard
Jurnal Saudagar, Uncategorized

Menurunkan batas privasi

Percayalah, menjual furniture tidak sesimpel permasalahan apakah konsumen anda menyukai produk anda atau tidak. Permasalahan paling simpel adalah mencari tahu karakter dan selera pelanggan agar anda bisa memilihkan furniture yang tepat untuk mereka. Tapi, tidak semua orang tahu karakter dan selera mereka. Jadi kadang-kadang saya merangkap profesi sebagai konselor. Kadang-kadang, saya berasa mesti alih profesi jadi wasit antara sepasang insan yang kekeuh dengan pilihannya masing-masing. Yang paling sering juga, mesti bertebal-tebal muka menghadapi bapak-bapak yang udah bete membayangkan duit yang mesti dikeluarkan sementara si istri masih bersemangat memilih-milih barang. Satu tahun jualan saya bikin satu novel drama.

Tidak terlalu berat sebenarnya, jika mood saya sedang baik. Tapi dalam keadaan mood berantakan, rasanya mau balik lagi saja jadi buruh komputer. “Why don’t guys just solve your problem at home and come back when you already have choice?”.  Sejenis itulah.

Karena pada dasarnya saya mudah sekali terpengaruh oleh perubahan sikap dan mood orang disekeliling saya. Jadi gampang merasa tidak nyaman. Dulu waktu bekerja, saya lebih memilih langsung menjaga jarak ketika berada dalam keadaan tidak menyenangkan yang tidak berkaitan dengan saya.  Hemat energi, udah ga muda lagi. Apalagi kalau saya sudah ada tanda-tanda muncul mood destruktif, langsung masuk benteng.

Setelah alih profesi seperti ini, saya terpaksa mentelaah kembali sikap saya ini. Karena jaga jarak jelas bukan pilihan yang bisa saya ambil. Mesti kejar setoran bok. Memaksakan diri rasanya juga seperti bom waktu.

Saya lupa entah kapan mendapatkan ilham.

Am I being too selfish and self oriented? Why would I make everything about me? Saya pikir, mungkin, saya bersikap terlalu egois belakangan. Terlalu menjaga privasi jadinya malah kebablasan. Agak mepet ke sikap tidak mau tahu. Ujung-ujungnya kurang berempati terhadap keadaan orang lain. Mungkin ini yang membuat saya rada kewalahan ketika harus berinteraksi banyak dengan orang lain seperti sekarang. Because I don’t care much about them. Perhaps I don’t want to know much about them. Dan saya lalu menyadari, pilihan sikap saya ini tidak sehat dan ga bisa diteruskan jika saya mau bertahan dalam pekerjaan yang saya jalani saat ini.

Jadi saya memutuskan untuk sedikit menurunkan batas dan membuka diri. Trying to be more care about people even the one I just met and trying to get to know them. So that I could connect to them and make them know that they can trust me. Tujuan utamanya agar saya bisa lebih enjoy menjalani profesi saya ini, tujuan sampingannya biar transaksinya jadi. haha. (ups).

 

Standard
Jurnal Saudagar

Adaptasi Awal

Menjadi mahasiswa teknik lalu menjalani profesi sebagai orang teknik membuat saya terbiasa menjadikan logika sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Mungkin karena saya selalu berada di dalam lingkungan diciptakan dan dikemas sedemikian rupa dengan mengeliminasi sebanyak mungkin parameter-parameter yang tidak dapat dikontrol. Input terukur dan hasilnya selalu dapat diprediksi.

Kenyataannya diluar sini kebanyakan hal-hal tidak berjalan sesuai logika.Dan ini, membuat saya lumayan kewalahan dimasa-masa transisi saya. Saya sering kali menghadapi situasi yang tidak menyenangkan yang menurut logika saya bisa diselesaikan dengan mudah dalam beberapa keputusan. Tapi kenyataannya, ada banyak hal yang tidak dapat saya kontrol diluar sini. Tidak semua orang menerima logika yang saya miliki dan tidak mau menjalankan solusinya. Akhirnya, saya mesti sedikit memutar jalur dengan melakukan beberapa penyesuaian disana dan disini agar permasalahan selesai. Permasalahannya pada akhirnya selesai juga sih, tapi dengan beberapa tindakan yang (menurut logika saya) tidak perlu dilakukan, menghabiskan energi, waktu, dan yang paling utama, biaya.

Jika diawal-awal hal seperti ini selalu bikin saya misuh-misuh, kesini-kesininya saya belajar buat legowo. Bukan menjadi mudah menyerah, tapi lebih cepat move on ketika keadaan tidak sesuai dengan yang saya usahakan, lalu secepat mungkin mencari lain.
Atau kalau memang tidak punya solusi, let things go.

 

 

 

Standard
Uncategorized

Menjadi Tua

Ada salah satu petikan dalam doa yang disunahkan dibaca dalam dzikir pagi yang belakangan selalu membuat saya bergidik setiap membacanya :

  رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ

( Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua)

 

Mungkin karena ini menjadi salah satu ketakutan besar dalam hidup saya belakangan, menjadi tua. Hahaha. Lebay, tapi beneran. Mungkin karena dari semenjak kuliah, rasanya waktu mendadak berjalan cepat sekali. Seminggu, sebulan, setahun, berlalu begitu saja. Keponakan yang baru kemarin digendong-gendong tau-tau udah masuk sd. Tau-tau udah lebih lima tahun lulus kuliah. Tau-tau udah 10 tahun reunian kuliah. Tau-tau udah lebih setahun resign kerja. Dan sederatan tau-tau lainya. Jadi kemungkinan besar (kalau dikasih rejeki umur panjang) menjadi tua akan terjadi dalam waktu sekejap mata.

Diusia yang sudah melewati seperempat abad ini, saya mulai menyaksikan banyak sekali orang-orang yang dulu begitu bertenaga (dan beberapa berkuasa), lalu sekarang menjadi berdaya dan sangat berkegantungan dengan orang lain. Tiap kali mendapati hal ini hati saya rasanya ‘nyes’. Dunia benar-benar berputar. 

Tapi saya juga menyaksikan beberapa orang yang hingga akhir hembusan nafasnya masih berkarya memberikan manfaat bagi orang disekitarnya. Yang energi positifnya menular kemana-mana sehingga membuat orang-orang berpikir darimana beliau mendapatkan energi seperti itu di usia tuanya. Yang kepergiannya benar-benar membuat banyak orang kehilangan.

Kalau ditanya, tentu saja saya mau jadi contoh saya yang kedua. Tapi lalu, bagaimana bisa memastikannya?

Karenanya saya pikir doa tadi menyentuh sekali, memohon rezeki untuk masa tua dalam bentuk terhindar dari kejelekan dan kemalasan, karena memang fitrahnya hari tua memang seperti itu. Dan apa lagi yang bisa membuat kita terhindar dari fitrah seperti itu kecuali belas kasih dan rejeki dari Allah SWT?

 

 

Standard
Jurnal Saudagar, Uncategorized

Mumbling

Saya cukup pede ketika memutuskan untuk memulai Alita Home meskipun belum pernah benar-benar terjun dibisnis furniture. Saya fikir nanti bisa kok belajar sambil jalan, dan kemudian saya merasa masih punya cukup ilmu dasar karena sudah biasa melihat orang bekerja dibengkel dirumah. Tapi ternyata, ya ampun, pengetahuan saya tentang proses produksi dan hal-hal teknis dibelakang layar benar-benar pas-pasan sekali. Dan hal ini terkadang membuat saya frustrasi karena keterbatasan pengetahuan membuat saya sering kali salah mengambil keputusan. Saya ingat sangat gegalapan diawal waktu proses pembangunan karena harus bekerja dilapangan dan berurusan dengan orang-orang lapangan. 3,5 tahun jadi engineer kantoran merubah banyak hal tentang saya. Won’t bother me this much if only wrong decision doesn’t lead to bigger expenses.hahaha. Di masa-masa perjuangan seperti ini, tiap rupiah terasa sangat berarti.

Well, starting new is never easy. Mengingat masa proses saya dahulu diawal-awal berkerja dikantor sebelumnya, juga tidak mudah. Membaca puluhan manual, mengejar-ngejar senior, melakukan kesalahan, dimarahin bos sampai menangis diam-diam. Tapi mungkin dulu karena beban mentalnya beda dan kesalahannya tidak terasa langsung dampaknya, jadi perjalanannya tidak terlalu membekas dalam memori saya.

Tapi tentu saja saya ga ada pilihan. Selain berdoa semoga hati saya dilapangkan dan pikiran saya dijernihkan, biar bisa tetap berjalan maju dengan segala keterbatasan yang ada.

Standard
Uncategorized

Awal Baru (Lagi)

Sekitar dua setengah tahun lalu, disebuah perjalanan, saya memberitahu abang rencana saya, bahwa jika dalam waktu setahun kedepan tidak ada perkembangan yang signifikan dipekerjaan kantor saya, atau saya masih belum mendapatkan kesempatan buat sekolah lagi, saya mau ikut membantu abang mengelola usaha keluarga dirumah. Setahun kemudian, abang menagih ketika saya masih belum mendapatkan kesempatan yang lebih baik dikedua hal tersebut. Saya meminta waktu lebih, masih ingin mengusahakan keinginan saya untuk melanjutkan sekolah. Awal tahun kemarin,si abang menagih saya lagi. Now with kakak, and with new plan. (FYI, kakak itu panggilan saya untuk saudara ketiga saya dan abang panggilan untuk saudara kedua). Mereka menceritakan niat mereka untuk membuat toko di Pekanbaru pengembangan dari usaha yang sudah ada sebelumnya yang dikota kelahiran saya, enam jam perjalanan dari kota Pekanbaru.  Waktu itu statusnya si kakak masih bekerja di duri, sekitar 4 jam perjalanan dari Pekanbaru. They asked me, why don’t I join them. Well, they asked for formality. Actually, They insist that I should join them. Agak sedikit kaget awalnya karena merasa ditodong, dan ini pertama kalinya saudara saya menginterfensi saya untuk sebuah keputusan besar dalam hidup.

Berlatar belakang keluarga pedagang, tentu saja saya memiliki keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Tapi sampai awal tahun lalu, plan saya untuk fulltime berusaha sendiri masih saya taruh ditimeline usia 30-an. Saya masih ingin sekolah dan melanjutkan pendidikan formal saya. Tapi ketika kakak dan abang datang dengan tawaran seperti itu, saya seperti mendapat pilihan baru. Saya mencoba menimbang-nimbang kebaikan dan keburukan dari pilihan tersebut dan konsekuensi jika saya mengambilnya.

Saya tahu ada banyak kebaikan jika saya mengambil pilihan tersebut. Yang paling utama tentu saja adalah pilihan ini akan membuat saya sedikit lebih dekat dengan rumah dan keluarga. Saya menyadari bawa orang tua saya semakin renta setiap kali pulang dan itu membuat saya sedih, semenjak setelah lulus SMA saya tidak pernah lagi berada didekat mereka lebih dari dua minggu. Dan rasanya saya belum bisa berbuat apa-apa buat mereka. Kegalauannya, adalah keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan formal masih begitu kencang, keinginan masa kecil yang terlanjur tertanam dalam hati saya. Dan lagi meninggalkan jalur ilmu yang sudah saya geluti bertahun-tahun, ada semacam perasaan tidak rela.

Saya melewati waktu sebulan setelahnya mencoba mencari-cari tahu tentang apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya. Apa yang benar-benar layak untuk diperjuangkan. Konsekuensi dari setiap keputusan yang saya ambil.  Sebulan kemudian, akhirnya saya memantapkan hati untuk menjawab proposal kakak dan abang, “Ok, I am in”. 

Saya masih melanjutkan pekerjaan dikantor beberapa bulan setelahnya. Tentu saja sambil menyusun rencana dan menyiapkan mental. Saya baru memberanikan diri untuk menyampaikan keputusan saya ini ke teman-teman terdekat pada bulan April. Reaksinya, seperti yang bisa dibayangkan. “Kenapa Faaaa?”, “Yakin Fa?”, “Beneran Fa?”. Hahaha. Tentu saja tidak semuanya begitu. Beberapa orang langsung mendukung ketika saya memberitahu keputusan ini. Tapi meski sudah yakin, Saya mengundurkan rencana resign saya dari pertengahan Juli ke akhir Agustus.  Masih ingin bersenang-senang dengan teman-teman dan menikmati kehidupan saya sebagai pegawai kantoran sedikit lebih lama lagi. Tulisan saya ini sesunguhnya merupakan salah satu bentuk kegalauan saya waktu dalam proses mempersiapkan mental. Tanggal 28 Agustus menjadi hari terakhir saya sebagai pegawai kantoran. Setelah tanggal itu, kehidupan saya berjalan cepat sekali nyaris tidak terasa. Dan sekarang, sudah hampir dua tahun dari semenjak saya mengambil keputusan itu.

Seorang teman bertanya, ” Pernah menyesal ga?”.Tentu saja ada masa-masa dimana saya kangen kehidupan lama saya, dan orang-orang disekelilingnya. I don’t make many new friend in this city which make me a bit lonely at times. Dan ga bohong saya kadang rindu vibrasi dan suasana kehidupan dikota besar.Haha.  Tapi menyesal? Hmmm, tidak. Ini perjalanan luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan akan saya jalani. I have bunch of stories to share. Perhaps later.

Sebenarnya, setiap saya mendengar kabar ada teman yang melanjutkan sekolah lagi perasaan ingin itu muncul lagi. Tapi tidak cukup besar untuk membuat saya menyesali keputusan ini. Saya cuma menyelipkan doa, semoga suatu saat nanti kesempatannya datang lagi untuk saya.

—–

Akhirnya mendokumentasikan kisah awal kehidupan saya sebagai saudagar. Seenggaknya kalau nanti mau bikin autobigraphy udah ada kerangka tulisannya untuk satu chapter :p.

Standard
Uncategorized

Halo

My finger hanging above the keyboard for about five minutes before I could type this one simple sentence. How shameful. Writing become more difficult by time for me. Probably because I don’t read enough lately.  Nowaday it’s very hard to make my brain stay still to finish one book. I keep having this urge to check my social media feed whenever I hold a book.

Anyway, I really think I should getting back this old habbit of writing for the sake of my insanity. So here I am trying to write again after one year. Wish me perseverance!

 

Standard